
Mencari sahabat itu tak semudah mencari teman. Kami bukan dari lingkungan yang sama tapi kami bisa bersahabat. Perpisahan jarak memang menyakitkan, tapi kami yaakit persahabatan kami tak akan pudar karena jarak yang terbentang. ~Pretty girls~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Vella sudah siap berangkat ke rumah Siena. Sekarang dia sedang sarapan dengan kedua orang tuanya serta Bagas. “Jadi ke bandara Dek?”
“Jadi Mas, kami kumpul di rumah Siena jam delapan. Ini kado untuk dia yang dari kami satu group dan yang kecil ini dari aku pribadi,” Vella memberitahu dua buah kado yang mereka siapkan untuk sahabat baik mereka.
“Mas, isiin saldo BCAflazzku ya,” pinta Vella. Ke bandara tentu bayar tol pulang pergi cukup besar biayanya. Belum lagi bensinnya. Untung bensin selalu ditanggung Endro karena kwitansi dari pompa bensin nanti dikumpulkan oleh sopir untuk laporan mingguan. Endro memberi uang dimuka sehingga bensin kegiatan Vella aman.
“Minta Papa lah,” goda Bagas pada adik bungsunya itu.
“Jangan, uang dari Papa biar cash aja buat jajanku,” sahut Vella. Dia jarang minta uang pada Pras dan Nungki apalagi pada Bagas, hampir tidak pernah sama sekali. Tapi dia sudah tiga minggu menginap disini. Memang Endro selalu rutin mengirim uang ke rekeningnya, tapi rasanya ingin dia sesekali meminta pada papa dan kakak kandungnya itu.
Vella ingat dia minta uang cukup besar pada Pras hanya ketika ingin membeli kado untuk ulang tahun Endro empat tahu lalu. Selebihnya dia hanya minta uang jajan harian yang tidak pernah lebih dari dua ratus ribu rupiah.
“Kamu kirim nomor flazzmu aja, nanti Mas isikan,” jawab Bagas.
__ADS_1
“Sekalian nomor rekeningku yo,” ha ha ha Vella dikasih ati minta jantung.
***
Di rumah Siena, sudah ada Dian dan Riesye yang berangkat bareng karena Dian menjemput Riesye yang rumahnya berdekatan. Vella datang nomor dua. Tinggal menunggu Merry dan Wieke maka genks akan lengkap formasinya.
“Kalian sudah sarapan?” tanya mama Siena ramah.
“Sudah tante. Kami semua sudah makan. Tante fokus ke urusan keberangkatan aja,” jawab Riesye cepat.
“Iya, kami juga sarapan tadi beli. Semua sudah kami jual. Tinggal nanti kasur tipis itu saja yang kami tinggal. Rumah sudah kosong enggak ada isi apa pun,” sahut mama Siena. Rumah ini pun sudah terjual dan harus dikosongkan lusa. Itu sebabnya dia memutuskan berangkat ke tanah kelahirannya hari ini.
Wieke datang nomor tiga, tak lama kemudian Merry pun datang. Tak ada yang terlambat karena sekarang baru pukul 07.55. Vella, Merry dan Dian membawa mobil sehingga Siena dan mamanya tak perlu menyewa taksi atau mobil. Tiga mobil mereka cukup untuk membawa koper-koper dan dus barang milik Siena dan keluarganya.
***
Vella dan teman-teman masih diam di bandara, Siena dan keluarga baru saja masuk untuk check in karena hampir boarding. Vella tadi memasukkan kado kecil langsung ke tas ransel Siena. Dia tak ingin teman-teman lain tahu dia memberi hadiah personal. Mereka masih sedih karena salah satu teman mereka harus jauh di seberang lautan.
“Ada yang mau pulang bareng aku?” tanya Vella. Dia berharap kepergiannya ke Jogja sembilan hari lagi tidak sesedih sekarang. Karena dia masih mudah pulang pergi ke Jakarta.
__ADS_1
Aku ikut Dian saja yang dekat rumah,” jawab Risye cepat.
“Gue ikut Merry aja biar ojeknya enggak kemahalan,” jawab Wieke.
“Jadi kita pisah disini? See you semua,” Vella menciumi pipi sahabatnya satu persatu.
***
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL CINTA KECILNYA MAZ YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta