UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
AKU TAK YAKIN


__ADS_3

Sekarang data bisa saja direkayasa. Dan aku tetap tak yakin kalau dia anaak paman Prasojo. Bagaimana mungkin pamannya Endro punya putri sat usia istrinya sudah taak mungkin hamil? ~Baskoro Gunawan~


DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 Arie  tak ingin bila Vella tak berhasil dan mempunyai harapan tertentu maka akan jadi patah semangat.


“Ya mulai De. Abang akan awasi aja tanpa mengarahkan. Ikuti apa yang kamu rasa. Tadi kamu tahu kamu berada di tengah antara dua beringin,” Arie memberi aba-aba agar Vella memulai langkahnya.


Vella terus melangkah. Dia berjalan pelan dan yakin kalau dia berjalan lurus karena dia mengatur sedemikian rupa agar tak belok sedikit pun.


“Luruskan tanganmu agar tidak terbentur,” saran Arie.


Vella meluruskan lengannya, tetiba dia memegang tembok.  Lalu Vella berjalan dengan memegang sisi tembok agar tidak menabrak.


“Buka kainnya,” perintah Arie.


Vella tak menyangka, dia berjalan di sisi tembok bagian dalam antara dua beringin.


“Bagaimana bisa aku miring seperti ini?” tanya Vella tak percaya.


“Miring tapi kamu masih ‘berhasil masuk’ diantara dua beringin. Kamu lihat bayak yang muter melenceng sangat jauh,” Arie menyuruh Vella memperhatikan sekelilingnya.


“Iya ya Bang. Jadi penasaran,” jawab Vella.


“Ayok sekarang Abang,” Vella mengajak mereka kembali ke titik awal ritual.


Sekarang Vella yang mengikatkaan kain ke mata Arie. “Ya Bang, mulai.”


Tanpa ragu Arie berjalan kedepan. Sejak awal dia meluruskan lengannya agar tak menabrak orang lain. Sesekali dia goyang lengannya seakan mengusir orang didepannya.


“Yeeaaaay!” Vella berteriak ketika Arie sudah melewati gerbang beringin kembar itu dengan sukses. Dia peluk kekasihnya tanpa malu.


“Ha ha ha, kamu enggak kasih tahu kalau sudah lewat,” Arie melihat posisinya saat dipeluk Vella dia membuka ikatan di matanya.


Arie mengecup puncak kepala gadis yang masih memeluknya. Dia rasanya tak ingin berpisah walau sementara. Tapi mereka harus kuliah untuk menggapai cita-cita mereka.

__ADS_1


“Mau main sepeda atau makan dulu?” tanya Arie.


“Sepedaan yok Bang. Tapi bikin foto dulu ya? Sepedanya jangan yang tandem depan belakang seperti di kota tua. Kita enggak bisa ngobrol,” pinta Vella.


“Baik Nyonya, ayok kita naik sepeda yang buat dua orang tapi pakai bentuk mobil kecil aja biar bisa ngobrol,” jawab Arie dengan penuh kasih.


Vella hanya senyum mendengar disebut nyonya oleh kekasihnya. Mereka langsung berpose dengan menggunakan tongsis sehingga background-nya lebih jelas. Arie mengirim foto itu untuk Vella karena mereka berpose dengaan ponselnya.


Seperti biasa Arie memuat foto itu di media sosialnya. ‘Malam Mingguan di kota gudeg bersama kekasih hati’ demikian caption yang dia tulis dan seperti wajah Vella dia tutup dengan emoticon love agar tak ada yang tahu siapa kekasihnya.


Dan Vella langsung mendapat chat dari genks-nya. Semua heboh dengan postingan Arie. Dan pelaku utama serta kekasihnya sudah tak membuka ponsel. Mereka hanya sibuk bercanda berdua mengelilingi alun-alun Selatan dengan sepeda yang mereka kayuh.


***


Sesuai kesepakatan hari Minggu ini Arie tak mengunjungi Vella. Dia ingin gadisnya istirahat penuh. Dia juga hanya akan di rumah bersama keluarga pakde Guruh yang kebetulan sedang dikunjungi adiknya yaitu pakde Wito dan bude Ningrum serta Tiwi sepupu Arie.


“Kamu seriusan di fakultas Hukum UGM Mbak?” tanya Aire. Secara usia dia lebih tua dari Tiwi. Tapi secara garis keturunan dia wajib memanggil anak pakdenya dengan sebutan mbak atau mas. Karena ibunya adalah anak bungsu.


“Iya serius. Kamu kemana aja enggak tahu soal sepupu sendiri. Sekarang karena kekasihmu disini baru deh mau kenal aku,” goda Tiwi pada adik sepupunya itu.


“’Ha ha ha, bisa aja. Kalau gitu aku bisa titip jagain pacarku ya. Dia baru kali ini jauh dari orang tuanya. Dia bukan anak manja. Dia bahkan enggak mau sering beli makanan matang. Hanya belum biasa mandiri aja,” Arie menerangkan sekilas sosok Vella.


“Wah aku malah enggak tahu kalau Ibu nitipin Vella ke eMbak,” sahut Arie. Dia malah baru dengar soal ini.


“Bulek Wied kan emang gitu. Siapa pun yang dekat dengan kita pasti akan dia sayang seperti dia sayang ke kita,” jawab Tiwi.


Rupanya kedatangan pakde Wito kerumah ini adalah memberi tahu agar pakde guruh dan bude Nawang mau hadir diacara lamarannya Tiwi malam minggu lusa.


“Serius Mbak? Minggu depan dilamar?” bisik Arie.


“Serius. Bapak minta aku dilamar sebelum bulan depan mbak Tini menikah. Tini adalah kakak Tiwi yang sedang kuIiah di UGM mengambil fakultas ekonomi. Walau masih semester tujuh tapi calon suaminya tak mau menunda pernikahan mereka.


“Mungkin kita menikah dalam waktu hampir bersamaan. Begitu aku wisuda Vella setuju menikah walau dia baru semester tiga nanti,” Arie terus berbisik karena para orang tua sedang bicara serius.


***


Habis salat Subuh Arie bersiap berangkat ke rumah kost Vella. Dia tak ingin kekasihnya terlambat. Dia tetap naik mobil. Tapi nanti ke kampus akan tetap naik motor Vella. Dia ingin Vella biasa menempuh jalur ke kampusnya.

__ADS_1


“Yank, kenalin ini anak pakde Wito. Jadi Abang panggil dia eMbak walau usia Abang lebih tua dua tahun dari dia,” Arie mengenalkan Vella pada Tiwi.


“Hallo, salam kenal. Rupanya ini sosok yang bikin bulek Wied wanti-wanti buat aku jagain. Dan bikin Arie cerewet,” Tiwi yang ceria langsung menggoda Vella.


“Hai Mbak, saya Vella,” Vella mengulurkan tangannya dengan sopan.


“Yank, Abang baru tahu kalau ibu berpesan ke Mbak Tiwi buat jagain kamu,” bisik Arie.


“Ya ampun, segitunya?” tanya Vella tak percaya.


“Kamu tahu keseriusan Abang, kalau Abang serius maka ibu pasti dukung. Jadi jangan pernah ragu ya Yank,” bisik Arie.


“Mbak, aku tinggal ya. Nanti Vella aku jemput. Kirim pesan setengah jam sebelum acara selesai jadi Vella enggak perlu nunggu aku datang,” Arie memberi pesan pada Tiwi.


Vella langsung bergabung dengan rombongan mahasiswa baru sesuai jurusannya.


‘Gadis itu …,’ Ibas kembali melihat Vella. Matanya tak pernah lepas dari sosok gadis yang sangat mirip dengan kekasih hatinya.


‘Bagaimana mungkin dia anak buleknya Endro seperti yang aku lihat di biodatanya kemarin?’ pikir Ibas lagi.


Ya … dia memang langsung mencari data diri gadis itu. Usianya persis seperti perkiraan bila anaknya Laras hidup.


‘Tapi mengapa dia tertulis sebagai anak Nungky dan Prasojo? Andai tertulis nama Endro aku masih bisa menerima karena mungkin saja Dika dilindungi Endro,’ pikir Ibas sehingga dia tak sadar beberapa kali dipanggil oleh rekannya untuk memperkenalkan diri.


Titie tentu melihat dan mendengar saat suaminya beberapa kali dipanggil oleh pembawa acara. Dia lihat tatapan suaminya tertuju pada sosok yang beberapa hari lalu juga dia lihat selalu diperhatikan oleh suaminya.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  UNCOMPLETED  STORY  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2