UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
SEPERTI KENA TUSUKAN ANAK PANAH BERACUN


__ADS_3

Banyak anak muda yang serba salah bila bertemu dengan orang tua kekasih. Belum tentu akan jadi calon mertua kan? Untung aku santai aja. Terserah dia mau terima aku apa enggak. Kalau enggak mau terima, ya cari lelaki lain yang orang tuanya mau terima aku. ~ Novella Moraletta~


DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Serius Yank?” tanya Aire penasaran.


“Iya lah, dari nyuruh jangan telat makan, nyuruh berdoa saat mau ujian, nyuruh belajar, nyuruh jangan begadang, apa itu enggak menyiratkan rasa sayang Kakak ke aku? Tapi aku kan enggak mau ke ge er an. Kali aja Kakak berlaku begitu buat semua perempuan. Kan amsyong kalau aku cuma salah duga,” jawab Vella dengan pasti.


“Maaf ya Yank, Kakak enggak tahu kamu nunggu kepastian itu, pantas kamu marah saat Serena bilang dia pacar Kakak ya. Seakan bahwa dugaanmu ke ge eran itu benar,” Arie menyadari semua kejadian antara dirinya dan Vella.


Sementara Harllo seperti kena tusukan anak panah beracun mendengar pengakuan Vella. Jadi selama ini Asih juga mengharap kepastian darinya. ‘Maafkan aku sweety, nanti saat kita berdua, aku akan nyatakan rasa cintaku padamu.’


Tetiba ponsel Vella banyak notif chat group masuk. ‘Kalian lihat IG kak Arie siang ini enggak girls?’ tanya Siena.


‘Aku udah lihat, kalau enggak salah kak Arie dan kak Harllo pagi ini emang ke bantaran kali Ciliwung,’ balas Risye.


‘So sweet banget kan dia, andai tu ceweq adalah gue,’ balas Wieke.


‘Gue juga pengennya gue kali,’ balas Merry.


‘Aku udah lama kenal kak Arie, jadi enggak pengen,’ balas Risye. Dia memang sudah tiga tahun kenal Arie.


‘Girls, body tu ceweq koq mirip Vella ya,’ chat Dian ini sengaja di tag ke nama Vella.


‘Koq iya, ya,’ sahut Merry.


‘Jam tangan mereka couple lho. Perhatiin enggak?’ tanya Dian.


‘Iya, keren ih kak Arie,’ sahut Merry.


Penasaran, Vella membuka media sosial miliknya dan mencari akun Arie. Di sana dia melihat sebuah foto, Arie mengulurkan tangan kirinya pada tangan kiri seorang gadis yang sama-sama menggunakan arloji sejenis. Yang tampak hanya punggung gadis itu dengan topi cowboy dan wajah Arie yang tersenyum manis.


‘Kegiatan kali ini super special, karena gadis yang kukasihi menyertaiku di lapangan!’ itu caption yang Arie tulis dan dia mention Harllo dan Asih serta lokasi kegiatan mereka tadi.


‘Untung dia enggak nge tag akunku,’ Vella masih senang dia aman. Tapi membaca banyak komen di sana Vella makin sadar banyak pemuja yang Arie miliki.


‘Kak, postinganmu bikin ribut di groupku,’ walau berdekatan Vella mengerti Arie sedang sibuk diskusi dengan Asih dan Harllo. Dia tak mau mengganggu, maka hanya mengirim pesan saja.


“Jadi ambil buku di rumah gue?” tanya Arie pada Asih.

__ADS_1


“Jadilah, biar cepet jadi makalahnya,” sahut Asih cepat.


“Ya udah sekarang aja yok, biar Vella enggak kemalaman pulangnya,” Arie pun mengajak mereka keluar ruangan itu dan menguncinya dari luar.


“Ke rumah Kakak dulu baru nanti Kakak antar pulang ya?” Arie menyampaikan Asih dan Harllo harus mengambil diktat untuk bahan makalah mereka.


“Iya enggak apa-apa, paling nanti mampir ke mini market sebentar beli pembalut, lalu aku numpang ke toilet aja, mau ganti pembalut,” balas Vella.


“Kakak bawa pembalut ganti Vell, pakai punya Kakak aja. Kita samaan ya dapatnya,” rupanya Asih juga sedang dapat tamu bulanan.


“Oh ya sudah, aku minta satu ya Kak,” jawab Vella. Dia beruntung tak perlu repot cari pembalut dulu di minimarket.


***


“Kak, kalau posting jangan tag akunku ya,” pinta Vella, mereka berada berdua di mobil Arie.


“Kamu enggak mau kita show up?” tanya Arie penasaran.


“Belum siap ngadepin fans Kakak, biar aja aku tetap seperti sekarang. Ada di zona aman,” jawab Vella.


“As you wish Babe,” jawab Arie sambil menengok wajah bening Vella yang tak mau membalas kata cintanya dengan kata lisan tapi menunjukkan perbuatan kalau gadis itu tak menolak cinta yang dia berikan.


“Iya ini, ini kresek buat bungkus yang kotornya,” Asih memberikan satu buah pembalut dan satu buah kresek kecil hitam yang dia lipat rapi.


“Silakan kalau mau ke kamar mandi, aku tunggu di gazebo belakang aja ya,” Arie menunjuk kamar mandi dekat gazebo pada Vella, Asih tentu tak perlu dia beritahu karena sahabatnya itu sudah hafal letak beberapa ruangan dirumahnya.


Asih sengaja membuat Vella ke kamar mandi duluan karena dia mau menaruh berkas di gazebo lebih dulu. Harllo dan Arie ke atas ke kamar Arie untuk salat dan mengambil diktat yang mereka butuhkan.


“Lho, Ibu koq tumben di rumah?” Arie yang akan naik ke kamarnya bertemu dengan Widowati, ibunya.


“Ibu pulang cepat, karena besok pagi mau kunjungan ke Palembang Jadi harus siap-siap,” sahut ibunya.


“Kamu bertiga?” Wied sengaja tanya karena hendak memerintah para asisten rumah tangganya membuatkan minum bagi tamu anaknya.


“Berempat Bu,” sahut Arie


“Sama pacarnya Arie Tante,” lapor Harllo, dia sudah akrab dengan orang tua Asih dan Arie karena tiga tahun full mereka bersama.


“Owh ya? Kalau begitu biar Tante kenalan,” Wied pun turun ke dapur.


“Bikinkan juice sirsaknya empat gelas dan singkong goreng keju bawakan ke belakang ya,” perintahnya pada seorang asisten rumah tangga. Dia pun segera ke gazebo. Putra sulungnya memang biasa mengajak kedua sahabatnya duduk belajar bersama di sana. Kalau tak bersama Asih baru Arie mengajak Harllo ke kamarnya.

__ADS_1


“Hallo Sih,” sapa Wiedo.


“Sore Tante,” sapa Asih pada ibunya Arie.


“Katanya kalian berempat?” tanya Wied penasaran. Bayangkan putranya ganteng, pinter, mapan karena sejak SMA punya usaha sendiri tapi sampai saat ini diusia 20 tahun dan hampir lulus jadi dokter belum pernah satu kali pun pacaran.


“Iya Tante, sama teman. Dia lagi ganti pembalut,” Asih memberi salim pada ibunda Arie itu.


“Assalamu’alaykum,” sapa Vella saat melihat sosok yang berdiri memunggunginya.


“Wa’alaykum salam,” sahut Wiedo sambil berbalik badan. Dia lihat gadis kecil hitam manis berdiri di depannya dengan mengulurkan tangan hendak salim pada dirinya.


“Vella Tante,” Vella mencium punggung tangan ibunda Arie.


“Tante, gantian Asih yang ganti pembalut ya,” Asih pamit pada Wiedo.


“Duduk Nak, kamu teman kuliah Abang?” tanya Wiedo.


“Bukan Tante, saya baru lulus SMA, kami satu alamamater SMA saja,” jawab Vella.


“Wah gitu, kirain teman kuliah. Lalu rencananya kamu mau kuliah dimana?” selidik Wiedo.


“Saya dapat beasiswa di Semarang dan Jogja, tapi sudah diputuskan akan ambil yang di UGM,” balas Vella sopan.


“Kamu dapat beasiswa di UGM? Tante alumni fakultas hukum di UGM,” ibunda Arie memberitahu dia lulusan UGM.


“Saya juga ambil di fakultas hukum Tante,” Vella malah tak menyangka akan mengikuti jalur ibunda Arie.


\==================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA BARU MILIK YANKTIE DENGAN JUDUL NOVEL  UNCOMPLETED  STORY YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2