UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
MASIH KECIL KOQ MINTA CEPET DILAMAR


__ADS_3

Ada kejanggalan yang bisa aku tangkap tentang kedekatan hubungan Vella dengan daddynya. Dan Vella dengan mama-papanya. Mengapa bisa demikian? ~Endro Herminanto Mulyo ~


DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Rabu sore pulang Ma. Sudah beli tiket. Kamis pagi ada pendaftaran co ***. Ade minta aku cepat lulus biar bisa lamar dia,” goda Arie.


“Iiih Ade yang buat jadi alasan,” Vella mencubit lengan Arie. Sejak tadi Yoyok hanya mengamati saja. Dia sudah diberitahu Endro kalau putranya setuju dengan kekasih cucunya itu. Jadi dia tak ingin mempersulit.


“Assalamu’alaykum,” Endro masuk dan memberi salam.


“Daddyyyyyyyyyy …,” Vella langsung berlari memeluk Endro.


“Wa’alaykum salam,” hampir berbarengan semua langsung menjawab salam dari Endro.


“Jawab salam dulu, baru peluk,” Endro menggoda putrinya.


“Eyang lihat cucumu. Masih anak kecil gini koq minta cepet dilamar,” Endro terus menggoda Vella.


“Daddy iiiih, seneng banget ganggu aku,” Vella merajuk. Arie langsung menghampiri Endro dan memberi salim.


“Daddy kesini tu buat antar motormu. Sana terima di depan,” Endro menerima salim yang Arie berikan dan menepuk pundak anak muda itu.


“Kenapa sih enggak mobilku aja yang dibawa kesini. Kenapa harus dibeliin motor lagi?” protes Vella.


“Mobil bisa Daddy kirim kesini bila dua semester awalmu IPK diatas 3,6. bila hanya 3,6 mobil tetap Daddy tahan di Jakarta,” Endro memberi motivasi pada putrinya.


“Eyang lihat tuh, anak Eyang super pelit,” Vella langsung keluar kamarnya untuk menerima motor yang baru diantar oleh dealernya.


Yoyok hanya tersenyum melihat kelakuan cucunya.


“Rie, kamu ada passport kan?” tanya Endro saat Vella keluar ruangan.


“Ada Dadd. Sejak usia delapan tahu saya sudah punya passport. Ada perlu apa?” tanya Arie.


“Entahlah. Tapi sepertinya ada gambaran suatu saat kamu harus membantu Daddy,” jawab Endro. Yoyok yang mengerti kadang Endro punya firasat tentang sesuatu tentu curiga.


“Ono opo Nan?” tanya Yoyok. Jangan lupa ya, Yoyok dan Kamila mempunyai panggilan sayang NANAN untuk putra tunggal mereka.

__ADS_1


“Enggak tau Yah. Seperti akan terjadi sesuatu yang enggak bisa aku cegah,” sahut Endro terdiam. Dia sendiri tidak tahu akan ada apa.


“Baik Dadd, kalau diperlukan saya siap,” jawab Arie. “Saya keluar dulu.”


“Sudah di cek semua Yank?” tanya Arie. Endro memang membiarkan putrinya untuk menerima kelengkapan motor dan menandatangani surat serah terima barang.


“Udah Bang. Lengkap sesuai yang ada di surat serah terima barang,” sahut Vella.


“Senin kita pakai motor ini aja ya?” tanya Arie.


“Emang kalau enggak ada motor ini tadinya Abang mau pakai apa?” tanya Vella.


“Bisa pakai motor di rumah pakde. Atau mobil juga ada dua yang ngangur,” jawab Arie.


“Tapi kan enggak ada helm Bang? Ini ada satu doang,” jawab Vella.


“Nanti kita beli yang buat kamu. Sampai Rabu biar Abang pakai helm itu. Sesudah itu helm simpan buat jaga-jaga,” sahut Arie.


“Bawa masuk kunci, surat-surat dan perlengkapannya, biar Abang pinggirkan motormu ini,” Arie menyuruh Vella membawa masuk surat-surat motor itu.


“Makasih ya Dadd. Dapet aja yang warna putih gitu,” Vella memeluk erat ayahnya tercinta. Arie memperhatikan kalau Vella memang lebih dekat dengan Endro dan Yoyok daripada dengan Nungky dan Pras.


“Makan malam dimana Eyang?” tanya Vella.


“Gimana kalau di mang Engking aja? Ada ayam, bebek dan ikan bakar,” jawab Endro.


“Ya sudah di mang Engking yang godean aja,” jawab Yoyok.


“Arie, kamu cari di gogle maps rumah makan mang engking yang di godean bila kalian ingin kesana terpisah dengan kami. Tapi kalau mau bareng ya habis maghrib kami tunggu di kamar hotel.” Yoyok membiarkan Vella dan Arie menentukan pilihan.


“Kami berangkat sendiri aja Eyang. Abang pakai mobil pakdenya koq. Kami mau cari helm dulu. Nanti malam kan aku bobo di hotel sama Mama. Aku mau siapin baju ganti dulu. Nanti malam aku enggak bakal boleh masuk kekamar kost karena kita pasti pulang makan sudah lewat jam masuk,” sahut Vella.


“Ya sudah ayok kita jalan, biar bisa istirahat dulu. Aku balik ke hotelku ya,” sahut Endro yang tidak satu hotel dengan Pras dan Yoyok. Sejak kemarin dia menginap di hotel Abadi.


Vella menyiapkan baju tidur dan baju ganti untuk esok pagi. Dia masukkan dalam tas ranselnya dan segera mengunci pintu kamarnya.


***


“Apa Abang hafal jalan kota Jogja?” tanya Vella.

__ADS_1


“Enggak terlalu hafal. Tapi ya enggak buta banget. Karena Ibu kan sering pulang ke Jogja. Orang tua ibu asli Klaten. Tapi kedua eyang sudah enggak ada. Rumah keluarga di Klaten juga sudah enggak ada. Sejak remaja ibu tinggal disini ikut kedua kakak kandungnya. Jadi sejak kecil Abang beberapa kali menginap di Jogja.” sahut Arie.


Arie mengarah mobil ke area penjual helm di daerah kota baru. Vella memilih helm cantik berwarna putih sesuai dengan warna motor baru miliknya.


“Besok siang bisa ke rumah Pakde enggak? Ibu pesan kamu disuruh kenal ama keluarga pakde biar selama di Jogja dijagain,” Arie bertanya pada Vella.


“Kayaknya besok enggak bisa Bang. Pagi urus paket. Beberes sebentar lalu makan siang. Habis itu papa dan Eyang kan mau convoy pulang ke Kutoarjo dan Kebumen. Kalau ke rumah pakde habis Eyang pulang bisa enggak?” tanya Vella.


“Bisa aja. Yang penting kamu enggak kemalaman pulang ke kamar kostmu,” jawab Arie.


“Ya udah, besok sejak makan siang lalu melepas papa dan eyang kita langsung ke rumah pakde aja. Itu pakde yang dimana Bang? Kan ada dua pakde Abang disini,” Vella ingat kakak ibunya Arie ada dua orang.


“Ke rumah pakde Guruh,  rumahnya di Ngasem. Kalau pakde Wito rumahnya  di Gamping. Pakde Guruh kakak tertua ibu. Nanti kapan-kapan baru kita ke Gamping.


“Kita mau salat Maghrib langsung di mang engking atau cari masjid dulu?” tanya Arie.


“Sambil jalan aja. Pas ada masjid yang salat dulu. Kalau enggak ya bisa langsung salat di resto,” jawab Vella.


Akhirnya Vella dan Arie salat maghrib di mushola resto.


‘Kami sudah sampai di mang Engking. Kami salat disini,’ Vella mengirim pesan pada Pras dan Yoyok dengan mengirim foto Arie yang sedang mengambil air wudhu dan dia foto secara candid.


‘Kami baru keluar dari hotel,’ balas Pras. Mereka menggunakan mobil Yoyok jadi Pras tidak mengemudi.


Arie yang jiwa pengusahanya tajam, setiap kemana pun selalu memperhatikan. Dia menilai kekurangan dan kelebihan suatu tempat untuk dia aplikasi kan di cafenya.


“Disini konsepnya keluarga ya Yank, tapi ini keren buat rasa nyamannya,” Arie langsung memberi penilaian.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  WANT TO MARRY YOU YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2