UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
SPECIAL BUAT MY LADY


__ADS_3

Dia nembak atau bukan sih? Enggak ada romantis-romantisnya. Di depan temannya dan di tempat makan pula. Anti mainstream boleh aja. Tapi enggak gini juga kalee~Siena Maheswari Parussangi~


Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




'*Hai aku juga baru bangun nih*,' jawab Siena. Vella membaca pesan teman-temannya di group.



'*Iya kita habis salat subuh nggak pegang HP langsung tidur lagi*' kata Dian.



'*Wieke dan Merry yang nggak salat aja mereka  langsung tepar sampai hari gini*' Riesye pun menimpali.



'*Yey lagian elu pada sih yang salat Subuh, kalau nggak gue yang bangunin pada tewas semua. Itu  alarm salat Subuh berisik banget lu pada nggak ada yang bangun*,' kata Wieke.



'*Tepar banget tapi seneng*,' kata Siena.



'*Thanks berat buat Kak Arie*,' Merry ikut meramaikan group.



'*Eh belum ada ceritaan yang jadian nih*,' goda Vella.



'*Iya bener-bener, aku lihat kok makanya aku yang ngatur fotonya*,' kata Siena.



'*Siapa yang jadian sih*?' elak Riesye.



'*Halah gua tahu kok terus  pas makan juga gimana tuh?' Kita semua lihat lho*,' kata Merry menggoda Risye.



**FLASHBACK ON**


"Ini mau?" kata Pandu menawarkan rempeyek pada Riesye.



"Terima kasih, saya sudah ambil kerupuk," jawab Riesye.



Pandu lalu menawarkan sate usus ayam pada Riesye. "Kalau keluarganya Mas Ari dan keluarganya mbak Vella itu sukanya sate uritan." kata Djojo.



"Iya memang sate uritan agak sulit didapat karena kan nggak semua ayam yang dipotong ada telur mudanya,"  kata Pandu.



"Itu bukannya telur puyuh?" tanya Risye.



"Ya ampun kamu enggak tahu tho. Sik tak ambilke," Pandu berdiri mengambil sate uritan yang untung masih ada dua di piring saji dekat kasir.



"Ini *special buat my lady*. Ini bukan sate telur puyuh. Beda banget.  Sate uritan itu dibuat dari telur yang memang belum bercangkang di dalam perut ayam. Dalam ususnya, di dalam rahimnya si ayam lah," jelas Pandu.

__ADS_1



"Oh gitu," kata Risye sambil mencicipi sate yang diambilkan Pandu tadi. Risye merasakan nikmatnya kuning telur tanpa cangkang itu. 



"Enak tho?" Pandu bertanya pada gadis yang akan jadi sasaran tembak panah cintanya itu. 



"Iya, dari pagi aku kira ini telur puyuh. Aku bingung koq kak Arie spesial banget ambil ini satu piring buat Vella dan Laras." Risye tersenyum manis menimpali kebodohannya tak tahu beda telur puyuh dan uritan. 



"Jangan lupa lho nomor teleponmu," kata Pandu.



"Aku nggak denger kok," kata Djojo.



"Kamu mau dua?" kata Pandu.



"Aku bisa digorok sama kaptenku kalau sampai aku duain sepupunya," kata Djojo



"Mangkanya udah cukup kamu diem," kata Pandu.



"Aku tuh serius sama kamu Djojo saksinya aku nggak punya pacar dan belum pernah pacaran jadi kamu pikirkan itu baik-baik," kata Pandu dengan seriusnya. Bicara di depan Djojo tanpa peduli.



"Diantara kami itu,  kami terbiasa jujur dengan teman dan sahabat dan kami tak mau saling tikung," kata Djojo.




"Yang ngejar aku juga sepupunya atasanku. Tapi aku respon sih karena memang dia suka aku dan aku suka dia." lanjut Djojo.



"Pandu enggak ada kok temen deket atau yang jadi pacarnya," jelas Djojo



"Udah deh kalian nggak usah sekongkol gitu," kata Riesye.



"Aku serius," kata Pandu.



"Terserah," jawab Riesye dia terus makan lagi.



'*Apa beneran dia serius sama aku ya*?' batin Risye saat itu sambil makan.



'*Tahu ah. Tapi emang dia dari awal sih memperlihatkan rasa suka*,' pikir Risye selanjutnya.



Djojo mengambil ponsel Risye yang tergeletak di meja. "Apa kodenya?" Djojo mengelak saat Risye berusaha merebut ponsel miliknya. 



"Kalau gitu kamu buka kuncinya," Djojo menyodorkan ponsel depan Risye tapi dia pegang erat agar tak bisa diambil pemiliknya.

__ADS_1



Akhirnya Risye membuka kunci ponsel dengan memasukkan passwordnya dengan terpaksa.



Djojo menekan nomor telepon Pandu yang sangat dia hafal. Pandu mendengar dering dan tersenyum lalu Djojo meletakkan ponsel itu.



"Sudah selesai. Terima kasih," kata Djojo.



"Kalian itu ya," kata Risye sambil cemberut.


**FLASHBACK OFF**.



Arie membuka media sosialnya dia pun membalas banyak komentar di postingan yang dia buat atau yang menandai dirinya.



'*Kan gua bilang apa. Kalian ke sini ayo bareng kita makan bareng*,' tulis Arie pada Asih di postingan media sosial masalah sarapan lesehan di Malioboro.



Setelah selesai menjawab banyak komen di postingan sarapan itu Arie masuk ke postingan coklatnya yang banyak banget komennya. Sebagai pemilik akun yang sopan, Arie membalas semua komen satu persatu.



'*Iya Dek besok ke sini kita ke pabrik coklat yang ini Mbak Vella yang udah ke sini. Abang juga baru lihat*,' tulis Arie pada Frina.



'*Janji ya Bang*,' jawab Frina.



'*Iya Abang janji ke sini kita akan ke Jogja lagi. Kita akan ke pabrik coklat*,' jawab Arie.



'*Helmi, kamu kan bisa pergi berdua sama yayangmu @Siena. Enggak usah lah ama kami-kami. Dua'an lebih enak kan*,' kata Arie pada komen Helmi.



'*Bukannya enak bareng-bareng ya*?' balas Helmi.



'*Enggak lah enak juga dua-duaan. Ya enggak @vella*?' kata Arie menggoda Helmi.



'*Oke besok aku pulang dari Jakarta akan segera ke sana berdua yayang @siena*,' Jawab Helmi.


\*\*\*



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya.



![](contribute/fiction/5890234/markdown/10636434/1675705888167.jpg)


__ADS_1


Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR itu ya.


__ADS_2