
Aku sadar, tindakan spontanku kemarin adalah tindakan salah langkah. Sekarang Serena menjauh. Apakah aku masih bisa menggapainya? ~Firza Yudhasmara~
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
“Seenaknya gimana? Itu sesuai prosedur koq, masuk pakai surat lamaran. Dan mundur pakai surat resign. Enggak ada kontrak yang menahan dan enggak ada hutang ke perusahaan yang belum terbayar. Salahnya dimana?” sahut Serena dengan berani menantang mata Firza.
“Tunggu aku kembali. Aku akan cari tiket secepatnya. Dan ingat, waktu tempuh dari sini seharian,” Firza rasanya ingin punya baling-baling bambu dora emon agar bisa sampai di Jakarta dengan seketika.
“Saya masuk kerja juga bukan ACC Abang, jadi saya resign enggak perlu menunggu Abang. Silakan aja selesaikan pekerjaan ngedadak itu di German. Katanya pergi bisa satu bulan, satu tahun bahkan selamanya. Ya sudah selesaikan aja sesuai omongan. Dan semua tugas saya sudah saya selesaikan tadi sore,” jawab Serena.
“Kamu enggak boleh gitu. Pokoknya kamu harus tunggu Abang,” Firza makin panik.
“Terserah. Assalamu’alaykum,” Serena langsung memutus sambungan telepon jarak jauh itu.
***
Ruang dosen heboh ketika ada dua orang polisi mencari Titie. Berita itu cepat menyebar. Akhirnya semua tahu kalau perkara Titie melabrak Vella kemarin bukan hal yang biasa seperti yang selama ini terjadi. Saat ini hampir semua korban sudah dihubungi Nawang dan Ningrum untuk maju bersama bersaksi di pengadilan atas kasus perbuatan tak menyenangkan.
“Mau nyicipi Mbak?” tanya Vella menawarkan apa yang dia bawa.
“Enggak, aku lagi nunggu boom meledak,” sahut Tiwi.
“Maksude opo?” tanya Vella bingung.
“Ibumu marah, lalu dia ngajak ibuku dan bude Nawang buat bergerak. Mereka telah melaporkan Titie ke rektor bahkan bikin pengaduan ke polisi. Sekarang tinggal tunggu dia diciduk saja,” jawab Tiwi.
Vella yang awalnya tak tahu kalau kasus kemarin sudah bergulir sangat tajam jadi kaget sendiri ketika tahu yang bergerak adalah ibu dan kedua budenya.
“Sampai segitunya Mbak?” tanya Vella tak percaya.
“Ben ra tuman De. Tiap semester dia selalu berbuat begitu. Kalau tidak ada yang wiwiti ( memulai ) ya dia akan seperti itu terus. Dia merasa paling hebat dan paling benar. Padahal dari semua korban, ibuku dapat info, mereka tak pernah ngobrol dengan pak Baskoro diluar masalah kuliah,” Tiwi menyatakan apa alasan bulek Wiedo bergerak.
“Aku yakin, aku enggak bisa menahan proses ini. Jadi aku yo meneng wae lah Mbak,” Vella bingung karena sebenarnya tak ingin terlibat masalah hukum.
__ADS_1
***
Satu minggu berlalu dari pencarian Titie di rumah Ibas dan kampus. Tak ada yang tahu dia dimana karena kamar kostnya memang belum ada yang tahu. Titie sudah mendapat info dicari polisi karena teman kerjanya memberi tahu. Dia langsung membeli nomor baru agar bisa me-non aktifkan nomor ponselnya.
‘Kalau aku pulang ke Wonosari, pasti orang tuaku juga sudah tau. Sekarang aku harus bagaimana?’ Titie bingung sendiri.
“Saya akan buat Titie merangkak meminta maaf pada putri saya. Camkan itu!” Titie terus terngiang kata-kata ayah Vella di ruang kerjanya. Dia ingat selama ini semua mahasiswi yang dia tegur tak pernah ada yang berani melawan. Apalagi memperkarakan seperti ini. Kemarin kakak anak itu saja berani melawannya dan sekarang orang tuanya malah memperkarakan dirinya.
***
Sejak Endro memberitahu rahasia besarnya, Vella tahu Ibas ayah kandungnya. Vella belum bisa menerima, tapi berupaya tidak menolaknya karena itu adalah garis hidupnya. Vella akan berdamai dengan kenyataan.
“Bisa kita bicara?” tanya Baskoro saat melihat Vella duduk sendiri di kursi perpustakaan.
“Kita mau bicara sebentar atau lama? Kalau lama saya tidak bisa, sepuluh menit lagi saya masuk kuliah jadi lima menit lagi saya akan ke kelas. Kalau Bapak mau, sehabis mata kuliah ini kita bertemu di cafe MUST MBAREP aja,” sahut Vella santai. Dia berupaya tak menghindari persoalan.
“Kirim alamat cafe itu.karena saya tidak tahu cafe tempat anak muda nongkrong,” jawab Ibas.
“Tulis nomor ponsel Bapak disini, nanti akan saya kirim alamatnya,” Vella memberikan buku catatannya yang dia buka untuk Ibas menulis nomor ponselnya disitu.
***
Ibas segera menyimpan nomor ponsel yang baru saja mengirimkan alamat cafe must mbarep tempat dia akan ngobrol dengan Vella. Sehabis jam mengajar dia segera menuju cafe itu.
“Sudah lama?” tanya Ibas. Dia melihat Vella sudah duduk di sudut dekat jendela.
“Belum, baru aja pesan minum. Bapak mau pesan apa?” Vella melambai pada server yang bertugas.
“Minta satu carabian nuts with ice dan sosis bakar ya Mbak,” Ibas memesan tanpa tahu kalau Vella juga pesan itu. SAMA PERSIS.
“Mengapa kamu memilih tempat ini? Apa tidak takut jadi pembicaraan lagi?” tanya Ibas.
“Pasangan selingkuh tak akan berani tampil ditempat umum siang-siang Pak. Jadi sangat bodoh orang yang menyebarkan berita kita sedang selingkuh sedang lokasi cafe ini hanya sejengkal dari kampus,” jawab Vella santai.
Pesanan mereka datang bersamaan. Ibas baru tahu kalau pesanan mereka sama. Vella sudah tahu sejak Ibas mengatakan pesanannya tadi. Vella membuat foto pesanan mereka.
“Bapak mau bicara apa?” tanya Vella. “Kita sambi makan aja.”
__ADS_1
“Saya sudah tahu kelakuan mantan istri saya pada kamu. Dan saat itu saya melihat teman SMA saya. Apa hubunganmu dengan Endro Herminanto?” tanya Ibas to the poin.
“Dia Daddy saya,” jawab Vella juur.
“Tapi di biodata-mu, kamu anak Prasojo dan Nungky,” Ibas tentu bingung. Mau dari arah mana dia menggali soal Andika Larasati?
“Prasojo dan Nungky mama dan papa saya. Tapi sejak bayi saya diasuh oleh daddy saya,” jawab Vella sambil menyuap sosis bakarnya.
“Lalu siapa Mommy-mu?” tanya Ibas penasaran.
“Tadi Bapak bilang soal MANTAN istri. Padahal bu Titie kan istri Bapak. Apa maksudnya?” Vella sengaja mengalihkan pembicaraan. Ia tak menjawab pertanyaan soal mommy-nya.
“Saat daddymu datang, saya memberi Titie talak didepan beberapa dosen. Saya sudah jenuh dengan kelakuannya. Kamu bukan orang pertama yang dia perlakukan seperti itu,” Ibas memberitahu dia telah menjatuhkan talak buat Titie.
“Saya tahu. Bahkan banyak korbannya akan jadi saksi yang memberatkan di pengadilan nanti. Karena calon mertua saya sudah melaporkan kasus ini ke polisi,” sahut Vella.
“Berapa usiamu? Mengapa sudah mau menikah?” tanya Baskoro penasaran.
“Apa usia menentukan pernikahan? Berapa usia Bapak saat …,” Vella sadar dia salah ucap. Dia tidak jadi meneruskan kalimatnya.
“Mengapa tak dilanjutkan?” tanya Ibas.
“Saya menikahi Titie delapan tahun lalu, ketika usia saya 28 tahun. Saya dan Endro ayahmu selisih dua tahun. Dia masuk lebih cepat, dan saya terlambat satu tahun saat sakit di kelas tiga SD. Jadi walau selisih dua tahun kami satu kelas.” Baskoro menerangkan kapan dia menikahi Titie
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNCOMPLETED STORY YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETIN JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL UNCOMPLETED STORY ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta