UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
MULAI MEMBUKA KUNCI


__ADS_3

SPEECHLESS, hanya satu kata itu yang bisa aku katakan saat ini ketika aku tahu sejarah awal hidupku. ~Novella Moralette~


DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI. JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Endro sarapan dengan diam. Sesekali Arie dan Vella bicara, tapi selebihnya diam. Suasana pagi ini cukup mencekam. Taka da canda Vella dan Arie seperti biasa.


“Daddy enggak tahu harus mulai cerita ini dari mana. Tapi mari kita mulai membuka semua. Kita harus menggunakan pikiran jernih dan tanpa emosi,” Endro mengajak mereka berkumpul di ruang keluarga apartemen ini. Dia membawa satu kardus terikat rapi yang bersih tak berdebu. Artinya kardus tua itu terawat dengan baik.


“Mora, Daddy minta maaf bila selama ini banyak tindakan Daddy yang salah sehingga harus terjadi pelabrakan kemarin. Andai sejak kamu kecil Daddy tak menutupi hal ini tentu ceritanya akan lain. Dan andai saat kamu cerita tentang dosen yang selalu memandangmu dengan lekat, Daddy tanya namanya, kejadian kemarin pun bisa Daddy cegah,” sebagai langkah awal Endro minta maaf lebih dulu pada Vella.


“Delapan belas tahun lalu, menjelang ujian akhir SMA, gadis yang sejak kelas satu SMA Daddy cintai meminta Daddy mengantarkannya mencari dokter untuk aborsi,” Endro sangat terluka harus membuka luka lama ini.


Vella dan Arie menduga ‘Endro adalah bad boy sehingga kekasihnya hamil.’


“Dia hamil dengan kekasihnya, bukan dengan Daddy. Dimatanya Daddy hanya sekedar sahabat, karena usia Daddy satu tahun dibawah usianya. Dia bilang Daddy anak kecil buatnya,” Vella dan Arie sadar, tadi salah menduga tentang Endro.


“Daddy marah. Daddy bilang dia sudah melakukan zina, mengapa harus menambah dosa dengan menjadi pembunuh? Dan gadis itu bingung karena kekasihnya memberi dia uang untuk aborsi dan dia juga sudah diusir oleh orang tuanya.”


“Kalian bisa bayangkan bagaimana kondisi gadis itu? Mau ujian, hamil, kekasihnya tak mau tanggung jawab dan dia diusir dari rumahnya.”


“Daddy putuskan membawa dia ke rumah kost bibi Nungky, adik kandung ibu Daddy. Daddy bayar kost untuknya agar bibi Nungky tak curiga.”


“Lalu Daddy lari ke Kebumen. Usia Daddy saat itu baru enam belas tahun dan belum punya KTP. Daddy menghadap eyang minta dinikahkan dengan gadis itu. Eyang tentu kaget. Tapi setelah Daddy cerita dengan jujur, eyang langsung menyetujui menikahkan Daddy dengan dia. Nama gadis itu ANDIKA LARASATI. Semua temannya memanggil dia Dika, tapi Daddy memanggil dia Laras.”


“Syarat Daddy menikah dengan dia adalah pertama bila bayi itu lahir maka dia terdaftar sebagai anak paman Prasojo dan bi Nungky, walau perawatan tetap pada kami sebagai orang tuanya. Syarat kedua Daddy dan Laras harus terus kuliah hingga selesai. Dan syarat yang paling akhir ini yang berat buat Daddy. Daddy wajib menerima tanggung jawab meneruskan usaha eyang kakung.”


“Kenapa Daddy bilang syarat ketiga berat? Karena sejak dulu Daddy tak berniat meneruskan usaha eyang kakung dan eyang putri. Demi cinta Daddy pada gadis itu dan demi bayi didalam kandungannya, Daddy bersedia terikat dengan usaha eyang.”

__ADS_1


Vella langsung terisak. Dia sekarang tahu siapa bayi yang dikandung Andika Larasati karena dia tahu dalam aktenya dia anak Prasojo dan Nungky.


Arie berdiri ke meja makan. Mengambil kotak tissue dan memberikan pada kekasihnya.


"Tanpa menunda satu hari pun, kami langsung menuju Kutoarjo dan esok paginya Daddy menikah dengan Andika Larasati. Kami hanya bisa menikah secara agama, karena Daddy belum memiliki KTP.”


“Sehabis ujian, kami langsung kuliah di Singapore. Daddy ambil kuliah management dan istri Daddy ambil kuliah hukum sepertimu.”


“Kami hidup bahagia. Sebagai kepala keluarga, Daddy yang masih sangat muda tetap mencari nafkah walau eyang terus mengirim untuk kami. Itu sebabnya dua perusahaan milik Daddy berdiri di Singapore sini.” Arie makin kagum terhadap Endro yang bisa bersikap dewasa sebelum waktunya.


“Sesuai usia kehamilan, Laras melahirkan bayi mungil yang sangat cantik. Kami beri nama Novella Moraletta. Kami menganggap awal kejadian dirinya adalah seperti sebuah kisah dalam novel yang banyak memberi pesan moral pada kami,” akhirnya Endro menjelaskan kalau bayi itu adalah Vella.


“Laras sangat bahagia. Dia memberi ASI pada bayi kami. Buat Daddy bayi itu adalah anak kandung Daddy. Dia Daddy kenal sejak dalam kandungan.”


“Sayang ketika Mora berusia dua bulan Laras sakit, dan akhirnya meninggal saat kamu berusia lima bulan. Itu sebabnya kamu belum pernah mengenal Mommy-mu.” Arie mendekap erat Vella yang terus menangis mendengar kisah awal hidupnya.


“Itu kesalahan Daddy, tak mengenalkanmu pada sosok mommymu. Maafkan Daddy untuk hal ini. Daddy ingin hanya Daddy yang terluka atas kepergiannya. Kamu tak usah ikut kehilangan. Walau kamu punya mama, tapi kamu lebih dekat dengan eyang putrimu. Saat itu Daddy merasa tak apa kamu tak mengenal Mommy.”


“Semakin kamu besar, kamu sangat mirip dengan mommy-mu. Kalian hanya beda di rambut, karena rambutmu persis seperti rambut ayahmu. Dan siapa jati diri ayahmu, hanya Daddy yang tahu karena mommy-mu sudah tak ada. Bahkan mama dan papamu serta eyang juga tak Daddy beritahu,” Endro mengangkat kardus dan membukanya.


“Semua kisah awal hidupmu ada disini Mor,” Endro mempersilakan Vella mengambil banyak bingkai foto dan juga album foto dalam kardus itu.


“Ini Mommy?” tanya Vella tak percaya. Dia melihat foto permikahan Endro yang masih sangat muda dengan ‘dirinya’.


“Iya. Itu Mommy-mu. Kalian hanya beda di rambut. Rambut mommy ikal dan rambutmu lurus dan tebal seperti ayahmu,” jawab Endro.


“Lihat Abang. Ini aku dalam perut mommy,” Vella memperlihatkan pada Arie foto Laras didepan gedung kampusnya. Terlihat Laras tersenyum manis dengan memegang perut buncitnya. Rambut Laras panjang terurai diatas pinggang dan berombak.


“Ini foto saat kamu baru lahir, yang ambil foto mas Bagas. Saat kamu lahir semua datang. Papamu, mamamu, kedua masmu dan tentunya kedua eyang,” Endro memperlihatkan foto Vella dalam dekapan Laras dan Endro mencium pipi Laras dengan senyum manis.

__ADS_1


“Dan ini foto saat mommy belajar menyusuimu. Dia bilang sakit karena lidah bayi baru lahir sangat tajam,” Vella memperhatikan semua foto dan mendengar dengan saksama cerita dibalik foto itu.


“Lalu, ada hubungan apa dengan dosennya Ade Dadd?” tanya Arie penasaran.


“Dia merasa melihat kekasih yang dia telah sakiti pada wajah Mora,” jawab Endro.


“Jadi … jadi,” Vella diam. Dia bisa menyimpulkan semua.


Endro hanya mengangguk dengan wajah datar.


“Maksud Daddy, dia ayahnya Ade?” tanya Arie memastikan.


“Iya. Dia melihat wajah Dika diwajah Mora. Itu sebabnya dia selalu memandang wajah Mora tanpa bisa berpaling.”


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  THE BLESSING OF PICKPOCKETING  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL  THE BLESSING OF PICKPOCKETING   ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2