
Aku merasa dia tetap anak kecilku. Ternyata dia tak butuh aku buat beli rumah. Dia mampu membeli sendiri dengan kekuatannya. Sepertinya baru kemarin dia belajar mengucapkan kata bapak~Mahesa Wiryawan~
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Sudah satu bulan Vella dan Arie menempati rumah baru mereka.
Lebih tepatnya Vella dan mbok sih, karena sejak awal pindah rumah baru, Arie belum pernah datang lagi. Dia sedang sangat sibuk dengan ujian prakteknya.
Hari ini selamatan rumah baru. Arie dan Vella mengundang orang yayasan.
Mami Cilla dan Christo, oma Maria, papa Chris dan mama Sisca. Semua anggota genks plus Adon datang.
Tentu mama Nungky dan papa Pras juga hadir.
Ada ayah Ibas dan mbah Arif serta Laras. Ada Endro, Yoyok dan Kamila. Ada Annisa bundanya Siena dan Raffli.
Para bude dan pakdenya Arie serta kakak sepupunya tak ada yang tidak hadir.
Vella memasang tenda. Karena rumahnya di jalan buntu maka tak mengganggu aktivitas lingkungan.
Vella juga mengundang sahabatnya. Dan tamu kehormatan kali ini adalah Harllo dan Asih.
Mertua Vella mengundang beberapa orang penting yang ada di Jogja.
Alhamdulillah semua berjalan lancar. Tapi sayang cinta Adon dan Dian belum lancar. Malah yang tak terduga kisah cinta baru Wieke dan Christo si anak bawang!
Wieke tentu terus menolak cinta anak ingusan seperti Christo. Saat ini Wieke jelang 19 th dan Christo 16 th lebih tiga bulan.
Semua senang Vella dan Arie sudah menempati rumah baru walau Mahesa kecewa karena dia tidak jadi membelikan rumah untuk putranya.
Sebaliknya Endro dan Yoyo malah bangga karena Arie bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dan ini bukan rumah kecil untuk anak kecil sekelas Arie!
Itu sudah sangat mewah.
Para tetua sekarang sedang sibuk dengan rencana resepsi pernikahan Arie dan Vella yang akan digelar sebentar lagi sesudah hari wisuda Arie.
Resepsi akan dibuat dua hari sesudah wisuda agar tidak buang banyak. Sekalian semua berangkat ke Jakarta.
Dua hari sesudah resepsi pernikahan Arie, Harllo juga akan melamar Asih.
\*\*\*
Rahman senang mendapatkan alamat sekolah dan rumah Rafli Muharam Parussangi putra bungsunya. Rahman bertekad akan mendatangi Rafli.
__ADS_1
Dengan persiapan penuh Rahman bersiap dia sudah siapkan semua bekal yang dia punya.
Rahman sudah tahu alamat sekolah Rafli serta alamat rumahnya, tapi dia tidak akan mendatangi rumahnya karena itu berkaitan dengan mantan istri. Biar bagaimana pun dia lebih mementingkan anak-anak saja.
Rahman sadar diri telah menyakiti Annisa mantan istrinya. Untuk itu kedepannya dia tak akan membuat persoalan lagi dengan perempuan baik hati itu.
\*\*"
'*Ini siapa ya sudah dua hari selalu memberi salam padaku, tapi nggak pernah kasih tahu siapa dia dan apa tujuannya cuma Assalamualaikum setiap hari*.' Rafli tak pernah membalas pesan itu. Dia hanya menjawab dalam hati saja.
Hari ketiga Rafli mendapat kejutan. '*Rafli ini nomornya Papa. Sesudah kamu pulang sekolah Papa tunggu di depan sekolahmu. Kamu mau kan menemui Papa satu kali ini aja bila tak ingin bertemu selanjutnya*.'
'*Papa sudah tahu rumahmu juga sekolahmu. Tapi biarlah Papa hanya temui kamu di depan sekolahmu saja*.'
Rafli kaget membaca itu dia tidak akan memberitahu bundanya dan juga kak Siena.
Hari ini Rafli jadi tidak fokus untuk belajar. Sejak tadi dia bolak-balik melihat jam dinding di depan kelas.
"Kamu kenapa? Dari tadi kayak gelisah begitu," kata Edwin teman sebangku Rafli.
"Nggak apa-apa kok," jawab Rafli.
Lagian dia nggak ada masalah dengan papanya lebih baik dia temui aja lah pikir Rafli.
Akhirnya waktu yang ditunggu tiba. Rafli keluar kelas dengan deg-degan, juga takut bundanya melihat keberadaan Papanya.
Rafli melihat papanya sangat kurus tidak seperti saat bersama mamanya yang sekarang mereka panggil bunda agar melupakan masa lalu dengan Pak Rahman atau Amang.
"Assalamu'alaykum Pa," kata Raffi dengan sopan dia mencium tangan papanya seperti biasa.
Rahman memeluk putra bungsunya dengan bahagia.
'*Akhirnya aku bisa melihat dan memeluk belahan jiwaku lagi*,' batin Rahman.
"Apa kabar Pa?" kata Rafli, dia juga menahan agar air mata tidak jatuh karena melihat papanya menangis.
"Papa baik sangat baik setelah bertemu denganmu," kata Rahman.
"Duduk Pa," jawab Rafli. Mereka duduk di taman depan sekolah Rafli.
"Papa cuma mau bilang ini ada uang buat sekolah kamu. Papa tahu ini tidak banyak, semoga berguna."
__ADS_1
"Ini semua uang hasil jual mobil dan jual rumah kita di Jakarta. Semua buat kamu sampai kuliah."
"Kalau Kakak mungkin bisa dari suaminya kelak atau dari mana. Tapi kalau kamu laki-laki, kamu wajib sekolah dan kuliah yang baik" kata Rahman pada Rafli.
"Papa pakai nama Papa karena waktu di Jakarta Papa bingung mau bikin pakai nama kamu kan sulit."
"Pin nya adalah tanggal lahirmu, semuanya sudah Papa masukkan situ. Buku tabungannya ini. Ini surat kuasa bahwa Papa memberikannya padamu," kata Rahman.
"Enggak usah Pa. Bunda udah kerja kok. Bunda ngajar di sini," Rafli menjelaskan mereka tak kekurangan.
"Iya Papa tahu. Papa tahu siapa yang bantu kalian, Papa juga tahu Kak Siena kuliah di sini. Papa tahu semuanya Nak."
"Papa merasa malu pada kalian tapi itulah kenyataannya Papa telah salah langkah dan Papa ingin menghapus sedikit kesalahan itu dengan memberikan ini padamu."
"Untuk selanjutnya Papa akan selalu masukkan uang gaji Papa ke situ, Papa hanya ambil untuk uang hidup Papa," jelas Rahman.
"Tapi bagaimana dengan Papa? Misalnya Papa berobat atau buat kebutuhan Papa lainnya."
"Papa ada satu tabungan untuk itu. Buat kesehatan nggak perlu kamu pikir karena kan Papa punya asuransi kesehatan."
"Yang penting kamu kuliah yang baik ya Nak. Papa akan berkala melihat kamu. Mungkin ini nggak berkenan di Kak Siena atau mamamu karena itu Papa hanya menemui kamu."
"Papa menginap di mana?" tanya Rafli.
"Nginep di hotel kecil dekat stasiun. Sudah 2 hari Papa memperhatikan kamu memperhatikan kak Siena. Papa juga sudah lihat kekasih Kak Siena."
"Papa juga lihat mamamu bekerja. Papa bahagia lihat kalian tetap sehat," kata Rahman.
"Doakan aja aku berhasil ya Pa," kata Rafli.
"Iya kita sama-sama melihat dan mendoakan."
"Papa akan kembali ke Jakarta malam ini. Papa sudah pesan tiket kereta."
"Oh ya Pa. Papa hati-hati ya."
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR ya.

__ADS_1