UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
PRAMBANAN


__ADS_3

Budaya nenek moyang kita sangat tinggi nilainya. Seharusnya kesadaran anak bangsa untuk menjaganya dijadikan titik pembelajaran. Karena banyak terlihat anak bangsa yang tak peduli kelestarian kekayaan budaya Indonesia ini~Merry~


Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Lho. Ini sudah sampai pemberhentian terakhir. Kita enggak nyasar Vell?" Tanya Siena.



"Ha ha ha, enggak lah, tadi kan kelihatan petunjuk arah candi sebelum bus belok masuk halte," malah Dian yang menjawab. Rupanya Siena tak melihat.



"Jadi dari sini kita kemana nih Vell?" tanya Risye.



"Kalau menurut petunjuk kita bisa jalan kaki sampai ke pintu masuk candi. Tapi kalau enggak mau jalan ya kita naik becak lagi sampai di gerbangnya Prambanan."



"Masalahnya kalau kita jalan kaki nanti kita terlalu capek! Sedangkan di Prambanan itu jauh banget dari dalam pintu masuk ke belakang pintu keluar."



"Muternya super jauh. Jadi terserah dari sini kita mau jalan kaki atau naik becak dulu sampai gerbang candi," tanya Vella.



"Kita naik becak aja lumayan ngasih rezeki buat orang," jawab Risye.



"Iya sih kita ngirit tenaga dulu,"  jawab Dian. 



Mereka pun kembali naik becak sampai di depan gerbang Prambanan. Tak lupa tentunya sejak dari naik bus Trans Jogja, turun di halte Prambanan sampai di depan Prambanan pun mereka pasti selfie dan langsung bikin heboh di media sosial.



"Ih cantiknya ya. Nggak nyangka ya dekat banget sama rumahmu" kata Wieke.



Merry dan yang lainnya tak lepas-lepas berfoto dengan keindahannya budaya Indonesia.



Warisan budaya yang teramat besar dan indah.



"Aduh kita ke Prambanan aja udah kayak gini. Ingat nggak waktu kita Borobudur dulu? Kalau dulu kita udah bersama pasti akan heboh ya," seru Dian.



"Iya kita dulu ke Borobudur pasti kelas sepuluh ya. Dan kita belum akrab," sahut Wieke. Mereka memang pernah piknik bersama ke candi Borobudur saat awal SMA.



"Iya kita belum akrab," jawab Merry

__ADS_1



Mereka terus berfoto sambil terus berjalan.



"Oh pantes ya dibilang jalannya jauh karena kita nggak bisa keluar lewat jalan masuk tadi ya."



"Iya jadi memang ke sini harus staminanya bagus dan untuk orang difabel jadi agak sulit. Begitu pun untuk orang tua jadi agak sulit karena kan muternya terlalu jauh. Kasihan mereka pengen ikut foto di sini ikut menikmati keindahan sejarah tapi sulit dijangkau."



"Ya itu memang kebijakan pemerintah sini," kata Risye.



"Iya kita cuma ngikutin aturan aja. Ini kan omongan kita aja bukan mengkritik pemerintahnya," Vella memang menyayangkan kebijakan. Tapi aap mau dikata?



Tak puas-puas mereka berfoto-foto di candi Prambanan itu. 



"Sebenarnya di seberang jalan raya ini ada candi Boko dan belum pernah aku datangi juga. Kalian gimana mau kesana?" tanya Vella.



"Capek lah.  Kita kan sore masih ada jalan sore dan malam lagi." Merry tak mau ke candi Boko.



"Sebaiknya sore kita istirahat aja. Malam kita makan oseng-oseng mercon yang fenomenal," ajak Siena.




"Kalau kamu nggak kuat makan yang lain tapi kan sudah sampai Jogja nggak ke oseng-oseng mercon rasanya belum sah," bujuk Riesye.



"Iya. Disana menunya lengkap. Banyak pilihan koq. Banyak yang enggak pedes juga," sahut Siena. 



"Oh sebelum ke oseng-oseng mercon, kita ke Mirota Batik dulu. Mirota Batik ini sama dengan pasar Beringharjo. Cuma ya harganya harga supermarket lah. Harga pas berbandrol bukan sistem tawar menawar seerti di pasar."



"Walau pun berbandrol, harganya jauh di bawah pasaran."



"Jadi dari rumah nanti ke Mirota Batik. Setelah itu di depan nyebrang jalan buat makan oseng-oseng mercon,"



"Jadi sore ini kita istirahat ya," kata Riesye. Mereka baru keluar dari pintu belakang candi.



"Iya sore kita istirahat saja baru kita ke Mirota Batik. Nanti malam aku harus pulang lo. Aku enggak mau  dimarahin sama Kak Arie." Vella berniat minta jemput di lokasi makan malam saja. Dia tak perlu kembali ke rumah Siena.


__ADS_1


"Jadi kita kembalinya naik apa nih?"



"Ya nggak usah ditanya lah balik lagi naik becak sampai ke halte trans Jogja."



"Sampai trans Jogja kita naik lagi ke arah rumah."



Vella tertawa saja mendengar ke seruan debat teman-temannya itu.



"Sekarang bukan naik yang ke arah Malioboro lagi. Kita mengarah yang langsung ke dekat rumahnya Siena. Nanti dari halte terdekat itu kita tinggal jalan kaki ke arah rumah deh."



"Wow cuma sekali lagi? Sekali naik bus doang?" kata Dian.



"Iyalah sekali DOANG,  Betawi banget kan kita pakai doang," tawa Vella menggema. Kata doang memang dialek Betawi yang persamaan katanya hampir sama dengan SAJA. 



Mereka pun kembali naik becak ke arah halte trans Jogja.



"Tanya dulu nomor berapa yang ke arah kampis Yaspati. Itu kan beda dengan yang ke arah Malioboro," usul Siena.



"Iya kita tanya dulu lah," sahut Wieke. 



Mereka pun bertanya mana arah yang ke arah mereka ingin tuju. 



"Naik nomor kosong enam saja Mbak. Nanti ganti di daerah Demangan. Kondekturnya akan mengarahkan koq disetiap akan berhenti. Tapi lebih bagus saat baru naik katakan kalian ingin kemana agar nanti kondektur lebih tepat sasaran," sahut petugas trans Jogja dengan ramahnya.



"Iya Mas terima kasih," jawab Dian dengan sopannya. Mereka pun naik bus Trans Jogja yang menuju kampus Yaspati seperti yang diarahkan oleh petugas tadi.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU ya.



![](contribute/fiction/5890234/markdown/10636434/1675274832819.jpg)


__ADS_1


Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul WANT TO MARRY YOU itu ya.


__ADS_2