
Kadang orang sering salah duga. Mereka pikir makanan enak itu berunsur daging, ayam atau ikan. Padahal sayuran kampung itu lebih nikmat. Terlebih serabi panas yang baru diangkat dari wajan tanah liat. ~Mahesa Wiryawan~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
“Santai aja lah. Lagian kalau siang ada tukang soto ayam pakai nasi, ada bakso dan mie ayam. Enggak bakal kelaparan lah aku. Kamu besok malam atau Minggu pulangnya?” tanya Siena.
“Aku balik besok malam,” sahut Vella. Dia tak mengatakan kalau dia kembali dengan keluarga Arie yang akan kembali ke Jakarta lewat bandara Jogja hari Minggu siang.
Sedang Endro mungkin kembali ke Jakarta atau ke Singapore tergantung perkembangan info terkini. Jadi Vella tak mungkin memastikan kembali ke Jogja bersama Endro.
***
Ibas dan Arif Gunawan hanya datang berdua ke Kebumen untuk pertemuan pertama dengan keluarga besar Endro dan keluarga Mahesa.
Jujur Ibas agak tak enak hati. Dia merasa malu dan bersalah pada Endro. Walau dari Vella dia tahu Endro tak marah pada Ibas, terlebih setelah tahu kalau Ibas mencari Dika tapi sudah terlambat.
Sengaja Ibas datang pagi sekali agar bisa lebih dulu minta maaf pada Endro dan orang tuanya.
__ADS_1
“Monggo pak Arif, Bas, kita sarapan dulu,” Endro mengajak tamunya masuk. Masih jam setengah tujuh. Jadi wajar kalau Endro mengajak mereka sarapan.
“Yah, Bu. Ini ayahnya Vella dan mbah kakungnya,” Endro memperkenalkan Arif Gunawan dan Baskoro Gunawan pada kedua orang tuanya.
Sambil sarapan akhirnya mereka berlima bertukar cerita tentang Andika Larasati dan miss understanding yang selama ini terjadi. Sejak sarapan itu mereka memutuskan menjadi orang tua untuk sosok gadis yang sangat mereka sayangi. Tak perlu ada saling hujat atau menyalahkan.
Sementara gadis yang jadi tokoh utama cerita sedang pergi memesan serabi untuk acara siang nanti.
Vella minta tukang serabi datang ke rumahnya membawa semua peraalatan dan membuatnya di rumahnya siang nanti. Sejak kemarin siang dia sudah pesan lewat chat. Tapi pagi ini Vella memastikan agar tidak mengecewakan.
“Eh, Ayah dan Mbah kakung sudah lama?” tanya Vella sambil menyalimi kedua orang itu.
“Lumayan, ini sarapan simbah sudah habis,” jawab Arif Gunawan.
Vella bersiap berias. Sejak tadi dia hanya pakai kaos santai dan celana training saja.
Pertemuan yang awalnya akan diadakan jam satu siang, dimajukan oleh Wiedo menjadi jam sepuluh pagi. Sehingga sehabis makan siang mereka bisa santai lalu pulang kembali ke Jogja. Dan yang pasti keluarga Mahesa ingin minum degan ( kelapa muda ) yang baru metik dari pohon seperti yang Arie ceritakan.
Jam sembilan dua mobil keluarga Mahesa datang. Hadir saat itu Mahesa, Wiedo, Ningrum dan Wito selain Arie dan kedua adiknya.
Setelah bertukar salam dan saling berkenalan mereka semua duduk di ruang tamu keluarga Suroyo Mulyo yang super besar. Biasa menerima tamu cukup banyak ketika masih menjadi pak Lurah.
__ADS_1
“Maksud kedatangan kami kesini untuk berkenalan dua keluarga yang akan menjadi satu dengan pernikahan anak-anak kita. Saat di Jakarta, saya dan mas Endro sudah memutuskan tak usah ada lamaran. Karena kondisi khusus, kita langsung bertemu di acara akad nikah saja.” Mahesa membuka forum setelah semua berkenalan.
“Tapi ibu presiden ( Wiedo maksudnya ) protes. Dia belum kenal dengan eyang uti. Bagaimana bisa mengatur acara pernikahan, demikian alasannya. Maka kami jadwalkan lah pertemuan hari ini untuk lamaran dan seserahan dari pihak anak saya sebagai calon mempelai lelaki kepada pihak nak Vella sebagai calon pihak perempuan.”
“Sebagai pihak perempuan, Saya, papanya Vella dan ayahnya sangat berterima kasih atas niat baik keluarga Bang Mahesa. Biasanya kita akan tanyakan putra-putri untuk bicara sendiri maukah menerima lamaran dari pihak lelaki. Tapi kondisi putri kami beda. Dia yang minta segera dilamar, jadi saya tak perlu minta Arie menyatakan lamarannya ya?” goda Endro.
“Kami sadar, kondisi Vella adalah khusus. Kami terutama saya dan mas Baskoro sangat berterima kasih bang Mahesa mau menerima permintaan kami agar akad dan lamaran diadakan tertutup. Untuk itu saya persilakan pembahasan akad. Karena biasanya yang begini urusan para ibu. Kami pihak lelaki bagian mengeluarkan dana saja,” jelas Endro selanjutnya.
“Maaf. Boleh interupsi?” potong Arie.
“Kenapa Bang?” tanya Wiedo. Perempuan ini memandang putranya dengan bingung.
\===========================================
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya teman yanktie yang bernama RAHAYU NINGTIYAS BUNGA KINANTI dengan judul novel TERTAWAN CINTA SANG PENGUASA yok! Ceritanya pasti seru dan enggak akan nyesel deh bacanya.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta