UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
VELLA MENJEMPUT IBAS DIRUANG DOSEN


__ADS_3

Jangan mau dianggap lemah terus. Sesekali kita harus memperlihatkan taring kita. Kita punya power jadi jangan selalu diam. ~Novella Moraletta~


DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI. JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Sarapan dulu kalau kalian mau jalan-jalan sebelum pulang,”  Endro memerintah Arie dan Vella makan. Dia sudah memesan sarapan sejak semalam.


“Maaf Dadd, kita kan mau balik ke Jogja, lalu setelah kita berdua kembali ke Jakarta, Vella harus bagaimana menghadapi pak Baskoro?” tanya Arie pagi ini.


“Sebenernya Aku pulang sendiri enggak apa-apa Dadd. Daddy dan Abang langsung balik ke Jakarta aja. Aku yakin bu Titie enggak akan berani lagi ganggu aku setelah Daddy datangin seperti itu,” Vella tak mau Arie dan Endro jadi repot karena dirinya.


“Kamu langsung balik Jakarta aja Rie. Biar enggak ganggu kuliahmu. Biar Daddy yang antar Vella,” Endro malah sekarang menyuruh Arie saja yang langsung kembali ke Jakarta.


“Iya sih. Tapi besok kan Minggu Dadd, hari Senin baru ada mata kuliah penting. Enggak apa-apalah absent satu kali,” jawab Arie.


“Abang …, udah nanti Abang dan Daddy turun Jakarta aja. Ade sanggup koq hadapin semua. Kemaren Ade shock karena enggak tahu tentang mommy. Sekarang biarin Ade hadapin ini semua sendiri. Kalau Ade enggak sanggup, Ade akan minta tolong mbak Tiwi dan mbak Tini. Please kasih Ade kepercayaan,” Vella berniat akan menghajar balik Titie secara elegan. Dia akan menghancurkan Titie dengan caranya sendiri.


“Oke, jadi kita ubah planning ya. Ticketmu harus lebih dulu berangkatnya. Jadi Daddy enggak merasa bersalah ninggalin kamu sendirian di bandara Singapore,” Endro akan membiarkan Vella menyelesaikan masalahnya sendiri.


Vella tak tahu kalau Endro akan menyuruh orang untuk menjaga Vella dari jauh. Arie tak percaya Endro semudah itu membiarkan Vella ‘bertarung’ sendirian. Tapi Arie yakin Endro pasti punya alasan yang dia tak tahu.


Endro langsung mengganti tiket miliknya dan milik Arie menjadi penerbangan ke Jakarta dengan selisih waktu dua puluh menit setelah keberangkatan pesawat Vella.


***


“Memang bapak pergi kemana?” tanya Titie setiba di rumah dia mendapat pesan agar segera pergi dari rumah milik Baskoro suaminya. Eh … mantan suaminya.


“Enggak tahu Bu. Bapak hanya berpesan Ibu segera keluar dari rumah ini,” sahut simbok serba salah.


Titie sadar, rumah ini bukan harta gono gini. Saat dia menikah, Ibas sudah membeli rumah ini walau secara angsuran. Dan selama ini tak satu rupiah pun uangnya yang ikut masuk untuk membayar angsuran. Jadi dia tak bisa bertahan.


Bahkan mobil tua suaminya juga sudah dimiliki Baskoro jauh sebelum mereka menikah. Saat itu tentu belum masuk mobil tua. Tapi sejak mereka menikah memang Ibas tak pernah ganti mobil.


‘Aku harus kemana? Kembali ke rumah orang tuaku? Lalu Laras? Bagaimana sekolahnya bila aku ke Wonosaril membawa Laras? Dan bagaimana tiap hari aku aku berangkat kerja? Kalau aku cari kost sekarang, bagaimana dengan barang-barangku?’ Titie bingung. Cari kost diawal tahun ajaran baru tentu tidak mudah.

__ADS_1


Titie memasukkan baju tidur dan dua pasang baju kerja kedalam tasnya. Dia masukkan alat mandi dan alat make up dasar. Kalau dia tak keluar saat ini, Ibas pasti akan menggeretnya keluar. Dia pasti malu. Jadi lebih baik malam ini dia akan mencari penginapan murah sambil mencari kamar kost yang masih ada. Jadi besok dia bisa pindah ke kamar kost.


“Mbok, karena dadakan, saya hanya bawa baju dua pasang. Katakan pada bapak, besok saya akan kembali untuk mengambil barang-barang saya. Saya titip Laras ya Mbok,” tanpa pamit pada Laras, Titie keluar dari rumah Baskoro.


Sepanjang sore Titie mencari kamar kost. Dia datangi yang ada iklannya dan tidak terlalu jauh dari kampus tempatnya bekerja. Dia tak memikirkan bila bertemu dengan mahasiswi yang tahu siapa dirinya. Yang penting sekarang dia harus bisa bertahan dan mempunyai tempat berteduh.


‘Kalau sampai malam belum dapat rumah kost, aku terpaksa menginap di losmen atau hotel murah. Tapi aku upayakan tidak menginap di hotel. Semoga malam ini aku langsung dapat kamar kost,’ batin Titie.


“Akhirnyaaaaaaaa …,” Titie lega bisa mendapatkan kamar kost yang bisa langsung dia tempati malam itu juga. Kamarnya bersih, tak terlalu jauh dari kampus dan cukup terjangkau di kantongnya.


Titie segera membersihkan diri dan bersiap tidur. Dia belum tahu akan membawa Laras atau tidak. Kalau dia membawa Laras, artinya dia harus mencari pengasuh. Simbok tak akan mungkin mau ikut dia karena simbok satu kampung dengan Ibas.


Dan kalau dia membawa Laras, artinya dia harus mengeluarkan biaya hidup untuk tiga mulut. Titie belum tahu apakah Ibas mau menanggung biaya hidup Laras bila anak itu tinggal dengannya. Karena selama ini walau saat sidang cerai seorang banyak disebut wajib menafkahi anaknya. Pada kenyataannya para lelaki itu banyak yang tak melakukan kewajibannya itu.


***


Ibas masuk ke rumahnya sudah sangat malam. Dia tak mau mengecek Titie ada atau tidak dikamarnya. Dia malas bila melihat makhluk itu masih ada disini. Jadi Ibas langsung masuk ke ruang bukunya saja seperti biasa.


Pagi harinya, hari Sabtu Ibas baru tahu kalau semalam Titie tak ada dirumah ini dan hari ini akan mengambil barang-barangnya.


“Kita jalan-jalan yok Nduk,” Ibas mengajak Laras pergi. Dia malas bertemu bila Titie datang.


***


“Bapak sama Laras kemana Mbok?” tanya Titie saat pagi ini dia sampai di rumah Ibas tapi tak dilihat mobil suaminya dan Laras.


“Bapak bawa pergi main Mbak,” simbok sudah jelas merubah panggilan dari BU menjadi MBAK sekedar tanda menghormaati saja.


Titie yang sudah membawa banyak dus, lakban dan tali rafia serta spidol mengetahui kalau Ibas memang tak ingin lagi bertemu dengannya.


‘Toch besok hari Senin kami bisa bertemu di kampus untuk bicara,’ hanya itu yang ada dalam pikiran Titie. Dia membereskan barang pribadi miliknya.


Titie memesan taksi online untuk membawa semua kardus yang sudah dia packing. Dia pun membawa rice cooker kecil, beberapa piring, sendok dan gelas serta panci-panci kecil yang memang dia beli. Setidaknya itu bentuk pengiritan.


Dia juga punya tabung gas dan kompor satu tungku. Dia bawa beberapa foto Laras karena memang dia tak berani membawa gadis kecilnya. Bukan dia tak sayang, tapi saat ini keuangannya tak memungkinkan dia mengasuh putrinya karena harus mencari seseorang guna menjaga Laras jika dia tinggal kerja.

__ADS_1


***


Hari Senin pagi, Vella bersiap untuk aktivitas hari ini. Tak ada keraguan sedikit pun. Dia akan tunjukkan dia tegar. Dia baru selesai memasak untuk sarapan dan makan siangnya di kampus.


Sejak semalam dan pagi ini Endro dan Arie memberi afirmasi kata-kata semangat. Dan Vella senang dengan attensi yang kedua lelaki kesayangannya itu berikan.


Di kampus banyak yang simpati pada Vella. Tak ada satu pun pandangan mengejek dan menuduhnya perempuan tak baik, karena sudah tahu kalau Titie lah yang selalu membuat onar.


Mata kuliah kedua hari ini adalah mata kuliah dari Ibas. Dan Vella sangat menantikannya. Dia akan memperlihatkan dia baik-baik saja.


Baskoro pun menanti jam pertemuan di kelas Vella. Dia ingin melihat putri Andika. Tadi pagi Titie meminta bicara tapi dengan datar memang Ibas katakan tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Esok jam kosong dia akan langsung mengurus perceraiannya ke pengadilan agama.


“Bapak sekarang masuk ke kelas saya kan?” Ibas terpana melihat Vella sengaja mendatanginya di ruang dosen. Dan tentu disana ada Titie mantan istrinya.


“Eh …, iya. Ada perlu apa?” tanya Ibas gugup.


“Ya enggak apa - apa Pak, kali aja Bapak ragu masuk kelas ceweq secantik saya karena istri Bapak melarang suaminya tercinta menemui saya,” sarkas Vella bicara keras agar Titie mendengar dengan jelas kata - katanya.


“Bu Titie, ayah saya menunggu bukti perselingkuhan saya dan pak Baskoro agar ayah saya bisa segera memindah alihkan semua perusahaannya untuk anda,” Vella meninggalkan ruang dosen dengan langkah pasti. Selain Ibas ada dua orang dosen selain dua orang administrasi selain Titie.


‘Kurang ajar. Pela-cur itu sengaja berbuat onar!’ dengan geram Titie memaki dalam hatinya. Dua temannya bagian administrasi tersenyum mengejek.


***


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL   UNCOMPLETED  STORY  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL  UNCOMPLETED  STORY  ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2