
Banyak debat, perempuan karier itu hebat. Tapi banyak yang bilang, ibu rumah tangga lebih berat. Semua kembali pada pola pikir masing-masing. Karena mau debat sampai berbisa tak akan pernah kita dapat hasil yang pasti. Pendapatku, enggak usah merasa paling baik~Novella Moraletta~
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Vella ingat kapan dia jalan bareng dengan Arie. Saat itu dia sudah selesai ujian. Dia harus cari pakaian adat indonesia untuk malam perpisahan. Karena semua panitia wajib mengenakan busana daerah. Vella ingin sesuatu yang lain. Dia punya banyak kebaya jawa. Tapi rasanya dia ingin menggunakan busana adat lain misal Kalimantan atau Sumatera.
“Habis ini kamu mau kemana? Kamu bawa motor? Atau bawa mobil?” tanya Arie.
“Mau nge halu aja di mall Kak. Makanya sejak dari rumah tadi sengaja enggak bawa mobil atau motor. Karena malas ama urusan parkir di mall. Enakan naik ojol atau taksi online aja. Enggak ribet,” jawab Vella.
“Nah kebetulan tuh, kita jalan bareng ya,” dengan antusias Arie mengajak Vella untuk jalan bareng ke mall.
“Boleh,” jawab Vella tak keberatan. Dia memang belum janjian dengan siapa pun untuk jalan siang ini.
“Tapi, aku masih akan meeting lagi sehabis jam penerimaan barang untuk bazar Kak. Kalau Kakak mau duluan silakan aja,” Vella ingat, dia ke kantin untuk membuang waktu menunggu jadwal meeting siang ini.
“Kakak juga ada pertemuan dengan para alumni koq setengah jam lagi. Jadi enggak akan bete nungguin kamu,” balas Arie sambil melihat jam tangannya.
“Oh ya sudah. Nanti kita saling bertukar info aja Kak. Sekarang saya duluan ya,” Vella pun pamit pada Arie.
“Oke. Sukses ya buat acara perpisahannya nanti,” sahut Arie lalu dia menerima panggilan pada ponselnya.
“Gue di kantin,” masih bisa Vella dengar jawaban Arie.
‘*Rupanya dia benar jaanjian dengan teman-teman alumni*,’ batin Vella.
\*\*\*
"Kamu katanya mau nge halu doang. Apa ada yang mau kamu cari?” tanya Arie pada Vella.
“Pengen cari kebaya kontemporer buat acara perpisahan nanti Kak. Kan dianjurkan semua panitia pakai baju adat agar enggak bikin peserta minder bila kita pakai dress pesta,” sahut Vella jujur.
“Owh ayok. Nanti sebelum pulang baru kita makan ya,” sahut Arie.
Cukup lama mereka berputar. Tapi belum dapat apa yang Vella cari. Saat itu Vella belum dapat yang sreg di hati.
“Kakak tahu butik khusus pakaian daerah kalau kamu enggak dapat di mall ini. Ada di daerah Cilandak Raya,” Arie memberitahu butik milik kerabatnya.
“Disana ada kebaya Ambon, baju Sulawesi, baju adat Kalimantan, Bali dan pastinya baju daerah Sumatera dan Jawa,” kembali Arie memberitahu info tentang butik khusus pakaian adat.
“Wah seru tuh Kak. Kita kesana aja yok,” ajak Vella dengan antusias.
__ADS_1
“Kalau kita berangkat sekarang, sampai sana butik sudah tutup,” sahut Arie ketika melihat jam tangannya.
“Yaaaaaah. Kakak baru bilang,” nada penyesalan keluar dari mulut indah Vella.
“Lha kamu baru bilang. Kalau sejak dari sekolah kamu bilang, kan Kakak langsung bawa kamu kesana.” jawab Arie.
Vella sadar kesalahannya. Sejak di sekolah dia bilang hanya ingin ngehalu. Jadi wajar kak Arie enggak langsung nunjukin butik langganan ibu.
Vella tersenyum sendiri mengingat masa itu.
“Gini aja, besok kamu Kakak jemput jam dua siang. Karena Kakak ada kuliah hingga jam satu. Baru kamu antar kamu kesana. Gimana?” tanya Arie memberikan solusi.
“Beneran Kak? Oke, jam dua di sekolah ya. Karena tiap hari aku memantau kegiatan anak-anak panitia,” jawab Vella dengan senang.
“Ya udah. Sekarang kita pulang. Tapi kita makan dulu ya,” ajak Arie.
Esoknya Vella merasa speechless. Butik yang sangat bagus penataan ruangnya itu membuat dia pusing tujuh keliling menentukan busana apa yang ingin dia beli. Semua bagus dan menarik.
“Wah aku malah bingung Kak,” itu yang Vella ucapkan melihat banyaknya baju daerah di butik ini.
“Masih banyak yang lainnya Mbak. Ini album foto kalau Mbak mau lihat-lihat ragam pesona kebudayaan Indonesia yang sangat kaya akan budaya,” pegawai butik dengan ramah memberikan dua album foto pada Vella.
“Sebentar Mbak, saya mau kasih tahu teman-teman. Siapa tahu mereka masih nyari pakaian adat,” tanpa menunggu jawaban pegawai butik Vella memberitahu tentang butik ini dan tak lupa memberi share lock di group panitia.
“Baik Mbak. Kami akan selalu menjaga privasi para konsumen koq,” pegawai butik pun berjanji sesuai kemauan Vella.
Vella ingat, saat itu Arie sama sekali tak memilih model apa pun. Ternyata suaminya diam-diam memesan bayu couple pakaian adat yang dia pilih.
'Abang emang so sweet banget. Aku beruntung jadi pilihan hatinya,' batin Vella sambil membalik album foto yang sejak tadi dia amati.
“Ini kereeen ya Kak,” Vella memperlihatkan pakaian adat Kalimantan yang sejak membuka album langsung menarik minatnya.
“Ih, ini bagus bangeeet,” belum sempat Vella memberi komentar, Vella sudah berubah karena melihat baju bodo dari Sulawesi. Begitu seterusnya. Dan Arie hanya tersenyum melihat Vella yang kebingungan menjatuhkan pilihan.
“Serius Kak, aku beneran bingung. Kemarin di Plaza Indonesia bingung karena enggak ada yang cocok. Sekarang bingung karena semua keren,” Vella meminum air mineral yang disiapkan oleh butik bagi semua tamu yang datang.
“Kamu pilih dulu lima terbaik yang kamu inginkan. Bikin foto dulu. Habis itu kerucutkan menjadi tiga dengan menghapus dua foto. Begitu seterusnya hingga kamu dapat satu pilihan yang terbaik,” Arie memberi saran pada Vella.
“Oh bener tuh Kak. Tunggu aku bikin dulu lima yang paling aku ingin gunakan,” Vella pun setuju dengan usulan Arie.
Vella pulang dari butik dengan puas. Dia akan mengambil baju adat yang dipilihnya tiga hari kemudian, karena dibuat baru sesuai dengan ukuran tubuhnya.
__ADS_1
“Terima kasih ya Kak Arie. Aku puas banget milihnya. Semoga besok hasilnya memuaskan,” Vella senang dia bisa memilih baju adat sepuasnya.
“Sama-sama. Itu juga karena ibuku berlangganan disini jadi tahu. Kan sekarang kalau upacara kenegaraan sering diminta menggunakan baju daerah. Jadi ibu berlangganan disini,” balas Arie.
“Owh iya juga ya Kak. Presiden yang sekarang memang sering meminta dress code seperti itu. Beberapa kali aku lihat di TV,” sahut Vella. Dia tahu ibunya Arie adalah seorang wakil rakyat di DPR.
\*\*\*
Dan tiga hari kemudian Arie berkeras ingin mengantar Vella ambil baju pesanannya. Sejak kemarin siang Arie menghubunginya terus menerus.
“Besok seriusan enggak mau dijemput?” tanya Arie pada Vella. Saat ini mereka baru saja mengambil baju pesanan Vella di butik yang khusus menyediakan baju adat seluruh Indonesia.
Pakaian yang Vella pesan tentu dicoba dulu apakah pas sesuai dengan yang diinginkan oleh gadis itu. Dan Vella puas dengan hasil yang dia dapatkan.
“Enggak Kak. Aku dari siang sudah ada di sekolah. Jadi nanti sebelum maghrib aku kabur sebentar. Lalu datang sudah rapi pakai baju adat. Kebetulan rumah kakakku enggak jauh dari sekolahan,” sahut Vella.
“Ok. Kakak akan menjemput Serena. Dia sahabat Kakak sejak SMP. Kamu pasti akan suka ngobrol dengannya,” Arie membuka prolog soal Serena.
“Oke Kak. Aku senang berkenalan dengan banyak teman,” sahut Vella tanpa ragu. Saat itu Vella percaya apda Arie kalau Serena hanya sahabatnya semata.
“Eh. Koq baju pesanan Kakak enggak diambil sekalian?” tanya Vella curiga.
“Tadi pagi sudah diambil sama drivernya ibu. Sekalian ibu ambil baju pesanannya,” sahut Arie.
“Kak Serena kuliah dimana Kak?” tanya Vella.
“Dia sudah selesai. Dia ambil D3 sekretaris dan sekarang sudah bekerja menjadi sekretarisnya wakil CEO. Dan sepertinya bossnya naksir berat sama dia. Kemarin Kakak kerumahnya. Abahnya sepertinya setuju dan tidak melarang hubungan mereka,” sahut Arie.
“Wah senang ya. Sudah tamat kuliah dan bekerja pula. Aku juga ingin bekerja. Enggak ingin diam di rumah seperti mama. Aku pengen seperti eyang putri yang tetap bekerja,” Vella mengemukakan angan-angannya.
“Semua itu pilihan. Ibu Kakak juga tetap bekerja, tapi dia enggak melupakan kodratnya sebagai ibu. Dan perempuan yang tidak bekerja di kantor juga tak bisa dianggap ringan pekerjaannya. Dia tugasnya malah lebih berat dari perempuan kantoran. Itu kata ibuku,” sahut Arie bijak.
“Iya Kak. Dua kakak iparku juga berhenti kerja. Dan mereka bilang lebih berat berperan jadi full mother dari pada saat mereka masih bekerja di kantor,” Vella mengingat Nungki dan Rita. Dua perempuan tangguh istri kakak-kakaknya.
\*\*\*
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE ya.

__ADS_1
Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE itu ya.