
Terjepit dalam sebuah kekuatan itu menyesakkan, itu yang sekarang aku rasakan. Kekuatan pertama ingin memiliki Vella tapi kekuatan kedua adalah Vella ada pemilik ‘sah’ nya. ~Helmi Muchlis Tanjung~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Perutmu masih sakit?” tanya Helmi.
“Ha ha ha, udah hilang sakitnya. Mungkin aku kurang serat karena satu minggu ini makanku enggak baik,” jawab Vella. Tadi yang penting dia segera menjauh dari kampus. Dia bingung mau kemana. Tak ada uang dan ponsel. Kunci kamar kost pun ada dalam tas yang dipegang Arie.
“Kalau begitu kita makan dulu ya, aku lapar,” ajak Helmi.
“Baiklah,” Vella tak menolak. Dia sedang kesal pada Arie yang malah asyik ngobrol dengan gadis cantik.
Helmi masuk kerumah makan cukup besar dan bersih yang dia lihat rame dengan orang yang seumuran dengannya. Dia berpikir rumah makan ini menyediakan harga mahasiswa.
Disini ternyata semua makanan ambil sendiri, lalu berjalan ke juru hitung, nanti diberi sepotong kertas berisi harga yang harus dibayar di kasir. Setelah membayar, pembeli keluar dan mencari tempat duduk yang diinginkan.
“Aku patah hati,” Vella mendengar gadis dibelakangnya curhat pada temannya.
“Ha ha ha, sekelas Luna patah hati. Tumben gunung es mencair,” ledek temannya.
“Tadi di lobby administrasi fakultas aku ketemu gebetan sejak SMA, dia makin ganteng dan makin dewasa. Dia kuliah di kedokteran UI. Lagi enak ngobrol, dia pamit mau nyari tunangannya yang enggak tahu kemana,” sahut gadis pertama.
“Jadi cowoq itu yang bikin Laluna jadi gunung es?” tanya temannya.
“Aku emang hanya jatuh cinta padanya dan sekarang aku akan kejar cintanya. Semester ini aku selesai kuliah, aku akan langsung kembali ke Jakarta untuk mengejar cinta Ashoery,” jawab perempuan yang disebut bernama Laluna dengan pasti.
‘Kenapa bisa kebetulan gini aku ngedenger siapa gadis yang tadi ngobrol dengan Abang?’ batin Vella dengan geram.
“Mau nambah enggak Vell?” tanya Helmi.
“Pengen rujak super pedes. Cari dimana ya Hel? Kita sama-sama masih buta kota ini,” Vella makin malas pulang dan bertemu Arie.
“Nanti kita tanya di parkiran ya. Tapi nanti kak Arie nyariin kita gimana?” tanya Helmi. Dia tak mau kesalahan.
“Enggak apa-apa. Kak Arie sangat baik dan pengertian koq, ayok ah cari rujak serut yang pedas,” ajak Vella. Dia kalau marah memang senang makan yang pedas.
__ADS_1
***
Arie keliling di lobby fakultas hukum, ke kantin fakultas, ke taman dan kembali lagi ke lobby, tapi Vella tak juga dia temukan. Dia bingung karena gadisnya tak bawa uang dan ponsel.
“Minta nomor telepon Risye cepat,” tanpa basa basi Arie menghubungi Harllo.
Mendengar suara Arie yang panik, Harllo tak menjawab, dia langsung mengirim nomor ponsel adiknya.
“Risye ini kak Arie,” Arie langsung menghubungi Risye.
“Eh iya Kak, ada apa?” tanya Risye. Kamu cari nomor telepon Helmi yang malam perpisahan jadi pasangan MC dengan Vella. Dia anak IPS, dan sekarang dia kuliah di fakultas hukum UGM. Cari kesemua orang segera. Kakak tunggu,” tanpa salam atau mengucapkan terima kasih Arie langsung menutup sambungan telepon dengan Risye.
Arie juga menghubungi temannya yang punya adik sepupu di kelas IPS satu angkatan dengan Vella. Dia langsung minta carikan nomor ponsel Helmi segera.
Akhirnya seorang rekan alumni memberikan nomor telepon Helmi lebih dulu daripada Risye.
“Assalamu’alaykum,” Helmi mengangkat telepon dari nomor yang tak terdaftar di ponsel miliknya.
“Wa’alaykum salam. Segera pulang dan bawa Vella kerumah kalau kamu masih ingin hidup!”
Dia tak ingin Vella dalam bahaya, maka dia segera menyuruh tukang rujak menyelesaikan pesanannya.
‘Kak ini nomor ponsel Helmi,’ chat dari Risye masuk ke ponsel Arie.
‘Terima kasih. Kakak sudah dapat juga dari teman alumni.’ balas Arie.
Tadi Arie sudah ingin mencari nomor telepon Helmi di ponsel Vella, tapi sayang ponsel dikunci sehingga dia tak bisa melihat disana.
“Vell, sorry. Barusan aku dapat telepon dari teman baruku di kost. Aku harus segera pulang. Ini rujak sudah aku bungkus. Kita langsung pulang ya.” Helmi langsung mencari alasan agar Vella bisa segera dia antarkan sesuai perintah Arie.
“Oh iya enggak apa-apa. Ayok cepet biar kamu juga cepet sampai rumah kost mu,” Vella menerima rujak pesanannya.
***
“Vell, aku langsung ya, salam buat kak Arie,” Helmi tidak mampir. Dia berhenti di pagar rumah kost.
“Iya. Makasih traktirannya ya Hel, sampai ketemu besok,” sahut Vella. Gadis itu melihat motornya sudah terpakir di ruang motor. Dia segera masuk ke dalam. Pintu kamarnya terbuka lebar. Artinya ada orang luar selain pemilik kamar.
__ADS_1
Vella masuk kamarnya, dia lihat Arie sedang melakukan salat Dzuhur. Vella segera menyimpan berkasnya di meja belajarnya. Vella juga menyimpan rujaknya di kulkas. Lalu Vella segera mengambil pakaian bersih untuk dibawa ke kamar mandi dan melakukan salat.
Arie telah selesai salat, dia melihat Vella masuk ke kamar mandi. Hatinya tenang karena kekasihnya telah kembali. Dia tak mau berselisih paham dengan Vella.
Vella serba salah melihat Arie duduk menantinya diluar kamar. Di lantai dasar rumah kost ini memang ada ruang tamu bagi semua penghuni. Arie tak menunggu Vella di kamar. Vella segera melakukan salat, sesudah itu dia keluar menemui Arie.
“Sudah makan?” tanya Arie lembut. Tak ada nada marah walau telah ditinggal pergi oleh Vella.
“Sudah,” jawab Vella sambil menunduk.
“Kenapa enggak belajar dari kesalahan? Ingat malam itu kamu ambil kesimpulan yang salah lalu langsung ngeblokir nomor Abang. Dan sekarang kamu main pergi tanpa tanya apa pun sama Abang. Untung ada Helmi kamu bisa makan dan pulang. Kalau enggak ada Helmi bagaimana? Ponsel dan dompetmu ada di Abang,” Arie pelan dan lembut menegur Vella.
“Kamu bukan anak kecil Yank, jangan cepat emosian. Buat apa Abang cepet-cepet ngerampungin semua kerjaan karena ngejar waktu pendaftaranmu kali ini? Itu semua bukti cinta Abang ke kamu. Selain kata-kata, kan cinta juga harus dibuktikan dengan perbuatan?” Arie diam. Dia tak tahu lagi harus bicara apa.
“Sekarang Abang pulang ya. Kamu istirahat aja,” Arie ingin masuk kekamar Vella untuk mengambil ponselnya yang tadi dia charge saat dia salat tadi. Dia ingin memesan ojek online.
“Bang … maaf,” cicit Vella lirih.
“Iya, Abang enggak marah,” Arie tersenyum sambil mengacak rambut Vella dan dia mengambil ponselnya. Dia langsung memesan ojek online tanpa mau ditahan lagi oleh Vella. Dia juga lapar dan mengantuk.
“Abang pulang ya, Asslamu’alaykum,” Arie mengecup kening Vella dan dia langsung kedepan karena ojeknya sudah datang.
Vella masuk kekamarnya dan mengunci pintumya. Dia tertidur hingga waktu Ashar tiba. Saat adzan Maghrib ada notifikasi pesan dari nomor Arie. Vella langsung tahu karena bunyi musiknya bedan dengan nomor biasa.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL WANT TO MARRY YOU YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1