
Laras ada sebagai bukti baktiku pada Ayah juga. Jadi jangan berharap anak kedua dan ketiga seterusnya sebagai adik kandung Laras. Karena itu tak akan terjadi. Aku tak pernah menyentuh istriku lagi sejak dia postif hamil dulu. ~Baskoro Gunawan~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Dua bulan setelah menikah baru Baskoro mau melakukan malam pertama, itu pun dengan terpaksa, karena ayahnya terus bertanya kapan mereka punya momongan. Sang ayah ingin cucu dari Baskoro.
Sesudah itu hubungan suami istri baru terulang tiga bulan kemudian. Dan seperti malam pertama dua bulan lalu, semua tanpa pemanasan atau apa pun. Baskoro hanya menanam benih tanpa perasaan apa pun.
Begitu seterusnya hingga baru di tahun kedua Titie berhasil hamil. Dan sejak kehamilan itu hingga sekarang delapan tahun kemudian ( usia anak mereka tujuh tahun ), Baskoro tak pernah menyentuhnya lagi.
Jadi jangan harap ada anak kedua atau ketiga. Karena buat Ibas, kehadiran Laras adalah bukti dia berbakti pada ayahnya saja. Dia membuktikan pada ayahnya kalau pernikahannya bukan hanya diatas kertas seperti yang ayahnya duga selama ini. Rupanya Gunawan sering memperhatikan sang putra sulung tak pernah bicara dengan menantunya.
FLASH BACK OFF
“Habis ini kita mau kemana?” tanya Wieke teman satu genksnya Vella.
“Aku harus langsung pulang,” jawab Risye cepat. Dia harus gantian menjaga warungnya karena mamanya sudah tiga hari menginap di rumah nenek sebab sang nenek kangen pada adik bungsunya.
“Kalau begitu kita makan siang di kantin yok, kapan lagi kita bisa kumpul komplit berenam dan makan di kantin sekolah kita,” ajak Vella. Dia nanti minta di jemput sopir bila sudah pesan makanan saja.
“Kuy ah … bener banget. Ayok kita hura-hura di kantin tercintaaaahhhhhhhhh,” balas semuanya. Memang kapan lagi mereka bersama.
Terlebih lusa Siena akan pulang ke Ujung Pandang. Karena kedua orang tuanya bercerai dia harus kembali ke tanah asal ibunya. Untungnya dia dapat beasiswa di sana. Bila tidak dia akan kuliah universitas swasta di sana.
Mereka berenam segera menuju kantin tercinta. Mungkin ini pertemuan terakhir dengan formasi lengkap.
Vella, Wieke, Risye, Siena, Dian dan Merry memang bukan semua orang berada. Mereka juga bukan semua dari keluarga utuh yang bahagia. Mereka hanya enam gadis pintar. Mereka bersatu dalam genks karena sama-sama suka belajar dan tidak suka julid pada orang lain. Mereka senang membantu sesama. Itu yang membuat mereka bisa bersahabat sejak kelas dua dulu.
***
Vella mengirim share lock ke ponsel Arie, juga alamat lengkap Bagas begitu dia tiba di rumah kakaknya. Dia masih punya banyak waktu untuk bermain dengan kedua kekasih kecilnya yang super imut itu.
Bayu dan Bima tentu senang bermain dengan tantenya. Andai sang mama tak menyuruh keduanya tidur siang tentu mereka tak ingin menyudahi bermain dengan Vella.
__ADS_1
‘Terima kasih. Kakak akan tiba di rumahmu jam tiga sore ya,’ jawaban dari ponsel Arie Vella terima. Sejak semalam Arie mengatakan tak bisa datang jam dua siang seperti rencana semula karena harus bertemu dengan Asih dan Harllo terlebih dahulu.
Vella segera minta izin pada Nungky sang mama kalau sore ini ingin keluar di jemput kawannya. Selama ini Endro tak melarang pergaulan Vella dengan siapa pun. Tapi kan Nungky belum tahu. Jadi Vella berinisiatif memberitahu mamanya terlebih dahulu.
“Ya. Jangan pulang kemaleman. Nanti akan Mama beritahu ke mas Bagas,” jawab Nungky. Dia tahu gadis seumur Vella sudah wajar punya teman lelaki. Bahkan dulu orang tua Vella menikah saat sebelum usia Vella sekarang.
‘Anak itu yang penting diberi kepercayaan. Jangan karena Laras pernah salah langkah lalu kamu mengekang Vella,’ demikian Pras berkali-kali memberitahu Nungky. Dan memang sepengetahuan Endro, Vella belum pernah terlihat pacaran.
Hanya Endro yang tahu mengapa Vella belum pacaran. Tak mungkin Endro menjelaskan hal itu pada Nungky dan Pras.
“Iya Ma. Paling kami akan makan malam juga. Kan tinggal tiga minggu lagi aku di Jakarta,” sahut Vella.
Vella mandi dan mengenakan kaos tangan panjang dengan bahu sabrina berwarna merah maroon. Celana berbahan denim warna putih dan sneaker putih. Dia bawa sling bag berisi dompet dan ponselnya.
“Assalamu’alaykum,” Arie memberi salam saat masuk ke ruang tengah. Pembantu rumah tangga Nungki sudah mempersilakannya masuk.
“Wa’alaykum salam. Ma, kenalin temanku yok,” Vella menarik tangan Nungky untuk menemaninya ke depan.
“Kak, kenalin Mama aku,” Arie memperhatikan sosok yang Vella sebut mamanya. Yang dia rasa terlalu tua untuk menjadi seorang ibu gadis berusia 17 tahun.
“Selamat sore Tante, saya Arie kawannya Vella,” dengan sopan Arie mengulurkan tangan pada Nungky.
“Kami langsung aja Ma. Katanya enggak boleh pulang terlalu malam,” Vella menolak kalau Arie mengobrol dulu.
“Owh ya sudah,” jawab Nungky singkat. Dia tak hendak menahan kepergian putrinya.
“Bilang Papa aku berangkat ya Ma,” Vella mencium pipi Nungky dengan lembut dan dia menarik Arie segera keluar. Vella tak ingin Arie bertemu dengan mbak Nungki. Bisa-bisa dia kena bully. Pasti kakaknya akan menggoda habis-habisan.
“Kenapa sih buru-buru?” tanya Arie bingung.
“Ha ha ha, malas aja kalau kakak iparku keluar. Dia akan meledek habis-habisan,” jawab Vella.
Arie melihat Vella menggunakan kaos tangan panjang, dia memang melihat seperti ada arloji ditangan kiri gadis itu. Tapi apakah arloji yang dia berikan kemarin?
“Jadi sekarang kita mau kemana?” tanya Arie saat mobil baru saja keluar dari halaman rumah Bagas.
__ADS_1
“Aku sebenernya malas kalau nonton Kak. Enaknya kemana ya?” dengan jujur Vella memberitahu dia tak suka kegiatan nonton sore ini.
“Terserah, kamu mau kemana, Kakak ikuti aja kemauanmu,” sahut Arie.
“Pengen ngobrol aja Kak, enggak pengen belanja juga,” balas Vella.
“Oke, kita nongkrong di lokasi dekat kampus Kakak ya. Di cafe itu emang enak buat nongkrong dan suasananya tenang.” Arie memutuskan kemana hendak membawa pujaan hatinya itu.
Sepanjang jalan Arie menanti Vella mengatakan soal kadonya, tapi gadis itu hanya bercerita tentang kemacetan di jalan yang sedang mereka lalui, cuaca dan musik yang ia dengar di mobil Arie.
Arie memarkir mobilnya di sebuah cafe yang cozzy dan bergaya anak muda. Mungkin karena terletak di kawasan banyak kampus dan rumah kost. Suasananya nyaman, senyap dengan musik lembut.
“Selamat sore pak Arie,” sapa seorang juru parkir pada Arie dengan hormat.
“Sore Pak Miswan, sehat?” tanya Arie yang hendak membukakan pintu untuk Vella, tapi gadis itu sudah keluar lebih dulu.
“Alhamdulillah sehat Pak,” balas pak Miswan.
“Saya masuk dulu ya Pak,” Arie pamit pada juru parkir itu.
“Ayok, kita masuk,” ajak Arie sopan.
“Selamat sore boss,” sapa seorang pramu saji yang melihat Arie masuk.
“Sore,” jawab Arie sambil mengajak Vella masuk ke sebuah sudut.
\=====================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE DENGAN JUDUL NOVEL WANT TO MARRY YOU YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta