
Aku tak tahu dan belum tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Kalau jatuh bisa bangun lagi enggak? Yang pasti saat pertama lihat dia datang, aku sangat tertarik padanya. Apa ini yang disebut falling in love at first sight?~Pandu Kesuma~
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Risye duduk di sebelah driver yang merupakan ajudan papanya kak Arie. Ini berarti empat temannya yang lain duduk di belakang. "Mas namanya siapa?" goda Dian sambil mencolek lengan kiri driver itu.
"Eh saya Kak? Saya Pandu,' jawab si sopir terbata. Mungkin dia tidak enak pada teman-teman anak atasannya itu.
"Ha ha ha aku merasa tua banget dipanggil kakak," kata Dian.
"Jangan KAK lah, panggil namaku aja. Namaku Dian," jawab Dian.
"Kita seumuran deh," kata Wieke ikut nyambung ke obrolannya Dian.
"Kalian satu tingkat dengan mbak Vella?" tanya Pandu ragu-ragu. Biar bagaimana pun dia tak berani menyebut Vella langsung nama saja. Vella adalah menantu atasannya.
"Iya, kami sahabat Vella dari SMA," jawab Merry.
"Kalau saya sepantaran dengan Kak Arie, cuma saya kuliahnya baru tingkat tiga."
"Oh kamu sepantaran kak Arie." Jawab Merry
"Iya Kak Eh mbak eh siapa namanya?" tanya Pandu sambil melihat spion di dalam mobil.
"Oke aku kasih tau semua. Yang sebelah kamu itu namanya Risye. Aku Merry dan sebelahku Dian."
"Yang belakang sana Wieke dan paling ujung adalah Siena yang punya rumah tempat kami menginap."
__ADS_1
"Saya Pandu saya asli Bogor," cetus pemuda lajang itu.
"Wah bisa janjian sama Risye tuh kalau kamu pulang kampung. Risye kuliah di Bogor." Risye dan Pandu sama-sama diam mereka seakan malu untuk bicara.
"Risye kok diem aja sih nggak ngomong, itu ada orang Bogor kamu diem aja," goda Siena.
"Aku harus bilang apa? Orang aku ke Bogor juga cuma tahunya dari stasiun ke kampus lalu balik lagi ke rumah nggak pernah ngelayap di Bogor. Aku nggak ngerti mau ngobrol apa soal Bogor," kata Risye tak enak.
"Ngobrol yang lain juga enggak salah kan? Janjian ngedate juga enggak apa-apa. Jadi kamu ada yang antar liat-liat kota Bogor," si kompor Wieke menggoda Risye. Yang digoda hanya melempar pandangan ke luar jendela mobil.
Akhirnya mereka ngobrol yang ringan-ringan saja misal tentang Pandu bisa bertugas mengawal anak Jenderal dan sebagainya.
"Kamu tahu daerah Jogja? Hafal semua lokasi?" tanya Wieke.
"Enggak terlalu sih Mbak, tapi kan sekarang gampang pakai Google Map. Walau Google Map juga sering-sering bikin nyasar juga sampai gang-gang kecil tapi setidaknya nggak terlalu buta lah." Pandu menjawab sambil nyengir karena sering salah masuk gang kecil bila mengikuti google maps.
"Kami nggak bebas kayak mahasiswa umum kalau liburan lalu bebas keluar tanpa seragam. Kami nggak bisa seperti itu," terang Pandu.
"Kami terikat peraturan yang ketat kata Pandu lagi.
"Seketat-ketatnya buktinya Jenderal mu itu bisa dapat mamanya Ari," kata Dian.
"Iya saya tahu, Pak Jenderal juga saat itu katanya sedang bertugas seperti saya di Jogja kebetulan ke kampus UGM dan dia bertanya pada seorang mahasiswi di sana yang sedang juga bertiga dengan para sahabatnya."
"Lalu katanya pak Jendral kenalan dengan tiga gadis itu. Itulah proses perkenalan Pak Jenderal dengan ibunya Arie yang sampai di telinga kami para ju-niornya ini."
"Emang nggak dilarang kalau pacaran?" tanya Dian penasaran.
__ADS_1
"Enggak lah kalau pacaran dalam tahap normal," kata Pandu.
"Tapi biasanya ada skrining ketat saat akan menikah. Hal keperawanan pun itu akan diperiksa. Masih perawan atau tidak dan sebagainya. Itu semua ada dalam skrining." Jelas Pandu.
"Wah hebat ya." komen Dian lagi.
"Ya begitulah ketatnya kami," jawab Pandu sambil sesekali dia melirik gadis di sebelahnya. Tapi sayang gadis itu terus memandang ke arah luar jendela.
"Nanti kita boleh tukeran nomor ponsel tanya?" Pandu bertanya entah pada siapa.
"Oh boleh aja," jawab Merry.
"Baik terima kasih ya Mbak," jawab Pandu dengan senyum tipis.
Mereka tiba di pabrik coklat monggo.
Semua turun dengan tak sabaran. Sebelum masuk Pandu berbisik pada Risye : "Sebenarnya aku tuh cuma minta nomor teleponmu aja. Bukan yang lain."
Risye menoleh dan menatap Pandu tanpa berkata apa pun lalu masuk mengikuti teman-temannya yang lain yang sudah lebih dulu. Tapi Pandu masih sempat memegang jemarinya yang segera di tepis oleh Risye.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNCOMPLETED STORY itu ya.
__ADS_1