
Bukan Abang Arie kalau enggak cari kesempatan. Dia memang selalu begitu. Tapi aku semakin mencintainya~Novella Moraletta~
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Kenapa berhenti disini sih? Abang mau beli apa? Vella tak melihat ada tukang buah atau tukang air ditempat Arie menghentikan mobilnya.
"Abang cuma mau kiss kamu aja Yank. Nanti sampai kamu pulang besok ke Jogja, bisa nyium dimana coba?"
Begitulah Arie, selalu mencari kesempatan di setiap pertemuan mereka. Dia sudah memprediksi sampai Vella kembali ke Jogja tak akan ada kesempatan untuk dirinya memeluk apalagi mencium kekasih hatinya itu bila dia tak pandai mengatur kesempatan itu.
\*\*\*
"Assalamu'alaykum," sapa Vella pada seisi rumah terutama Wiedo sang calon mertua.
"Hallo anak cantik. Wa'alaykum salam," Wiedo menyambut anak gadisnya itu. Dia menerima salim Vella dan mencium kening gadis itu sesudahnya Vella mencium pipi Wiedo.
"Ayo Ibu kenalin. Ini kakak ipar bapak. Dan yang ini kakak bapak tertua. Adik-adik bapak belum datang."
"Pakde dan budemu dari Jogja baru saja tiba di bandara dan sedang dijemput," Wiedo memang meminta semua adik dan kakak dari dirinya juga dari Mahesa datang di acara hari ini.
'*Astaga, aku lupa. Ini anniversary pernikahan perak seorang jenderal dengan seorang wakil rakyat. Pasti dibuat sangat meriah*.' Vella menyapa semua yang ada disana dengan manis.
"Wah ini tho yang berhasil dapetin pangeran Wiryawan yang sangat dingin dan bertekad enggak akan pernah pacaran buat coba-coba?" Celetuk kakak tertua Mahesa.
"Bener. Abang Arie sejak SMP pernah bilang gitu ke aku. Kirain cuma omongan anak kecil karena belum dapat pacar sementara kakak-kakak sepupunya yang lebih muda aja udah pada punya pacar cinta monyet."
"Nggak tahunya memang itu prinsip yang dia pegang teguh," kakak ipar Mahesa pun berkomentar.
Vella yang mendengar prinsip kekasihnya menjadi tambah bangga dia dipilih Arie untuk menjadi pendamping hidupnya.
"Orang tuamu nanti datang kan?" Kakak Mahesa bertanya pada Vella.
"Insya Allah daddy saya akan datang. Hari ini beliau baru tiba dari Singapore. Mommy saya sudah tak ada," sahut Vella.
__ADS_1
Vella sekarang bisa mudah bilang tentang daddy dan mommynya. Di depan umum dia tak akan susah-susah menjelaskan tentang papa mama dan ayahnya.
"Oh maaf,"
"Mbaaaaaak!" Tanpa bisa menghindar Vella menerima pelukan Frina yang hampir membuatnya jatuh. Disusul oleh pelukan Frani.
"Kalian ini, kalau lihat mbak kalian seperti liat ice cream aja. Kepengen nubruk," Arie yang datang bersama kedua adiknya merengkuh kekasihnya dengan penuh cinta.
Tentu saja para uwaknya Arie tertawa. Mereka bisa melihat bagaimana keponakannya sangat mencintai Vella.
\*\*\*
Frina dan Frani mengajak Vella ke kamar mereka. Lebih tepatnya kamar Frina. Disana ada baju pesta nanti malam milik Vella. Kembaran dengan Frina dan Frani tapi ada beda gradasi warna sedikit.
Wiedo memang sengaja membedakan warna calon menantunya itu.
"Ini bikin pakai ukuran Mbak yang ada di butik dan ukuran Mbak waktu nikahan mbak Tini. Semoga pas Mbak,"
"Wah cantik sekali De. Trus kita pakai sepatu apa?" Vella kagum dengan baju butik yang Vella lihat tertera di plastik kerudung baju itu.
"Abang siapin ini untuk Mbak," Frani mengambil kotak sepatu di meja belajar Frina.
Vella mencoba sepatu yang Arie belikan untuknya. "Pas dan cantik ya De. Pas sama gaunnya."
"Nanti kita didandani MUA Mbak. Kata Ibu mulai jam lima. Maka kita salat Maghrib enggak jamaah. Sendiri-sendiri dan sesuai kesempatan.
"Trus kita didandani di kamar aku," Frani memberi tahu.
"Ganti bajunya disini. Itu sebabnya baju kita bertiga ada disini," Frina melengkapi kalimat adik kembarnya.
"Baiklah, mbak manut saja," sahut Vella dengan senyum.
Ada interupsi ketukan di pintu.
__ADS_1
"Mbak-mbak ditunggu di meja makan," seorang asisten rumah tangga memberitahu jadwal makan siang mereka kali ini.
"Oke siaaaap," sahit Frina.
"Ayok Mbak kita makan dulu," ajak Frani.
\*\*\*
Saat ini meja makan tak dikelilingi kursi. Semua kursi sudah diatur dijejerkan di pinggir ruangan. Vella mengambilkan Arie nasi juga lauknya.
Mereka memang berjalan keliling meja bersama.
"Abang mau ini?" Tanya Vella.
"Enggak Yank, cukup ini dulu," sahut Arie.
Vella sendiri mengambil lauk dan sayur tanpa nasi karena dia mengambil mie goreng sea food sebagai pengganti nasi.
Arie mengajak Vella duduk dekat kedua adiknya.
"Nanti kak Asih dan kak Harllo diundang?" Vella kangen kedua sahabat Arie itu.
"Aku undang mereka. Karena walau acara dibuat di rumah, semua tamu harus membawa undangan."
"Yang lucu adalah Serena. Aku undang dia sebagai sahabat. Eh bapak undang orang tua Serena sebagai rekanan. Dan ibu ngundang mamanya Firza karena mereka trman satu group arisan." Arie memberitahu kalau Serena dan tunangannya akan datang
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul TELL LAURA I LOVE HER itu ya.
__ADS_1