
Banyak orang mudah mencari kekasih lalu putus dengan alasan belum dapat yang cocok atau pas. Tapi aku memang tak ingin punya banyak barisan sakit hati karena putus hubungan denganku.
Sampai mau lulus jadi dokter, baru sekarang aku melabuhkan cintaku di dermaga yang aku suka ~Ashoery Rustamaji~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Kita duduk di sini ya, view ke belakang bagus, dan bisa lihat hampir semua pengunjung lain. Ke panggung musik juga jelas,” Arie pun menunjuk tempat yang dia rekomendasikan untuk Vella.
“Kakak sering kesini ya, sampai hafal mana meja yang enak viewnya,” Vella tentu berkomentar karena Arie bisa hafal meja mana yang enak untuk mereka tempati.
“Kadang kalau lagi gabut sendirian suka kesini. Kadang sama Asih dan Harllo kakaknya Risye temanmu itu. Asih naksir Harllo sejak SMA. Harllo sebenarnya juga suka, tapi enggak percaya diri karena kesenjangan sosial mereka,” balas Arie.
“Kamu mau minum apa?” tanya Arie lagi.
“Yang recommended di sini apa Kak?” Vella malah balik bertanya. Dia baru tahu kalau kak Asih naksir kak Harllo. Vella sudah beberapa kali bertemu Harllo. Karena Risye sering diantar Harllo bila harus menginap dirumahnya.
“Tergantung selera. Kalau Kakak suka es capuchino latte dengan banyak whip cream. Atau aneka juice tanpa gula karena sudah manis dengan banyaknya SKM ( suusu kental manis ). Atau minuman panasnya juga enak seperti teh sereh jahe jeruk nipis atau yang disebut teh SERUNI. Teh ini bisa pakai gula batu atau gula pasir biasa. Atau bisa juga kopi jahe gula merah,” sahut Arie, dia sangat hafal. Mungkin karena terbiasa datang ke cafe itu.
“Aku mau coba juice aja deh Kak. Masih sore gini minum panas kayaknya kurang pas. Juice alpokat atau duren aja deh tergantung yang ada,” sahut Vella.
“Bawakan juice durian satu, es moccachino latte satu, pangsit goreng satu porsi, lumpia Semarang satu porsi kecil,” Arie memesan pada server yang sejak tadi berdiri diam sambil menunduk didekat meja mereka.
“Baik Pak,” sahut server setelah membaca ulang tulisannya.
“Kak …,” Vella lalu terdiam. Arie hanya diam juga menunggu kelanjutan kalimat yang akan diucapkan Vella. Dia memandang gadis yang tertunduk di depannya.
“Kak, Vella mau ucapin terima kasih kadonya kemarin,” lirih suara dari bibir Vella, tapi Arie masih bisa mendengar dengan jelas.
“Kamu enggak suka?” tanya Arie, bukan menjawab ucapan terima kasih yang gadis itu berikan.
“Suka, suka banget malah,” jawab Vella dengan tersipu.
__ADS_1
“Kalau suka kenapa enggak dipakai?” Arie mencecar dengan pertanyaan yang sejak mereka bertemu sudah ada di benaknya.
“Pakai koq,” Vella menarik lengan kaosnya dan memperlihatkan arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Arie mengambil jemari tangan kiri Vella dengan tangan kirinya. Sekarang jelas terlihat kalau arloji itu couple. Karena jenis yang sama juga melingkar di pergelangan tangan kiri Arie.
“Kenapa sih kasih kado mahal begini?” protes Vella.
“Enggak ada yang mahal buat orang special Nov. Sudah baca kan pesan Kakak?” tanya Arie. Dan Vella hanya menjawab dengan anggukkan.
‘Orang special?’ batin Vella dag dig dug mendengar kata itu.
“Kakak sayang kamu sejak kita kenalan,” Arie berbisik lembut. Dan Vella memberanikan mengangkat wajahnya untuk melihat mata pemuda yang lagi-lagi menyatakan rasa suka padanya. Hanya kali ini dia katakan langsung bukan melalui pesan di ponsel atau dengan tulisan.
“Maaf Pak,” server meminta maaf, dia mengantarkan pesanan Arie.
‘Sejak di parkiran, semua memanggil kak Arie dengan sebutan PAK, padahal tadi aku dengar di meja lain dipanggil dengan sebutan KAK,’ Vella merasakan keanehan akan apa yang ia dengar.
“Kamu enggak suka sama Kakak? Atau ada orang lain yang kamu sayang?” Arie kembali ke fokus pembicaraan sebelum server mengantar pesanan.
“Aku … aku …,” Vella tak tahu harus menjawab apa.
“Aku belum punya pacar, dan belum pernah pacaran karena semua bilang aku enggak boleh pacaran sampai lulus SMA. Papa, mama, mas Bagas, mas Seto dan daddy melarang aku pacaran saat masih SMA,” balas Vella.
“Sekarang kamu sudah lulus SMA kan?” tanya Arie. Dan Vella hanya mengangguk pelan.
“Lalu apa jawabanmu?” tanya Arie. Dia dikejar waktu. Tak sampai tiga minggu lagi mereka akan terpisah jarak.
“Berapa mantan Kakak?” Vella malah bertanya sebelum dia menjawab pertanyaan Arie tentang perasaannya.
“Kakak sangat menghormati perempuan. Karena Kakak dilahirkan oleh seorang perempuan istimewa. Dan Kakak punya dua adik kembar perempuan. Kakak enggak ingin menyakiti perempuan. Sebab itu sejak dulu Kakak tidak mau pacaran lalu putus karena nanti mantan akan sakit hati. Kakak membayangkan bila yang tersakiti itu ibu atau adik-adik Kakak,” Arie menghela napas sejenak.
“Itu alasan Kakak tak pernah mau menyatakan sayang sebelum memastikan kalau perempuan yang Kakak pilih itu tak akan pernah tersakiti karena kami putus. Kakak tak pernah ingin pacaran untuk main-main. Jadi kamu tahu berapa mantan yang Kakak miliki kan?” jawab Arie tuntas.
‘Dia belum pernah punya mantan, tapi barisan sakit hati karena perasaannya enggak berbalas aja puluhan,’ batin Vella.
__ADS_1
‘Wait … jadi dia yakin ama aku bakal serius hingga akhir nanti? Apa enggak terlalu tinggi ekpektasinya? Aaahhhh …,’ Vella makin bingung.
“Kenapa kamu tanya mantan?” Arie lanjut bertanya.
“Aku ragu Kak. Aku takut kalau Kakak salah orang. Bagaimana mungkin Kakak bilang sayang aku sejak kita kenalan? Kakak belum tahu siapa aku, bagaimana kelakuanku, bagaimana latar belakang keluargaku,” sahut Vella.
“Bukankah Kakak sudah bilang, “rasa” itu tak bisa dibendung. Rasa itu datang tanpa perantara. Saat kita kenalan, rasa itu telah ada dalam da-da Kakak. Tak bisa dibendung walau bikin tanggul setinggi apa pun,” sahut Arie.
“Sejak itu Kakak mencari tahu tentangmu, dari Harllo atau dari media sosialmu juga beberapa teman di SMA termasuk dari pak satpam dan penjual makanan di kantin sekolah. Semakin Kakak tahu siapa dirimu, rasa itu semakin besar. Seperti bola salju yang kamu gelindingkan. Awalnya hanya sebesar kelereng, tapi semakin lama dia bergulir, akan semakin besar hingga bisa menutup sebuah palung,” jelas Arie.
“Kamu belum jawab pertanyaan Kakak kenapa kamu tanya tentang mantan,” Arie kembali bertanya tentang apa yang ada dalam pikiran Vella.
“Aku akan “belajar” dari para mantan Kakak. Aku ingin tahu apa kesukaan mereka sehingga Kakak menyukainya,” jawab Vella jujur.
“Kakak menyukaimu karena kamu adalah kamu. Bukan karena orang lain. Kakak enggak ingin orang lain,” Arie menggenggam kedua tangan Vella dengan kedua tangannya.
Vella menarik tangan kanannya, dia mengaduk juice duriannya dan menyedot sedikit. Ada rasa senang bercampur ragu menerima tawaran sayang yang diberikan Arie. ‘Apa aku sanggup mendampinginya?’
Untuk menutup gugup, Vella mencelup pangsit goreng ke saosnya dan dia memakan cemilan sore ini.
\=========================================================
BERSIAP KETEMU JUDUL CERITA YANKTIE YANG TERBARU YA, JUDULNYA UNCOMPLETED STORY, AWAL KISAH AGAK NACKAL, TAPI SELANJUTNYA TETAP SOPAN KOQ, ENGGAK PANAS.
BERSIAAP KETEMU DENGAN BAYU, WIWIEN DAN TONNY YA
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta