
Banyak orang yang mendapat firasat sebelum kejadian, tapi tak tahu akan terjadi apa dan kapan. Aku sering mendengar ada kata-kata weruh sak durunge winarah atau tahu sebelum kejadian, tapi aku enggak tahu apa pun, jadi kata-kata itu tak tepat untukku. Aku hanya punya firasat akan terjadi sesuatu saja. ~Endro Herminanto~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Jadi kamu lebih tertarik belanja sayuran dan makanan mentah?” tanya Tiwi.
“Iya Mbak. Kebetulan depan kost setiap sore ada mobil penjual sayuran yang berhenti tiap jam empat. Kalau tak ada pembeli sepuluh menit dia sudah jalan lagi. Jadi jam empat aku bisa belanja sayuran segar juga ayam dan ikan karena di mobil itu ada cooler boxnya,” cerita Vella.
“Aku baru percaya. Tadinya waktu Arie bilang kamu enggak suka makan di warung, aku yo enggak percaya.” Tiwi ingat kalau Vella bukan gadis berkekurangan. Kalau mau dia bisa ke kampus bawa mobil sendiri.
Akhirnya Vella hanya membeli beberapa lauk matang saja. Seperti perkedel, rendang dan balado ikan.
***
Hari Kamis. Jam pertama adalah mata kuliah pak Baskoro Gunawan. Saat ini hari pertama kuliah setelah hari Senin kemarin hanya diisi perkenalan saja.
‘Tu dosen matanya minta dicolok. Dari tadi ngasih kuliah kenapa natap aku terus sih?’ Vella hanya bisa mengeluh dalam hatinya. Sejak kelas dimulai dia tak nyaman dengan dosen bernama Baskoro Gunawan ini.
‘Aku yakin ini bukan karena aku ke ge er an,’ batin Vella lagi. Sungguh dia merasa tak nyaman mengikuti mata kuliah ini.
‘Aku makin yakin dia anak Andika, bahkan cara dia menyibakkan rambutnya persis seperti Andika,’ Ibas terus menatap lekat vella. Untungnya dia tetap bisa memberi materi tanpa terganggu dengan lamunannya akan Andika.
‘Bagaimana caranya aku bisa mengetahui kebenarannya?” Ibas mencari cara agar dia bisa mengorek rahasia tentang latar belakang Vella.
‘Yang aku tahu, pak Baskoro sudah punya istri. Dan istrinya juga bekerja disini. Apa ini yang membuat rumors itu beredar? Kalau istri pak Baskoro sering melabrak mahasiswi yang dalam bimbingannya dosen ini? Iya sih ganteng, masih muda. Tapi kalau sudah punya istri kan harusnya setia,” pikir Vella. Dia malah tak konsentrasi menerima mata kuliah dari Baskoro.
***
“Bagaimana kuliahmu?” seperti biasa Endro bertanya pada putri tunggalnya.
“Lancar Dadd. Cuma agak kesel aja ama satu dosen,” sahut Vella manja.
“Enggak boleh gitu. Kalau kita benci sama dosen atau guru, bikin kita jadi malas sama mata kuliah atau mata pelajaran yang dia berikan,” sahut Endro menasihati Vella.
__ADS_1
“Masalahnya mata ni dosen seperti pengen nelen aku Dadd. Padahal dia udah punya istri lho. Dan yang aku denger dari kakak tingkat termasuk dari mbak Tiwi, istri ni dosen sering ngelabrak mahasiswi yang ikut bimbingan ama suaminya itu,” dengan keqi Vella menceritakan karakter dosen dan istrinya itu.
“Kalau kita enggak ngapa-ngapain ama tu dosen. Kenapa kita harus takut ama istrinya?” Endro memberi motifasi pada Vella.
“Iya sih Dadd,” sahut Vella. Buat Vella dia tinggal di Jogja tidak berat. Karena tiap hari bisa ‘bertemu’ dengan semua orang terkasihnya.
Sehabis bicara dengan Endro, masuk telepon dari Arie. Seperti pada Endro, Vella juga bercerita tentang mata Ibas yang tak pernah berkedip memandangnya. Membuat dia malas ikut mata kuliah yang Ibas berikan.
***
“Kamu dimana?” tanya Endro setelah berbalas salam dengan Arie.
“Di rumah Dadd. Ada apa?” tanya Arie bingung. Ini kali pertama Endro meghubunginya.
“Daddy punya firasat buruk. Passport-mu beneran hidupkan?” tanya Endro memastikan
“Iya Dadd, masih lama jangka waktu perpanjanggannya,” sahut Arie makin bingung.
“Daddy minta, siapkan selalu passport-mu di tas yang selalu kamu bawa. Kalau suatu saat mendadak harus berangkat, kamu tak perlu lari pulang untuk ambil passport di rumah dulu,” Endro tak bisa menutup kegugupannya. Dia memang sering seperti ini. Seperti mempunyai firasat akan terjadi sesuatu. Tapi tak bisa menjelaskan karena tak tahu akan terjadi apa.
“Baik Dadd, ini passport sudah saya masukkan di sling bag,” sahut Arie tak mau menunda.
***
Minggu kedua perkuliahan. Vella makin sebal pada Ibas. Tak ada tatapan genit dari lelaki yang Vella taksir seusia daddynya. Tatapannya malah seperti tatapan merindu dan mendamba. Persis seperti tatapan Arie bila mereka bicara lewat video call.
“Kamu serius Dek?” tanya Tiwi.
“Iyo Mbak. Ra nyaman rasene setiap mata kuliah dia,” malas berkeluh kesah dengan Endro dan Arie yang selalu tak memberi respon seperti keinginannya, maka Vella curhat pada Tiwi.
“Aku dengar istrinya beberapa kali menegur mahasiswi yang bimbingan skripsi dengan dia atau bahkan yang dosen PA nya dia. Padahal untuk menentukan dosen PA kan bukan pilihan mahasiswi,” sahut Tiwi.
“Saran Mbak, kamu duduk di depan terus Dek, kalau didepan kan semua orang lihat kamu. Kalau dibelakang enggak ada yang lihat kalau dia dekati kamu,” Tiwi memberi arahan untuk adik sepupu ipar yang juga adik tingkatnya itu.
***
__ADS_1
“Saya akan memberikan tugas kelompok. Satu kelompok tiga orang. Kalian bentuk kelompok kalian, lalu ketua kelompok maju kedepan mengambil bahasan apa yang akan kalian dapatkan sebagai tugas.” Ibas duduk di kursinya. Dia keluarkan sebuah toples kecil dari tas kerjanya. Toples berisi kertas yang sudah digulung dan diberi potongan sedotan seperti kocokan arisan.
Vella, Surti dan Anis tentu saja menjadi satu kelompok. Mereka tak ingin bergabung dengan yang lainnya.
“Maaf Pak, kami hanya berdua,” Helmi mengangkat tangannya. Dia hanya berdua dengan Atikah.
“Kalau dilihat jumlah mahasiswa, memang akan ada satu kelompok yang hanya beranggotakan dua orang,” jawab Ibas sambil melihat buku absen miliknya.
“Silakan. Saya urut dari ujung belakang kanan ya. Kalian kelompok Satu, kalian kelompok dua, kalian tiga …, demikian Ibas memberi nama kelompok pada tiap group. Helmi di kelompok tujuh dan Vella di kelompok sembilan atau kelompok terakhir.
“Silakan wakil kelompok satu maju,” Ibas mempersilakan mahasiswa mengambil pokok bahasan tugas kelompok.
“Kamu maju Sur,” Anis meminta Surti mengambil pokok bahasan untuk kelompok mereka.
***
Dua minggu dari telepon Endro. Sekarang sudah minggu ketiga perkuliahan dan suatu hal buruh yang ditakutkan Endro akan terjadi tak Arie dapatkan.
‘Mungkin daddy hanya terlalu khawatir saja karena pertama kalinya jauh dari Vella.’ demikian pemikiran Arie. Dia menjadi tenang.
Sebaliknya Endro makin merasa bom waktu siap meledak. Rasa Was-was itu semakin terasa. Sedihnya dia tak tahu akan terjadi apa dan kapan.
“Vella, kumpulkan semua tugas harian temanmu dan kamu bantu saya membawa ke ruang dosen,” Ibas memerintah Vella mengumpulkan tugas personal yang baru saja diselesaikan semua mahasiswa.
Mahasiswa yang sudah menyerahkan tugas langsung keluar untuk ganti kelas, istirahat atau pulang. Tergantung mata kuliah berikutnya yang mereka ambil.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL CINTA KECILNYA MAZ YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta