UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
KUNJUNGAN DADAKAN GENKS


__ADS_3

Persahabatan mereka sangat erat. Sungguh mereka perempuan pilihan. Biasanya persahabatan lebih dari dua orang akan sering ribut. Mereka bisa bertshan sejak kelas sepuluh SMA. Bukan main~Pandu Kesuma~


Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Pandu senang karena orang tuanya datang dan meminta izin agar boleh merawat anak mereka di rumah sakit Bogor.



Setidaknya dia berharap Risye akan menjenguknya di rumah sakit. Pandu bisa menangkap mata sedih Risye saat video call tadi walau nada sedikit bahagia karena bisa bertatapan.



Pandu yakin Risye tak akan mungkin melewatkan waktu menemuinya selama dia di Bogor.



'*Masalahnya apakah Risye tahu aku dirawat dimana*?'



'*Aku akan upayakan menulis pesan untuknya ketika aku tahu dimana ruang rawatku besok*,' batin Pandu.



Pandu dibawa dengan ambulans dari Magelang ke rumah sakit di Bogor. Yang menemani di dalam ambulans adalah ibunya. 



Paparnya di mobil mereka sendiri karena tadinya papanya mikir Pandu akan dibawa oleh mereka sendiri.  Ternyata dari pihak rumah sakit Magelang langsung secara resmi memindahkan pasien ke rumah sakit penerima di Bogor.



Sampai ke Bogor jam lima pagi karena mereka berangkatnya sudah hampir tengah malam. Sejak  jam sembilan malam mereka urus izin rumah sakit dan kampus.



Pandu sudah sampai di rumah sakit lalu ditempatkan  di ruang KUMALA DUA.



"Minta ponsel," Pandu bicara pelan ke mamanya.



"Ponsel mau buat apa?" Sang mama tentu bertanya.



Pandu tanya diam telapak tangannya menengadah meminta ponselnya.



'*Aku pernah muda Aku yakin dia mau hubungi atau mau memberitahu pacarnya*,' sang mama dengan pengertiannya  memberikan ponsel itu pada anaknya.



'*A'a di rumah sakit Dirgantara ruang Kumala 2*.'



Risye yang sedang bersiap membuka toko sembako mamanya membuka pesan itu.



'*Ya*,' hanya itu yang Risye tuliskan. Dia tak tahu siapa yang menuliskan pesan itu karena Djojo di Magelang. Risye tak mau salah tulis maka dia pun tak menjanjikan akan datang mengunjunginya.


__ADS_1


Tapi setidaknya dia sudah menjawab.  Habis itu Pandu pun tidak menulis pesan lagi Risye yakin Pandu masih kesulitan untuk menulis.



Pesan yang sama Pandu kirim juga untuk Djojo dan Duldul. 



Duldul memforward  pesan itu ke Arie. Yang tentu khabar itu dalam sekejap sudah diketahui anggota genks.



'*Gimana Ris kamu kapan mau nengok*?' Wieke langsung bertanya pada Riesye.



'*Ayo sama kita-kita mau bareng enggak? Kalau udah masuk kuliah kan kamu bisa sendiri dan kita-kita susah nemanin ke Bogor karena kita sibuk kuliah*,' tulis kata Wieke lagi.  



Risye tentu saja senang kalau bersama teman-temannya. Setidaknya rasa rikuh untuk pertama datang sirna.



'*Kalau hari ini aja gimana? Lusa kita semua udah kuliah*,' tanya Dian.



'*Boleh hari ini jam sembilan berangkat biar pas ama waktu kunjung di rumah sakit*,' Merry juga tak keberatan hari ini ke Bogor.



'*Kita dari Jakarta kumpul di mana*?' tanya Risye. Dia tentu mau berkunjung ditemani para sahabatnya itu.  



'*Di rumah Merry aja pakai mobil Merry*,' jawab Wieke tanpa bertanya pada Merry. Sahabatnya itu tak akan kekurangan mobil juga sopir sehingga dia tak ragu memutuskan. Beda dengan dirinya. Mobil banyak tapi tak ada sopir standby.



\*\*\*



Tentu saja Pandu kaget  saat jam  kunjung siang ini jam sebelas, genks kekasihnya sudah di depan pintu.



Mereka seperti kemarin kembali membawa buah. Tadi sebelum berangkat Dian ragu dan bertanya penyakit Pandu menular enggak? 



"Enggaklah tetanus nggak menular lah."



"Gua parno," kata Dian.



Saat itu yang menjaga Pandu adalah mamanya. 



Genks bersalaman pada mamanya Pandu.



"Aduh cantik-cantik *geulis-geulis pisan*,"  Kata Mamanya Pandu.



"Kami nganterin pacarnya Pandu nih Tante," kata Dian dengan cablak nya.

__ADS_1



"Wah JALU nya Mama udah punya pacar," goda  Mamanya Pandu.



"Yang mana? Enggak mungkin semua kan?"



Wieke mendorong Riesye agak kedepan dari mereka. Tentu saja membuat wajah Riesye tersipu malu.



Pandu hanya tersenyum saja dia masih tetap di bantu oleh alat bantu pernapasan.



"Tante tinggal keluar ya. Kalian ngobrol aja sama Jalu," mamanya Pandu membantu putranya membuka alat bantu napas lalu dia keluar kamar.



Merry mendekati Pandu tanpa ragu. "Cepet sembuh ya ada yang nungguin kamu sembuh tuh.  Nungguin ditelepon kamu," kata Merry.



"Bisaan aja," sanggah Risye.



"Alah emang kenyataan," kata Wieke.



"Lagian gue enggak nyebut nama. Kenapa elu ngerasa," goda Merry.



Risye tersipu mendengar godaan teman-temannya. Pandu menatap wajah tersipu pujaan hatinya dengan senang.



Mereka pun ramai bercengkrama Pandu hanya mesem saja karena dia tak banyak bicara.



"Ayo kita keluar duluan yuk biar mereka berdua ngobrol," kata Wieke mengusulkan memberi waktu untuk Risye dan Pandu.



" Ayo Pandu aku pamit ya."



"Baiklah, semua pamit kamu diam sini dulu, nanti keluarnya belakangan," titah Merry.  Mereka meninggalkan Risye di ruangan Pandu berdua.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR ya.



![](contribute/fiction/5890234/markdown/10636434/1676273650468.jpg)


__ADS_1


Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul JINGGA DARI TIMUR itu ya.


__ADS_2