
Apa aku salah bila aku membiarkan rasa sayang ini tumbuh? Apa aku siap menjalani kisah yang kata orang sering menyakitkan seperti yang bunda alami itu?~Siena Maheswari Parussangi~
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
‘Bareng dari Jakarta, ketemu jodoh di Jogja,’ Atikah teringat satu komen di postingan Helmi.
‘Apa mereka satu kampus di universitas swasta yang Helmi ambil? Kali aja Siena pindah dari Makasar karena enggak betah. Kan mereka sama-sama satu sekolah saat SMA,’ Atikah kembali galau.
‘Aku harus menyelidiki langsung sesudah kuliah hari ini,’ tekad Atikah. Dia tak mau dibuang Helmi walau tadi lelaki itu sudah bilang mereka enggak ada hubungan apa pun.
Atikah kembali menekuni pekerjaan yang harus dia kumpulkan sebentar lagi di jam kedua. Dia harus ke photocopy seberang untuk ngeprint tuganya nanti. Sekarang yang penting dia segera menyelsaikan makalah ini.
***
“Udah jadian?”
“Belum. Baru pedekate. Gile aje langsung main tembak. Aku lagi lihat respon dia dulu.”
__ADS_1
“Awas aja kalau kamu bikin dia sedih. Aku bikin kamu jadi sate. Kamu tahu kan buat kami satu aja yang terluka, semua bergerak.”
“Iya Aku tahu. Aku bantuin dong.”
“Ogah banget. Aku jadian ama kak Arie aja tanpa bantuan siapa pun. Laki-laki harus gentle.”
Atikah mendengar dengan jelas pembicaraan Vella dan Helmi di bangku taman sebelum pelajaran pak Baskoro.
“Tiap hari ketemu kan?” tanya Vella lagi
Belum sempat Helmi menjawab terdengar bell. Keduanya segera bangkit, meninggalkan Atikah yang makin penasaran apakah tiap hari Helmi dan Siena bertemu?
***
Siena ingat siang itu di rumahnya.
‘Enggak usah sembunyiin senyummu. Kamu manis kalau tersenyum,’ pertama itu yang dibisikan Helmi saat Vella menggoda Raffli membuat semua tersenyum lebar.
‘Aku suka tawa lepasmu,’ lagi Helmi berbisik ketika lelaki itu mau ambil buah melon yang sedang di kupas Siena. Tadi memang Siena tertawa geli karena Laras ingin punya boneka salju seperti OLAF the snow man di film FROZEN yang dia tonton. Gadis kecil itu merengek pada Vella untuk bisa membuat boneka salju seperti Olaf.
__ADS_1
Itu sebabnya Siena tak berani menjawab komen di postingan itu. Dia merasa malu. Selain Vella, Merry dan Wieke juga sudah punya pacar sejak SMA.
‘Apa yang harus aku katakan nanti? Jam terakhir ada kelas bersamanya,’ Siena galau. Ini pertama kalinya dia memikirkan seorang lelaki.
‘Aku harus menghadapinya. Aku tak boleh takut hanya karena kegagalan bunda. Buktinya orang tua temanku yaang lain tak ada yang bermasalah seperti papa dan bunda,’ Siena bersiap berangkat kuliah.
Siena memang paling akhir berangkat. Bunda jam setengah tujuh sudah berangkat dan Raffli jam tujuh kurang sepuluh. Lelaki kecil itu sengaja datang pas bell sudah berbunyi. Dia malas berbaur dengan temannya di kelas.
Dan yang sering memang Siena yang pulang paling akhir, karena yang lain jam tiga sudah di rumah. Sedang Siena masih ada kelas hingga jam lima sore.
***
“Mengapa kamu tak bekerja sama dengan kelompok. Nilai kelompok walau kamu buat lebih bagus tiga kali lipat, tapi dimata saya kamu bukan mahluk sosial. Saya membagi kalian dalam kelompok itu agar ada interaksi. Bukan untuk menonjolkan satu orang dari yang lainnya,” Atikah mendengar ceramah Baskoro didepan kelas saat dia menyerahkan makalah pribadinya.
“Saya ingatkan untuk semua. Bila ditugas berikut kalian ada yang kerja perorangan, jangan pernah ikut kelas saya lagi di mata kuliah apa pun,” demikian selalu Baskoro bila sedang menjadi dosen. Dingin dan mahal senyum.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta