
Ketika temanku bercerita anaknya baru dapat pacar lagi, atau anaknya patah hati bla bla bla. Aku hanya diam karena putra sulungku tak pernah pacaran atau tertarik dengan lawan jenis. Aku takut dia belok sedang dia hampir jadi dokter, ternyata dia membawa sosok gadis manis yang saat melihat pertama kali aku ‘jatuh cinta’ pada sosoknya. Kalau anak bahagia, mengapa aku harus menghalanginya? ~Widowati~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Kamu di sana kost atau tinggal di rumah saudara?” tanya Wiedo dengan senang. Setidaknya putranya memilih perempuan pintar.
“Kost Tante. Kedua kakak dan kakak ipar saya semua lulusan UGM, mereka yang carikan tempat kost. Dua minggu lagi saya berangkat ke Kutoarjo sebelum memulai kuliah. Karena rumah orang tua saya di Kutoarjo. Saya disini tinggal dengan kakak,” Vella bingung kalau cerita dia tinggal dengan daddynya.
“Asyik ngobrol apa?” tanya Arie yang sudah sampai di gazebo membawa beberapa diktat kuliahnya.
“Kamu kalau kangen Vella, kamu bisa ke Jogja dan bisa nginap ke rumah pakde Wito atau pakde Guruh Bang,” Wiedo langsung memberitahu Arie tentang kedua kakaknya. Wiedowati asli Klaten, tapi kedua kakak kandungnya sudah menetap di Jogja.
Sedang Ayah Arie asli Samarinda, maka Arie tidak dipanggil Mas, melainkan abang. “Ibu nih, semester depan tu Abang super sibuk, mana bisa ke Jogja. Lagian kalau libur semester gadis Jogjanya pasti pulang ke Kutoarjo. Mau nengok siapa coba disana?” tanpa malu Arie malah menanggapi perkataan Wiedo.
“Kayaknya langsung dapat lampu ijo aja Tante?” Harllo menggoda Arie.
“Kak Harllo apaan sih,” Vella malah jadi tak enak.
“Kamu dengar sendiri ’kan kalau tante Wied malah nyuruh Arie nengokin kamu ke Jogja kalau dia kangen. Apa bukan langsung dapat lampu ijo itu namanya? Enggak pake drama penolakan dari calon mertua!” Harllo malah nyengir menerima protes dari Vella.
“Kalau anaknya bahagia, kenapa harus dipersulit?” bu Wied malah menyetujui perkataan Harllo yang menyatakan dia memberi lampu hijau pada putranya.
“Kamu beruntung Vella,” Asih juga langsung ikut nimbrung. Dia pun tak takut ada drama dari calon mertuanya karena kedua orang tua Harllo sudah menyukainya. Sedang mamanya juga sudah menerima Harllo saat Asih mengatakan dia mencintai lelaki itu. Hanya itu belum dia beritahu ke Harllo.
Arie melihat kekasihnya tersipu malu. Dia pun mengusap lembut puncak kepala Vella.
“Abaaaaaaaaaaaaaaaaaang!” pekik dua gadis kecil terdengar mengganggu suasana romantis itu.
Frina dan Frani berlari dan balapan memeluk abang mereka. “Yeaaaaay, Ade menang, seru seorang gadis kecil berambut ikal mirip rambut bu Wiedo.
“Huuuuh,” seru gadis dengan wajah serupa hanya rambutnya lurus tebal. Rupanya dia kesal karena kalah.
“Ade, Kakak kenalan sama mbak Vella,” bu Wiedo menyuruh dua putri kembarnya untuk bersalaman. Kedua putrinya berusia sebelas tahun dan baru saja lulus SD. Mereka sudah akan masuk SMP dan mereka berdua minta masuk ke SMP yang berbeda.
__ADS_1
“Vella, ini adik kembar Abang,” kembali bu Wiedo yang memperkenalkan.
“Hai cantik, siapa namamu?” tanya Vella pada si rambut ikal.
“Frani Mbak,” sahut si bungsu yang masih memeluk erat Arie. Mereka memang sering balapan untuk memeluk siapa yang mereka tuju. Kali ini sasaran mereka adalah kakak sulung mereka.
“Aku Frina,” sahut si rambut lurus.
“Ayok kita masuk, biar Abang lanjut belajarnya,” bu Wiedo mengajak si kembar masuk dan meninggalkan empat anak muda itu di gazebo.
“Abang, aku pulang sekarang ya. Enggak usah diantar. Aku pakai taksi online aja,” bisik Vella yang merubah panggilannya menjadi abang buat Arie.
“Tunggu, ini tanggung mau adzan Maghrib. Habis salat Maghrib, Abang antar pulang,” sahut Arie senang. Tak menyangka mendapat panggilan special secepat ini.
“Iya Vell, kami juga habis salat Maghrib pulang koq,” Harllo menyetujui perkataan Arie. Dia juga akan mengantar Asih pulang, karena motornya ada di rumah Asih.
***
“Apa benar yang Vella katakan tadi?” tanya Harllo saat mereka meninggalkan cafe Arie menuju ke rumah Arie. Fash back dikit sebelum sampai rumah Arie ya.
“Perkataan Vella yang mana?” tanya Asih. Kan sepanjang pagi sampai siang ini Vella banyak berkata-kata. Perkataan yang mana yang Harlo maksud?
“Sekarang kamu mau beli mangga satu kilo di pasar, apa kamu akan ambil itu mangga, lalu kamu timbang sendiri dan langsung bayar tanpa mengatakan apa pun pada penjualnya?”
“Apa kalau kita mau makan di mekdi kita cuma tunjuk-tunjuk tanpa bicara untuk memesan?” balas Asih.
“Sama juga. Mau kamu menyatakan perbuatan kalau kamu care ke aku, perhatian ke aku, mana aku bisa yakin? Karena kamu juga selalu ramah ke teman lain. Enggak pernah ngebentak mereka juga kan? Lalu kalau aku cuma ke ge er an gimana? Bahkan kamu enggak selebay Arie yang ngucapin selamat tidur, jangan telat makan bla bla bla kan?” jawab Asih cepat.
“Maaf, aku pikir kamu ngerti apa maksudku,” jelas Harllo sambil menggenggam jemari tangan kanan Asih.
“Kamu bilang mamamu kalau kamu punya pacar dan jangan mau dinikahin ya?” pinta Harllo.
“Tapi kan aku enggak punya pacar?” goda Asih. Gadis itu tahu dan paham maksud perkataan pemuda yang sejak dulu dia cintai itu.
“Jangan gitu dong. Kan aku sayang ke kamu udah lama. Kamu sih perlu penjelasan dengan kata-kata,” protes Harllo. Dia memberanikan mendekatkan jemari Asih ke bibirnya. Dia kecup lembut.
__ADS_1
“Jadi sekarang kita pacaran?” tanya Asih sok memastikan.
“Udah lama lho kita pacarannya. Kamunya aja yang enggak tanggap,” balas Harllo lagi.
“Kan, aku terus yang salah,” rajuk Asih.
“Iya deh. Sekarang aku tegaskan ke kamu ya. Mulai hari ini. Suryasih Dewi Suprapto adalah kekasih resmi Harllo Putranto Sukardi!” Harllo menegaskan status mereka mulai hari ini.
“Enggak romantis banget sih,” protes Asih.
“Yang penting kamu enggak dijodohin dulu. Kalau kelamaan nanti kamu keburu digondol orang,” sahut Harllo. Tentu dia tak ingin kekasihnya dijodohin dengan orang lain.
***
“Kenapa ibunya Abang langsung bilang gitu? Apa Abang bilang kita jadian?” tanya Vella saat mereka dimobil menuju rumah Bagas.
“Tadi Harllo kasih tahu Abang ngajak kamu. Harllo bilang ke ibu kamua pacar Abang. Ibu itu sejak dulu takut kalau Abang belok, jadi dia pasti lah excited tahu Abang bawa pacar ke rumah,” jawab Arie jujur.
“Padahal kan bukan niat Abang ngajak ke rumah? Kalau kak Asih enggak butuh buku juga Abang enggak ngajak ke rumah ‘kan?” balas Vella.
“Abang niat ngajak ke rumah, tapi enggak baru jadian juga kalee, takutnya kamu enggak pede diajak kenalan ama orang tua Abang. Kamu aja kemaren enggak mau Abang langsung kenalan dengan mbak Nungki,” sahut Arie.
“Ha ha ha, iya sih. Eh kita ke rumah daddy ya. Ada yang mau aku ambil di sana sekalian aku kenalin Abang ke daddy,” Vella minta diantar ke rumah Endro sebelum mereka ke rumah Bagas kembali.
“Ma, kami makan malam di rumah daddy ya, jadi pulangnya malam ke rumah mas Bagas,” Vella langsung menghubungi Nungky saat tahu Arie mau mengantarkannya ke rumah Endro terlebih dahulu.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG BERJUDUL BETWEEN QATAR AND JOGJA YOK
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta