UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
MEREKA TAK PERNAH ADA UNTUKKU


__ADS_3

Banyak orang tua merasa telah memberi segalanya buat anak. Mereka jungkir balik mencari harta hingga lupa waktu, lupa anak di rumah butuh touch. Butuh sapa dan kasih sayang mereka~Helmi Muchlis Tanjung~


Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Ternyata yang hari ini menyetir mobil adalah Duldul. Duldul diminta membawa mobil karena atasan masih meragukan kesehatan Pandu yang belum prima untuk menempuh perjalanan jauh. 



Tapi karena perintah pusat Pandu harus berangkat maka Pandu hanya sebagai driver pengganti.



"Ndu kamu tidur dulu, karena besok kamu akan menemani kekasihmu. Saat sampai Jakarta aku akan tidur, kamu bisa membawa mobil karena hanya dalam kota saja,"  Duldul memerintah Pandu, ju-niornya untuk tidur lebih dulu.



"Enggak apa-apa Kak. Nanti pas sudah setengah perjalanan saya akan tidur,"  Pandu tentu belum mengantuk. Tadinya dia mau bawa sejak dari Magelang tapi tak diizinkan oleh Duldul.



"Vella, ingat nggak kita diminta gantian pasangan naik becak waktu kemarin dia ke Jogja?" Siena bertanya saat mereka dalam perjalanan menuju Jakarta.



"Inget banget lah," kata Vella.



"Dia bilang kita semua harus punya kenangan sama dia. Kita pikir saat itu biar kita enggak monoton akrab sama satu orang aja. Ternyata ini maksud dia saat itu," kata Vella.



 "Iya trus dia sampai dikatain kalap sama Wieke karena belanja banyak banget.  Ingat nggak di Beringharjo?" Siena terus menggali kenangan dengan Merry sahabat mereka itu.



"Iya bener, bener, bener," Vella pun memutar kembali film perjalanan cerita selama Merry di Jogja.



"Dia bilang semua harus mengenang dia dengan oleh-oleh yang dia berikan,"  kata Vella mengingat kenangan Merry hari terakhir bersama mereka.



"Aku sedih pas makan di bebek Monjali. Dia bilang ke aku dan Risye :  *Gue nggak bakal bisa kembali kesini lagi*. Dia mandangin tempat makan itu saat kami mau menuju ke mobil," kenang Siena.



"Aku bilang ya pasti bisa lah. Dia hanya tersenyum aja." Siena menerawang mengingat kejadian itu.



"Serius dia bilang gitu?" Vella tak percaya Merry sudah mempunyai firasat sangat lama.



"Aku sedih pas kita antar mereka belanja oleh-oleh sebelum mereka pulang ke Jakarta."

__ADS_1



"Saat Wieke bilang eh Ini kesukaan nyokap gue waktu mau beli salak. Dan dia  langsung bilang *siapa yang mau dia bawain oleh-oleh? Mama dan papaku nggak pernah ada buat aku*, begitu katanya saat itu," Siena tak bisa menahan tetes air matanya. 



"Iya aku juga sedih kalau dia udah ngomong begitu. Kalau dia bilang dia dan Adon itu adalah bocah kesepian di tengah keramaian."



"Mereka berdua itu dekat bukan karena cinta yang sebenarnya. Mereka berdua dekat karena sama-sama membutuhkan teman senasib," kata Vella lagi.



"Benar mereka nggak saling cinta kok. Mereka hanya senang dan nyaman karena mereka sama-sama sendirian,"  Vella berujar lagi.



"Sedih ya, harta berlimpah tapi nggak ada kasih sayang orang tua,"  Helmi ikut nimbrung di pembahasan itu.



"Itulah. Adon dan Merry harta dan uangnya nggak berseri. Tapi minus kasih sayang. Untung Wieke walau anak tunggal orang tuanya enggak seperti itu," sahut Siena.



Helmi dan Siena tak sadar kalau kondisi Vella lebih parah. Anak tunggal dari single parent laki-laki. Untungnya Endro melimpahi Vella dengan penuh kasih sayang dan perhatian.



"Tadi Bunda nangis ngejer waktu aku mau berangkat sama Helmi. Bunda tahu tiket aku berangkat ke Jogja aja langsung Merry yang bayar tanpa mikir," jawab Siena lagi.



"Mbak-mbak mendingan tidur aja deh sekarang," kata Duldul. 




"Iya Dinda, kamu tidur aja," Helmi pun menasihati kekasihnya.



"Enggak bisa Kanda aku sedih," bantah Siena.



"Tapi nggak boleh dibawa ke pikiran gitu Dinda. Kamu harus istirahat biar kamu nggak sakit," bujuk Helmi.



"Yaudah aku tidur aja deh biar kamu nggak ada teman ngobrol," kata Vella.



Vella tahu kalau dia juga nggak bisa tidur. Tapi dia akan berhenti bicara agar dia dan Siena bisa istirahat.


\*\*\*



"Serius?" Endro tak percaya nasib buruk menimpa sahabat putrinya. 

__ADS_1



"Iya Dadd. Ini Vella lagi meluncur ke Jakarta naik mobil yang bapak kirim," Arie menjelaskan posisi Vella.



"Ya udah. Daddy bakal kasih tau simbok kalau kamu mau datang nunggu Vella," Endro belum bisa tiba di rumah. Besok jam sembilan pagi dia baru tiba di bandara SOETA dari Ausie.


\*\*\*



"Maaf ganggu malam-malam ya Mbok. Nanti tolong siapin dua kamar buat Siena dan dua teman dari Magelang," pinta Arie.



Arie tahu Pandu berangkat bersama Duldul.



"Buat besok pagi, bisa bikinkan sarapan yang panas dan segar Mbok?" Aie meminta mbok menyiapkan sarapan yang menggugah selera.



"Besok pagi begitu sampai biar semua sarapan dulu sarapan yang panas dan seger. Vella malas makan kalau sedang sedih seperti ini," cetus Arie.



"Iya Mas Arie, nanti saya bikinin bubur ayam aja. Oh  sama lontong opor biar dia pilih. Biasanya dia suka lontong opor juga," kata simbok.



"Tamunya nanti empat orang ya mbok. Siena yang biasa ke sini sama tiga teman laki-laki saya," Arie memberitahukan jumlah orang agar mbok tak kebanyakan masak.



"Njih Mas Ari nanti saya siapin," kata si mbok kepada menantunya Endro itu.



Simbok  mengerti tadi Endro sudah menghubunginya bahwa Vella  sedang meluncur pulang dalam kondisi sedang berduka temannya meninggal.



Mbok tentu tahu yang mana Merry karena kan sering nginep saat SMA dulu.


\*\*\*



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING ya.



![](contribute/fiction/5890234/markdown/10636434/1676481653151.jpg)

__ADS_1



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING itu ya.


__ADS_2