
Buat sebagian orang mungkin nikah muda adalah musibah karena menjadi tak bebas lagi. Melihat dari pernikahan daddy dan mommy-ku, aku yakin nikah muda bukan beban. Buktinya walau tak ada mommy disisinya, daddy tetap terikat dalam pernikahan dengan mommy tanpa mau mencari kebebasan. ~Novella Moraletta~
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI. JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Daddy pernah bertemu dengan adiknya Mommy saat di Semarang.”
“Dia cerita sehabis ujian ayahmu mencari mommy dirumahnya. Walau berkali-kali dihajar dan diusir oleh orang tua mommy.”
“Ayahmu ingin bertanggung jawab atas kehamilan mommy,” Endro tak menutupi rahasia ini. Dia tak ingin Vella mempunyai pandangan buruk terhadap Ibas.
“Mengapa awalnya dia memberi uang untuk aborsi dan setelahnya mencari mommy untuk bertanggung jawab?” tanya Vella bingung.
“Saat itu dia masih tujuh belas tahun. Dia masih labil. Kita harus mengerti sudut pandangnya karena kita belum tahu apa pikirannya saat itu,” Arie memberi penilaian tentang Ibas saat itu.
“Benar. Mungkin saat awal dia bingung. Lalu setelah berpikir panjang, dia sadar dan ingin bertanggung jawab,” Endro juga berpikiran sama dengan Arie.
Menjelang makan siang Endro mengajak Arie dan Vella ke pemakaman Laras. Di Singapore Endro mempunyai mobil untuk operasionalnya selama dinegara ini.
***
”Assalamu’alaykum sayankku. Aku datang dengan anak kita dan kekasihnya. Maaf kalau selama ini aku belum siap membuka jati dirinya. Aku tak menyangka kalau selama ini aku bodoh menyembunyikanmu dari dirinya. Maafkan aku sayankku,” bisik Endro pada nisan bertulis nama Andika Larasati.
Walau lirih, tapi Vella dan Arie bisa mendengar bisikan Endro. Kembali Vella menangis. Arie selalu setia memeluk kekasihnya. Dia tahu ini sangat berat untuk Vella.
“Assalamu’alaykum Mom. Ini Mora. Daddy bilang panggilan Mora dari Mommy untukku. Mulai hari ini aku akan selalu mendoakanmu Mom. Maaf kalau selama ini Mora belum mendoakan Mommy karena Mora baru tahu pagi ini. I love you Mom,” bisik Vella. Mereka membacakan doa kubur sebelum beranjak pulang dan makan siang.
***
Sehabis dari pemakaman mereka makan siang dan Endro mengajak kedua anak muda untuk belanja pakaian.
“Abang, ini nanti aku titip untuk kak Asih dan kak Harllo. Dan ini pastinya untuk adik-adik,” tanpa Ragu Vella mengambi barang yang ia mau.
__ADS_1
“Yank. Ini pakai uang daddy. Jangan ah. Nanti aja kita beli kalau pakai uang Abang ya,” Arie mencegah Vella belanja. Karena tadi Endro memberikan gold card miliknya untuk Vella belanja. Endro hanya duduk sambil memperhatikan email di ponselnya. Kemarin dia sedang meeting saat Arie menghubunginya.
“Daddy bakal ngamuk kalau kita enggak belanja sedang dia udah kasih kartu ini. Ya sudah kita kembalikan semua barang dan nanti Abang yang jawab kalau daddy marah,” Vella hafal bagaimana karakter daddynya. Yang ternyata seorang manusia berhati ‘malaikat’. lelaki yang menerima dengan tulus perempuan yang hamil anak orang lain.
Vella juga kagum terhadap kebesaran hati eyang kakung dan eyang putrinya yang menerima mommy-nya dengan tulus.
Akhirnya Arie pun tak jadi membatalkan barang yang Vella ambil untuk adik-adik serta untuk Asih dan Harlo. Bahkan Risye saja tak dibelikan oleh Vella.
Tentu kalau untuk mereka berdua Vella mengambil beberapa macam barang. Baik baju mau pun sepatu kembaran.
“Kenapa ada sepatu kecil?” tanya Endro melihat sneakers yang Vella beli.
“Buat Frina dan Frani Dadd,” jawab Vella santai.
Endro menarik Vella kembali ke dalam toko. “Malu-maluin Daddy. Belikan lagi yang lain. Masa hanya satu pasang sepatu aja?”
“Dadd cukup. Nanti aku mau beli barang buat mbak Tini dan mbak Tiwi juga mas Erlangga dan mas Lutfi. Adek-adek kapan-kapan lagi aku belikan,” sahut Vella.
Padahal Arie tadi tak enak ketika Vella ditarik kembali masuk ke toko. Dia kira Endo marah dan minta dikembalikan sepatu untuk si kembar.
***
“Abang. Alasan Daddy kamu harus mengetahui jati diri Mora adalah karena nanti, saat akad nikah tak ada yang bisa menjadi wali bagi Mora. Walau sekarang kita tahu siapa ayah kandung Mora. Secara nasab dia tetap tak bisa menjadi wali saat akad. Karena dia tak menikah dengan mommynya Vella.”
“Jadi walau mereka menikah pun, kalau sudah hamil, tetap tak bisa menjadi wali nikah. Itu agar kamu ketahui dan kamu jelaskan pada kedua orang tuamu nanti,” mereka sedang santai di apartemen. Besok sore mereka akan kembali ke Jogja mengantar Vella.
“Iya Dadd, Abang ngerti. Memang biar bagaimana pun tak ada yang bisa menjadi wali nikah bagi gadis yang tak punya nasab,” sahut Arie. Dan Vella hanya bisa terpekur. Bukan keinginannya menjadai wanita tanpa nasab.
“Dadd. Daddy menikah saat umur enam belas dan mommy berumur tujuh belas?” Vella entah mau apa bertanya tentang hal ini.
“Iya sayank. Itu terpaksa karena ada kamu di perut mommymu,” sahut Endro.
“Kalau aku minta nikah muda boleh?” tanya Vella serius.
__ADS_1
“Kenapa? Kamu masih baru mulai kuliah,” Endro tentu tak ingin anaknya putus kuliah.
“Dulu eyang kasih izin Daddy menilkah asal terus rampung kuliah. Mengapa sekarang aku enggak boleh menikah? Aku janji akan terus kuliah. Aku hanya enggak ingin jarak jauh tanpa kepastian,” sahut Vella lirih.
“Enggak ada kepastian gimana sih Yank? Orang tua kita sama-sama ngedukung. Itu kan satu langkah menuju kepastian. Bahkan ibu sudah bilang walau kamu belum dilamar resmi, tapi secara fakta kamu adalah tunangan Abang,” Arie mengingatkan kata-kata Wiedo sebelum mereka berpisah.
“Iya sih ibu bilang gitu. Tapi entah kenapa Ade jadi kebayang-bayang Laluna dan sederet ulet bulu lainnya,” sahut Vella.
Vella ingat dulu bahkan dia minta Endro menikahinya karena tak suka ‘hidup sendirian’.
“Gini aja. Sesampai di rumah Abang akan bilang ke bapak dan ibu untuk melamarmu saat libr semester pertama. Dan kita menikah saat Abang selesai wisuda,” Arie mengambil jalan tengah.
“Enggak. Saat liburan besok kita langsung nikah. Inget Ade enggak punya siapa pun buat jadi wali nikah. Jadi Ade maunya akadnya private. Tak ada satu pun orang luar tahu kalau wali nikah Ade bukan papa atau daddy. Nanti habis Abang wisuda kita tinggal resepsi,” jawab Vella tegas.
Vella tak membayangkan bila ijab kabulnya dilihat orang lain dan mereka tahu disana ada Prasojo dan Endro tapi tak bisa menjadi wali bagi dirinya.
Endro dan Arie tak bisa langsung menanggapi permintaan Vella.
“Sekarang tidur dulu saja. Besok kita matangkan rencana ini setelah Abang bertemu dengan kedua orang tuanya. Mungkin nanti di Jakarta Daddy akan berkenalan dengan ibu dan bapaknya Abang membicarakan hal ini ya?” Endro mengambil keputusan akan membahas hal ini dengan kedua orang tua Arie.
***
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL THE BLESSING OF PICKPOCKETING YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL THE BLESSING OF PICKPOCKETING ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta