UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
S.O.S DARI SIENA


__ADS_3

Untuk mengungkapkan suatu hal, kadang kita tak perlu repot. Ceritakan saja secara bisik-bisik ‘rahasia’ kita pada sosok lambe turah. Maka BOOM, cerita kita akan dengan cepat menyebar. Itu yang akan aku lakukan tentang hubunganku dengan Vella besok hari Sabtu. ~Ashoery Rustamaji~


DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Yank, setelah kita resmi secara legal di depan semua hari Sabtu besok, Abang boleh pajang foto kita berdua tampak muka?” tanya Arie saat mereka sedang video call malam ini.


“Kalau menurut Ade sih kita bikin aja acara besok itu lamaran resmi kita. Lalu nanti pas akad nikah ya kita ‘umum’ kan walau enggak resmi. Kita kasih tahu aja beberapa mulut ember. Kirim foto pernikahan kita. Pasti kan akan langsung tersiar tuh. Jadi pas nanti kita resepsi, kita udah enggak perlu takut bila saat itu Ade sedang hamil,” jawab Vella santai.


“Abang juga sependapat. Itu kita aja yang atur. Seakan kita enggak ngumumin. Jadi ibu enggak bisa salahin kita,” balas Arie.


“Tapi kalau soal hamil, Abang punya pendapat lain Yank. Satu Abang ingin kamu hamil saat tubuhmu sudah cukup umur. Yang kedua Abang pengen kamu hamil saat kita udah tinggal bersama. Abang enggak pengen kamu hamil jauh dari Abang,” Arie tahu kesulitan wanita hamil.


Baik dari soal penyesuaian tubuh mau pun soal persiapan mental. Arie tak ingin Vella merasa sendirian saat dia sedang hamil. Itu tak baik bagi kesehatan mental bayi dalam kandungan.


“Itu terserah Abang deh. Nanti Abang yang tentuin juga program pencegahan kehamilannya,” sahut Vella.


Vella baru saja selesai melakukan video call dengan kekasihnya ketika ada notifikasi di group WANITA CANTIQUE. Genks SMA nya berubah nama karena mereka sekarang merasa bukan anak ABG lagi.


‘Any body can help me please,’Siena menulis pesan dengan emoticon menangis.


‘Kau kenapa Na?’ tanya Vella yang memang masih pegang ponsel.


‘Bantu apa?’ tanya Merry.

__ADS_1


‘Hey kamu kenapa?’ tanya Wieke.


Vella langsung membuat panggilan video di group. Dia tak ingin mereka bicara lewat chat. Dari situ semua bisa melihat kondisi Siena. Matanya bengkak.


“Kamu kenapa Siena?” tanya Dian. Riesye belum masuk ke pembicaraan kali ini. Mungkin sudah tidur.


“Istri papaku berulah. Dia kehabisan uang untuk berfoya, foya lalu dia pinjam uang pada rentenir,” Siena bercerita sambil terisak.


“Lalu?” tanya Merry tak sabaran.


“Dia minta papa membayar, tapi uang papa kan sudah di dia semua. Akhirnya perempuan sinting itu ngasih aku buat jadi pengganti pembayaran,” sampai sini Siena tak mampu lagi melanjutkan.


“Dia kasih alamat oma disini. Suruh ambil aku. Oma dan mama tentu enggak ngasih. Tapi mereka ngancam. Ada yang bisa kasih jalan keluar?” tanya Siena.


“Kasih alamat istri papamu itu ke aku. Aku akan minta mertuaku yang urus. Dia di DPR memang divisi perlindungan perempuan,” sahut Vella yang tak sadar menyebut kalau yang akan membantu adalah mertuanya.


“Kamu harus sembunyi Na,” saran Merry.


“Mau sembunyi kemana? Perempuan itu sudah kasih alamat semua keluarga mamaku."


“Balik ke Jakarta,” usul Wieke.


“Mau ngapain aku ke Jakarta? Apa nanti enggak makin parah bila ketahuan istri papaku?” Siena tak bisa menerima usulan Wieke itu.


“Sebentar. Kalian dengar aku,” Vella minta semua diam.


“Sien. Kalau kamu aku umpetin, kamu pisah dulu dengan mamamu mau enggak? Kamu bisa kuliah di tempat persembunyianmu. Atau bisa juga kamu bekerja karena kamu akan sembunyi di sebuah lembaga pendidikan milik eyangku. Ada asramanya. Kamu akan aman. Tapi kamu terpaksa pisah sementara dengan mamamu.”

__ADS_1


“Kalau aku sudah bicara dengan eyang, mungkin akan bisa juga eyang menerima mamamu bekerja di yayasan. Tapi enggak langsung. Tapi kalau untukmu aku jamin bisa,” Vella memberitahu semuanya mengenai yayasan yang dimiliki oleh ibu daddynya.


“Nah itu jalan cukup baik kalau kamu mau ambil Siena,” Dian setuju dengan usulan Vella.


“Kalau kamu mau, aku bisa belikan tiketnya,” tanpa ragu Merry langsung bergerak.


“Aku bilang mama dulu malam ini. Aku mau banget Vell. Terlebih kalau memang ada tempat untuk mama dan Rafli,” sahut Vella.


“Kalau untuk Rafli sekolah pasti ada. Soal kerjaan mamamu aku yakin ada, tapi aku butuh waktu bicara dengan eyang. Yang pasti untukmu dan Rafli eyang bisa tampung,” Vella tak asal sesumbar tapi memang itu kenyataannya.


Yayasan yang mereka bicarakan adalah yayasan yang harus dia pimpin kelak seperti pesan eyang beberapa waktu lalu. Karena eyang kurang sreg bila dipegang Bagas atau Seto.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL  UNCOMPLETED STORY  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL UNCOMPLETED STORY ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaaaaaaaaaa….


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.


Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2