UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
BUBUR AYAM CHEF SIENA


__ADS_3

Semua kembali ke hati. Bila semua kita syukuri pasti akan lebih ringan. Aku sendiri belum tahu apa dan bagaimana nanti kami bertahan hidup karena aku belum ada pekerjaan. Tapi apa pu akan aku lakukan untuk anak-anakku. ~Annisa Marwah~


DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Alhamdulillah ya Allah,” Annisa bergumam melihat rumah yaang akan dia tempati. Walau statusnya kontrak tapi rumah ini jauh dari cukup. Rumah tiga kamar dan punya lingkungan yang baik.


“Ade, kamu laki-laki. Kamarmu paling depan ya De,” Siena memberitahu adiknya letak kamar bujangan itu.


“Dan ini kamar Bunda,” Siena memperlihatkan kamar tengah untuk Annisa. Sedang dia sendiri kamarnya di belakang. Kamar tambahan yang dibuat pemilik rumah. Ukurannya sedikit lebih kecil dari dua kamar didepan, tapi dia suka karena ada jendela yang mengarah ke ruang terbuka di belakang yang nantinya bisa buat tempat jemur atau malah untuk ruang makan atau dibuat ruang keluarga. Entahlah.


“Pasang sprey dulu sebelum tidur Raf,” sang bunda memberi perintah pada anak bujangnya.


“Sien, Mbak, Ayah langsung pulang ya,” Ibas pamit pada kedua gadis itu.


“Enggak minum dulu Yah?’ tanya Vella.


“Cukuplah. Kalian kan mau bebres dan istirahat. Tolong pamitkan pada bundamu ya Sien.”


“Sebentar Yah. Saya panggilkan Bunda dulu,” Sien berlari kebelakang memanggil sang ibu yang sedang melihat-lihat rumah baru mereka.


***

__ADS_1


“Terima kasih atas semua bantuannya Pak,” Annisa tentu tak lupa mengucapkan terima kasih.


“Sama-sam Bu. Mari. Assalamu’alaykum,” Ibas lalu pamit keluar diikuti Vella.


“Hati-hati ya Yah. Khabarin Mbak kalau sampai rumah,” Vella tentu takut ayahnya mengantuk jadi dia ingin kepastian apakah ayahnya telah tiba dengan selamat di rumahnya.


“Iya,” Ibas mengusap lembut puncak kepala putrinya saat Vella memberi salim padanya. Lalu dia cium kening sang putri dengan lembut.


***


Tak ada rasa cape dalam tubuh Annisa dan Rafli. Mereka dengan senang hati beberes rumah mereka hingga lewat tengah malam. Siena sudah merendam ayam dan beras dalam majic jar yang dicolokin tanpa di posisi masak, hanya nyala ( warm ) saja. Besok pagi baru akan dia pencet ke posisi masak ( cook ).


“Vell, tadi aku dengar di yayasan ada guru fisika SMA yang mundur. Enak enggak ya kalau aku bilang ke ayahmu, bunda itu jurusan ngajarnya fisika? Wlau dia selama ini ngajar SMP. Tapi kan ijazah nya bisa buat dia ngajar SMA wong dia S1 keguruan,” Siena yang sudah rebahan bertanya pada Vella yang juga sudah mengantuk.


“Lah kamu tadi enggak langsung bilang ke ayah aja,” jawab Vella.


“Ya sudah, besok aku bilang sama Ayah, kalau belum dapat penggantinya, bisa terima bunda buat ngajar. Jadi seakan kita enggak nyodorin duluan. Tapi hanya sebagai cadangan bila ayah belum dapat juga,” jawab Vella lalu dia berupaya memejamkan matanya.


Siena ingin membalas ucapan sahabatnya, tapi dia mendengar tarikan napas Vella yanag sudah tertidur.


“Ealaaah, belum juga aku balas udah molor aja,” bisik Siena. Lalu dia berupaya mengejar Vella agar bisa segera tidur juga.


***


“Anak Bunda udah ada kemajuan ya,” Annisa melihat Siena menyiapkan bubur ayam sederhana yang dia pelajari cara membuatnya dari Vella.

__ADS_1


“Kemaren liat Vella masak tu kayaknya gampang banget Bund, aku jadi pengen belajar. Dia tu tiap hari bawa bekal lho ke kampus. Enggak makan di kantin,” jawab Siena sambil memotong cakwe. Sementara Vella sedang membuat sambal kacang untuk makan bubur.


“Kamu tau letak SMP nya Kak?” tanya Annisa.


“Tahu lah Bun. Kan satu yayasan. Dari TK sampai universitas. Hanya beda tembok saja,” balas Siena.


“Senin kamu kuliah pagi atau bagaimana?” tanya sang bunda sambil membereskan sampah bekas kardus.


“Senin Kakak kuliah jam sepuluh.jadi pagi bisa temani Bunda dan adek ke sekolah,” jawab Siena yang sekarang sedang mengiris halus daun seledri.


“Yeaay selesai bubur ayam chef Siena, mari kita makan,” ajak Siena. Tadi dia sudah menyuir ayam dan menggoreng kerupuk. Dan Vella membuat kuah karinya.


“Wah hebat Kakak bisa masak,” puji Rafli yang melihat sang kakak bisa cepat berubah.


“Enak lho ini Vell. Mana masaknya enggak lama dan enggak perlu ribet di aduk ya,” Annisa memuji hasil masakan dua anak gadis itu.


“Iya Bund, aku pas libur aja suka bikin bubur. Karena kalau hari kuliah kan majic jar buat masak nasi buat bekal makan siang,” jawab Vella.


Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.


Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta


\===========================================

__ADS_1


Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya teman yanktie yang bernama NITA.P dengan judul novel MY SWEET GIRL yok! Ceritanya pasti seru dan enggak akan nyesel deh bacanya.



__ADS_2