UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
APA UNTUNGNYA BUATKU?


__ADS_3

Kunci hubungan jarak jauh atau yang ngetop dengan istilah LDR adalah KEPERCAYAAN. Jangankan LDR, yang jarak dekat aja, tanpa kepercayaan pasti bubar koq. Itu sebabnya aku harus mulai belajar untuk menjaga kepercayaan kekasihku padaku. ~Novella Moraletta~


DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


‘Apa mamas tertarik pada gadis itu? Sehingga sejak minggu lalu matanya selalu tertuju padanya? Aku harus kembali melabrak gadis itu sama seperti kejadian tiap tahunnya. Aku akan beritahu siapa diriku. Aku akan tunjukkan kalau mamas adalah suamiku!’ bulat tekad Titie.


Setiap tahun, bahkan setiap semester dia selalu menegur bahkan kalau tak mempan akan dia labrak mahasiswi yang tebar pesona pada suaminya.


***


“Serius Mbak? Aku hampir enggak percaya,” Vella dan Tiwi sedang ngobrol sambil menunggu kedatangan Arie.


Vella pernah diajak ke rumah Tiwi saat kemarin dia pulang dari Kebumen. Tapi saat itu Tiwi sedang keluar. Vella hanya bertemu dengan pakde Wito, bude Ningrum dan mbak Tini saja.


‘Pantas waktu itu Abang bilang aku harus dikenalkan ke semua pakde dan bude disini. Ternyata tante Wied malah langsung hubungi mbak Tiwi,’ batin Vella.


“Masa aku bohong? Apa untungnya buatku?” jawab Tiwi. Sesekali gadis ayu itu membalas sapa beberapa temannya


“Ha ha ha, enggak bilang Mbak bohong. Aku enggak percaya aja atas perhatian tante Wied,” sahut Vella. Dia lihat Arie sedang berjalan ke arah mereka.


“Lama nunggu ya Yank?” tanya Arie lembut.


“Enggak koq. Lagian ada mbak Tiwi nemani aku,” sahut Vella. Mereka pun segera berpisah karena Tiwi juga sudah dijemput calon tunangannya.


“Yank, barusan Harllo telepon, hari Kamis dimulai daftar kuliah. Jadi Abang kepaksa pulang hari Rabu malam ya. Enggak bisa sampai hari Minggu. Padahal hari Sabtu kan kita mau ke rumah pakde Wito menghadiri lamarannya mbak Tiwi,” Arie memberi khabar terkini.


“Iya Ade enggak apa-apa koq Bang. Ade akan tetap berangkat sendiri ke rumah pakde Wito. Abang konsen penuh ke kuliah ya. Ade pasti baik-baik aja koq,” sahut Vella. Dia tak mungkin terus ditemani Arie. Dia harus bisa menjalani perpisahan ini.


“Koq sedih ya denger Ade bilang : Ade enggak apa-apa? Karena Abang yang apa-apa. Rasanya enggak rela aja berpisah,” Arie berkata sambil memberikan helm pada Vella.


“Lha maunya gimana? Abang mau Ade nangis ngejer gitu? Atau mau Ade balik ke Jakarta aja?” tanya Vella jadi serba salah.


“Enggak gitu juga Yank. Kan kita mau sama-sama maju? Ya udah yok. Udah siap?” tanya Arie saat Vella sudah naik diboncengan.

__ADS_1


Dari jauh Ibas memperhatikan motor putih itu keluar dari parkiran.


***


‘Besok hari Sabtu aku akan pulang ke Kutoarjo. Belagak nengok ayah. Tapi aku akan menyelidiki siapa sebenarnya gadis itu,’ Ibas makin penasaran.


‘Tapi tak boleh ajak Titie. Bisa mengacaukan penyelidikan. Aku akan cari cara agar bisa berangkat sendirian,’ kembali Ibas mengatur siasat untuk mencari kebenaran mengenai jati diri Vella.


***


“Abang pulang ya. Selama kita jauh kuncinya hanya kepercayaan. Kamu yang tenang. Kalau ada berita yang menurutmu buruk, kamu hubungi orang yang bisa kamu percaya. Kamu tahu bahkan ibu sudah menitipkan kamu ke keluarga pakde Wito dan pakde Guruh. Artinya kedua keluarga kita mendukung hubungan ini. Apa kamu yakin kalau kita ganti pasangan, kedua keluarga akan mendukung seperti mereka mendukung kita?” Arie bersiap pulang. Dari kamar kost Vella ini dia akan langsung ke bandara.


“Iya Abang sayank. Ade ngerti. Maafin Ade yang selama ini belum pinter. Tapi makin kesini kan Ade belajar terus Bang? Ade tahu tante Wied sampe nitipin aku ke mbak Tiwi,” sahut Vella.


“Sebut aja ibu dan bapak De. Sama seperti Abang yang panggil daddy, mama dan papa,” tukas Arie memotong kalimat kekasihnya.


“Abang jaga kesehatan ya. Kalau kerja jangan lupa makan. Kalau belajar jangan sampe stress,” Vella memeluk erat kekasihnya. Dia sudah belajar tidak menangis agar Arie tak sedih meninggalkannya.


“Kamu hati-hati bergaul ya Yank. Enggak semua yang terlihat baik itu  beneran baik. Dan enggak semua yang terlihat lemah harus kamu kasihani. Kemungkinan mereka pura-pura baik atau pura-pura lemah agar bisa mendapat attensimu.”


Arie mencium kekasihnya lembut. Vella pun membalasnya. Dia tak lagi malu. “I love you Abangnya Ade.”


“Love you more Adenya Abang. Assalamu’alaykum,” Arie menghargai Vella yang tidak memperlihatkan kesedihannya. Taksol ( taksi on line ) sudah ada di depan rumah kost. Arie melarang Vella mengantar ke bandara.


***


‘Yank, Alhamdulillah Abang sudah sampai rumah,’ tengah malam Arie mengirim pesan pada Vella, dia sampai di rumah sudah pukul 23.19.


Keesokan harinya, hari Kamis pagi Arie mulai sibuk bersiap ke kampus. Seperti biasa untuk kesehariannya dia lebih nyaman menggunakan motor bukan mobil. Si kembar juga sudah bersiap berangkat sekolah. Masing-masing diantar oleh anak buah bapak. Dan mereka juga tak mau diantar dengan mobil. Pengawal tak boleh terlihat seperti seorang ajudan.


“Bang. Hari Jumat malam kami mau berangkat ke Jogja untuk menghadiri pertunangan Tiwi. Abang mau ikut enggak. Ini Bapak mau pesan tiket. Kita kembali ke Jakarta hari Minggu siang,” Mahesa Wiryawan memberitahu putra sulungnya. Dia tahu putranya baru semalam kembali dari Jogja. Tapi dia sadar, buat cinta pulang pergi dalam satu hari pun akan dilakukan.


“Serius semua mau berangkat?” tanya Arie tak percaya. Tentu dia tak menolak ikut kembali ke Jogja.


“Ini buatan eyangnya Vella buat ibu. Dan ini buat kalian,” Arie memberikan tas laptop untuk kedua adiknya dan abon ayam buatan Kamila pada Wiedowati.

__ADS_1


“Ibu minta nomor ponsel Vella. Ibu mau bilang langsung ucapan terima kasihnya. Enggak mau lewat Abang,” Wiedo meminta nomor Vella. Dia ingin lebih dekat dengan calon menantunya itu.


“Kamu belum jawab Bang,” Mahesa Wiryawan menunggu jawaban dari putranya.


“Bapak aneh. Enggak mungkinlah Abang nolak,” jawab Frani cepat.


“Bener De, Bapak harusnya enggak perlu tanya hal itu,” jawab Frina.


“Bapak tahu Abang pasti mau berangkat ke Jogja. Tapi Bapak takut waktunya yang dia enggak bisa,” sahut Mahesa membela diri dihadapan dua putri kembarnya yang sudah bisa menohoknya.


“Bisa koq Pak. Abang ikut,” sahut Arie cepat.


“Abang berangkat duluan,” Arie salim pada ibu dan bapaknya.


“Assalamu’alaykum,” bergegas Arie keluar rumah menuju kampusnya.


***


‘Alhamdulillah,’ itu jawaban yang Arie terima dari Vella saat waktu Subuh tadi. Dia yakin kekasihnya membuka pesan saat selesai melakukan kewajiban pagi agama mereka.


“Selamat pagi cantiknya Abang,” Arie mengirim voice note atau pesan suara bagi kekasihnya.


“Selamat pagi kekasih hati. Selamat beraktivitas,” Vella pun membalas dengan voice note lalu dia bersiap membuat omelet untuk sarapan pagi ini.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL    TELL LAURA I LOVE HER  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2