
Sekarang banyak anak tergelincir, dan orang tua tak sadar apa penyebabnya. Orang tua lebih suka memandangi ponselnya baik untuk berselancar di sosial media atau hanya menonton drama daripada memperhatikan anak-anaknya. Orang tua tak sadar si anak juga ikut melakukan hal yang sama. Saat nilai sekolah anak jeblok sang anak lah yang disalahkan. ~yanktie ino~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Vella langsung mengambil daun pisang yang memang selalu ada di meja dapurnya. Dia buat alas di penggorengan ( walau pakai teflon, Vella tetap menggunakan alas daun pisang. Karena aroma rasa bakaran daun membuat jadah bakar makin enak ).
Jaddah digoreng tanpa minyak. Seharusnya dibakar tapi kelamaan. Lalu Vella membuat sirop dan membawa jaddah bakar dengan serundeng manis pedes ke belakang.
“Sopo sing gawe Nduk?” tanya Pras. [ Sopo sing gawe Nduk = siapa yang membuatnya Nak ].
“Bikin sendirilah Pa. Masak bikin minum aja nyuruk mamak’e?” jawab Vella.
“Abang ada uli bakar pakai serundeng nih,” Vella menotol uli ke serundeng dan menyuapi Arie.
“Enak, di Depok suka ada yang jual. Tapi ulinya kurang halus dan potongannya terlalu tebal,” Arie mengomentari uli yang disuapi Vella.
“Jadiin menu di cafe aja Bang. Bikin uli sendiri yang enak, banyak santan dan kelapa muda parutnya. Serundeng bisa dibikin sekalian dalam jumlah banyak lalu simpan dengan plastik pres biar enggak berjamur dan bau apek,” sahut Vella.
“Otak bisnismu tajem juga ya,” Arie memuji Vella dengan jujur.
“Yank, Frani video call nih,” Arie menyerahkan ponsel yang panggilan video callnya belum dia terima.
“Assalamu’alaykum cantik,” sapa Vella saat dia angkat panggilan video call dari adik bungsu kekasihnya.
“Mbaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak …, dari tadi aku telepon enggak diangkat,” protes Frani.
“Handphone Mbak di tas, tasnya dikamar sayank. Ada apa? Mau bicara ama Abang?” tanya Vella.
“Enggak. Emang mau ngobrol ama Mbak aja. Tapi karena ponsel Mbak enggak diangkat, aku mau tanya lewat Abang. Bukan mau bicara ama Abang,” sahut Frani.
“Kirain mau bicara ama Abang. Gimana liburanmu?” tanya Vella.
“Sepi, enggak ada Abang, enggak ada Mbak, Ibu lagi masa sidang jadi jarang ketemu. Ayah kan emang super sibuk,” keluh Frani.
Inilah gambaran anak jaman sekarang. Semua orang dewasa disekitarnya sibuk. Jangan salahkan mereka kalau mereka salah langkah karena saat mencari jati diri, tak ada panutan disekitarnya. Mereka hanya berteman dengan info yang mereka dapat secara acak di internet.
__ADS_1
***
Malamnya Vella mengajak naik becak ke alun-alun. Sebenarnya tak terlalu jauh dari jalan Senepo Tengah rumah keluarga Prasojo. Tapi Vella ingin duduk berdua dalam becak dengan Arie. Di Jakarta tak mungkin kan mereka naik becak. Hanya ada bajaj. Vella tak suka karena terlalu berisik bunyi mesinnya.
“Deket ini mah Yank, tahu gitu tadi kita jalan kaki aja,” Arie mengomentari jarak yang mereka tempuh dengan becak.
“Abang sih protes mulu. Ade kan pengen ngerasain naik becak berdua Abang,” jawab Vella dengan keqi. Kekasihnya tak tahu apa maksudnya naik becak kali ini.
“Ha ha ha, kamu tu ya. Kalau cuma mau duduk dempet, kan di mobil juga bisa,” goda Arie sambil memeluk bahu kekasihnya menuju area jual makanan di alun-alun Kutoarjo ini.
“Ih Abang. Dibilang pengen ngerasain duduk berdua di becak. Bukan duduk dempetan,” sahut Vella keqi.
Mereka menikmati kuliner di seputaran alun-alun. Memang Vella tadi pamit pada Nungky sang mama kalau mereka tak akan makan malam di rumah sehingga tak perlu menyiapkan makan malam tambahan.
Puas wisata kuliner, mereka pulang berjalan kaki. Malam yang dingin membuat ada alasan Arie untuk selalu rapat memeluk bahu Vella dan sang gadis melingkarkan tangannya dipinggang Arie.
“Abang habis ini langsung bobo ya. Besok kan masih mau ke Kebumen,” Vella meminta Arie segera tidur.
“Paling ngobrol sebentar sama ibu dan bapak, juga Harllo,” jawab Arie.
“Kalau berjauhan, kami mewajibkan ngobrol malam,” lanjut Arie. Dia melihat hal itu juga selalu Endro lakukan pada Vella. Entah pagi, siang atau malam, setiap hari Endro selalu menghubungi Vella. Hal itu malah tak dia lihat dilakukan oleh Nungky mama kekasihnya.
***
Vella juga ingin memberi surprise pada kedua eyangnya. Hubungan batin Vella memang lebih dekat pada kedua eyangnya daripada ke mama dan papanya.
Mereka sampai di rumah Kamila sebelum waktu salat dzuhur. Rumah yang ditinggali Kamila berada persis disamping masjid kecamatan. Jadi Yoyok dan Kamila selalu salat Subuh dan Maghrib di masjid.
Kadang salat Isya Yoyok juga salat di masjid, Kamila jarang bila salat Isya, dia biasa menyiapkan makan malam bagi suaminya yang selalu makan selepas salat Isya.
“Assalamu’alaykum,” Vella memberi salam sambil masuk kerumah eyangnya.
“Wa’alaykum salam, kamu sama siapa sayang?” sambut Kamila tak menyangka cucunya datang.
“Sama Abang. Dia ingin kenal Eyang Uti,” Vella mengajak Kamila ke ruang tamu. Karena tadi dia menyuruh Arie duduk dulu sambil dia memanggil kedua eyangnya.
“Assalamu’alaykum,” Arie langsung bangkit dari duduknya dan memberi salim pada Kamila.
__ADS_1
“Wa’alaykum salam, silakan duduk,” sahut Kamila.
“Apa kalian enggak mampir ke Senepo? ( rumah Prasojo di jalan Senepo - Kutoarjo ).
“Kami menginap disana Eyang,” sahut Vella manja.
“Apa daddymu tahu?” tanya Kamila. Dia tak diberitahu Nungky soal kedatangan Vella di Kutoarjo.
“Daddy tahu, dia video call sebelum kami berangkat ke Kutoarjo. Dan daddy kan setiap hari juga telepon. Pasti tahu lah. Kadang kalau enggak sempat daddy cerewet kirim pesan terus kan Eyang,” Vella malah mengadukan kelakuan anak eyangnya itu.
“Lho, daddy dan mamamu koq enggak ada yang kasih tahu Eyang?” Kamila tentu bingung mengapa tak diberitahu.
“Aku yang larang Eyang. Biar Eyang enggak cerewet dan nyiap-nyiapin sesuatu sebelum aku sampe sini,” jawab Vella sambil terkekeh.
“Ha ha ha, berarti kamu enggak usah dibawain abon ayam ya, Eyang baru mau bikin nanti malam,” sahut Kamila menggoda.
“Eyaaaaang, bikinin banyakan. Aku mau buatku di kamar kost juga mau kirim buat adik-adiknya Abang di Jakarta,” Vella sangat suka abon ayam buatan Kamila.
“Kalau buat tambahannya, Eyang bikinkan besok. Harus beli ayam lagi. Eyang tadi beli mau buat mamamu dan buat daddymu saja. Eyang memang mau bikin untukmu tapi belum punya alamat rumah kost mu buat pengiriman,” jawab Kamila. Dia memang selalu mengirim Endro bila membuat abon ayam atau emping melinjo manis.
“Asyiiik … makasih Eyang,” sahut Vella.
“Kita kebelakang aja yok, kamu taruh tas Abangmu di kamar tamu yang tengah saja. Yang depan belum dibersihkan.” Kamila mengajak Arie dan Vella ke belakang.
“Kon ana sing ngePet na degan sing ana isine tapi aja ketuwan,” Kamila langsung memerintah pegawainya untuk memetik kelapa muda yang bisa diminum siang ini.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNCOMPLETED STORY YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta