
Lintasan kenangan dan semua kata-kata serta tindakannya baru kami sadari sekarang. Kesadaran yang terlambat. Sejak liburan bulan Januari Merry sudah menyiratkan dia akan pergi meninggalkan kami~Wieke, Vella, Siena, Dian, Risye~
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Kalau capek gantian aja," Helmi menawarkan Duldul gantian. Dia menemani Duldul tidak tidur. Akhirnya Siena bisa tidur ketika Vella tak lagi bicara.
"Kalau mobil ini nggak boleh dioper ke orang umum. Ini khusus mobil dinas. Kami bisa kesalahan bila membiarkan orang sipil mengendarai mobil ini."
"Itu sebabnya saya yang ditugaskan. Tapi berhubung jenderal minta Pandu berangkat, maka kami berdua lah yang meluncur," kata Duldul.
"Oh gitu," Helmi pun menyadari peraturan militer memang ketat.
"Iya nggak boleh sembarangan lepas kunci. Biarin aja nanti aku kuat kok sampai Jakarta. Nanti begitu sampai Jakarta aku tidur nggak usah ikut sama kalian. Biar Pandu yang bawa aja mobil ini," Duldul kembali mengunyah keripik singkong yang Vella bawakan untuk ngemil agar tidak ngantuk.
\*\*\*
Seperti dugaan Arie, jam lima pagi mereka telah sampai di rumah Vella. Itu pun mereka tadi telah berhenti dulu untuk salat Subuh.
Kalau naik pesawat yang paling pagi, jam setengah enam mereka baru sampai bandara. Lalu jam tujuh atau setengah delapan baru sampai rumah Vella.
Arie langsung menyambut rombongan yang baru datang dari Jogja. Arie memeluk erat istrinya yang menangis histeris. Sejak kemarin Vella menahan sesak didadanya. Sekarang baru dia tumpahkan semua duka yang dia rasakan.
"Cukup ya Yank. Kamu sedih Abang ngerti. Tapi cukup nangisnya Yank. Kamu harus kuat. Kalau mau ke rumah Merry kamu harus makan. Abang nggak mau kamu drop," Ariemenghibur istrinya.
"Kalian masuk dulu. Helmi enggak langsung pulang kan, masuk dulu yuk. Masuk dulu, istirahat dulu."
"Kita sarapan dulu kalau mau pulang nanti tunggu dulu sebentar."
Arie mengajak semuanya masuk untuk bersih-bersih diri. Siena kamu masuk kamar biasa ya. Kalian bertiga dulu dikamar ini. nanti yang di sini cuma Duldul sama Pandu. Tapi kalau Helmi mau nginap bisa koq."
Arie membawa istrinya ke kamar untuk mandi.
Akhirnya semua selesai mandi dan simbok menyiapkan sarapan bubur ayam dan lontong opor.
"Ingat ya Abang bilang kamu boleh ke rumah Merry dengan ketentuan sarapan, makan siang dan makan malam harus full tidak boleh tidak ada nafsu makan atau telat makan. Abang enggak bolehin kamu berangkat kalau kamu enggak bener makannya," tegas Arie.
Arie tidak mau istrinya drop. "Kita sedang berduka, badan kita nggak boleh lemah."
Vella hanya mengangguk, Vella sedang mengingat di kamarnya dulu mereka pernah tidur berenam saat belajar menjelang ujian SMA.
"Mbok ingat nggak, opor itu makanan kesukaan Merry kalau sarapan. Karena dia nggak bisa makan pedas," kata Vella sambil terisak malam.
"Maaf Non, kalau masakan simbok pagi ini jadi ngingetin ke non Merry. Maaf ya. Mbok tahu kok dia paling suka lontong opor sama soto ayam," jawab simbok.
Simbok tak lupa kalau Merry yang memang paling suka lontong opor buatannya.
"Kemarin waktu pulang dari Jogja dia datang ke sini loh Non ngasi oleh-oleh buat simbok. Padahal selama ini dia nggak pernah gitu tapi dia bilang ini biar mbok selalu ingat sama aku gitu Non."
"Dari SMA dia pergi kemana pun nggak pernah kasih oleh-oleh ke Mbok. Tapi kemarin dia kok datang pas non sudah pulang dari sini. Katanya Mbok harus ingetin dia terus" Kata simbok lagi.
__ADS_1
"Kok Mbok nggak cerita dia datang seperti itu?" tanya Vella penasaran.
"Mbok nggak berpikir dia pamit begitu Non," jawab simbok.
"Dul, nggak usah ikutin obrolan orang. Kamu makan aja lalu tidur. Nanti kalau kita pergi kamu juga di rumah tenang aja," kata Arie.
"Pandu nanti bisa bawa mobilnya Vella aja. Kamu kan berdua Risye. Helmi dengan Risye. Mungkin Dian bisa masuk mobilmu ya Mi?"
Arie mengatur siapa yang bawa mobil. Tentu dia tak mau mobil dinas dipakai untuk acara pribadi seperti ini. Bisa mencolok mata. Kalau di Jogja tak terlalu kelihatan karena Magelang ~ Jogja tak terlalu jauh.
Kecuali bapaknya yang pakai. Kemana pun tak masalah.
"Kak, habis makan aku pulang aja dulu ambil mobil, nanti Dian biar sama aku dan Siena aja," Helmi mengemukakan pendapatnya.
"Ya udah sekarang kita makan dulu nggak usah nungguin yang lain," Arie mengajak semua makan.
"Abang mau bubur ayam atau lontong?" Vella bertanya. Dia kan wajib meladeni suaminya.
"Lontong aja Yank," sahut Arie.
"Daddy kemana Bang? Aku blank sampai enggak kabarin Daddy," Vella sampai lupa sang ayah tak ada di rumah.
"Pagi ini sampai Indonesia. Tepatnya jam sembilan sampai bandara," sahut Arie sambil menerima sarapan yang disiapkan istrinya.
Siena, Pandu dan Helmi baru melihat bagaimana Vella meladeni suaminya dengan baik.
"Kita mau berangkat jam berapa dan ketemu dimana?" Sehabis makan Vella menghubungi rekannya di group.
"Kumpul di rumahmu aja. Paling telat jam sembilan aku sampai." Wieke cepat memberi keputusan.
"Ok, aku meluncur sekarang," Dian pun tak menolak.
"Sebaiknya kalian bawa baju, kali aja pemakaman besok, semua nginap di rumah aku aja. Berangkat dari posko biar enggak saling tunggu," saran Vella.
Risye tak menolak.
\*\*\*
"Mau aku antar?" Tanya Pandu pada Helmi yang akan pulang untuk ambil mobil.
"Enggak usah Kak, lebih cepet naik ojek online aja." Helmi menolak merepotkan Pandu.
"Dinda, Kanda pulang dulu ya. Kamu ke rumah kalau udah tenang. Sekarang keburu-buru. Enggak enak ketemu umi," bisik Helmi pada Siena.
"Iya aku ngerti. Bawa mobilnya hati-hati ya," pinta Siena. Di Jakarta dulu, Helmi sejak kelas sepuluh akhir sudah bawa mobil sendiri.
Dian datang paling dulu matanya bengkak. Tak lama datang Wieke diantar sopir pribadinya.
__ADS_1
Wieke belum boleh membawa mobil oleh orang tuanya walaupun mobil pribadinya ada sama dengan Vella. Mereka berpelukan dan kembali menangis.
Risye datang diantar Harllo dan Asih. Mereka juga kenal dengan Merry sehingga ingin datang kerumah duka.
Pandu langsung berdiri dan memberi salim ketika Harllo datang. Biar bagaimana pun calon abang ipar. Padahal usia Pandu satu bulan lebih tua dari Harllo.
Tanpa malu Pandu mengecup kening Risye didepan semua yang ada di rumah Vella. Tentu saja genks dan Arie kaget.
"Ha ha ha, ini modelnya kayak Arie nih. Di depan siapa aja nyosor," goda Asih sang calon kakak ipar Risye.
"Daripada ngumpet-ngumpet kayak kak Harllo," balas Vella.
"Bener Yank. Abang tu sering lho liat mereka sembunyi-sembunyi gitu," Arie pun membalas tembakan Asih.
Semua masuk ke ruang tengah. Saat itu Helmi masuk. Siena mengenalkan Helmi pada kak Asih dan kak Harllo.
"Wiek mobilmu balik aja, kita bisa kok berempat di mobilku," kata Helmi.
"Iya juga ya ngapain gue pakai sopir. Enggak nyaman sendirian di mobil. Kalian rame-rame," kata Wieke.
"Ya udah aku suruh sopir gue pulang aja ya," Wieke segera berdiri dan keluar rumah.
"Yank, kalau hari ini belum pemakaman, bagaimana bila kita mengunjungi pacar Merry di rumah sakit?" Arie mengingatkan Vella dan teman-teman Merry.
"Bener tuh Kak. Nanti kita tanya mama Merry deh Adon di rumah sakit mana dan ruang mana?" Wieke setuju usul Arie.
"Kalau dia sudah sadar, aap kita akan kasih tau kondisi Merry?" Risye takut salah bertindak.
"Lihat kondisi kejiwaan siapa itu namanya? Kalau dia siap lebih baik diberi tahu. Mungkin dokter bisa kasih dispensasi dia ikut datang ke pemakaman didampingi team medis rumah sakit. Biar bagaimana pun pemakaman tak akan terulang jadi ada baiknya dia bisa datang," Asih memberi pandangan sebagai orang medis.
"Wiek, inget enggak kita mau bikin kejutan ke Jogja bulan Juni. Kita mau nabung dulu. Tapi Merry minta dimajuin?" Dian bertanya pada Wieke.
"Iya, kita meeting berempat, eh Merry bilang : gue mau punya kenangan terakhir ama Vella. Gue enggak yakin kalau Juni gue bisa apa enggak!"
Vella kembali terisak mendengar itu.
"Aku saat itu keberatan karena tabunganku masih minim. Merry bilang semua uang dia milik aku. Pokoknya dia enggak mau aku nunda. Dia selain bilang mau tanggung semua biaya kereta, biar aku enggak malu enggak bisa belanja, saat berangkat di kereta dari Jakarta, isi dompetku," cerita Dian selanjutnya.
"Dan Merry yang putusin, kita ke Jogja bukan kejutan. Tapi kita planning biar tempat siap buat nginap. Merry bilang pengen tidur berenam bareng terakhir kali," sekarang Risye yang terisak.
Tentu saja Pandu sigap memeluk bahu kekasihnya. Ini yang Arie perhitungkan. Kasihan Risye bila tak ada Pandu.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE ya.

__ADS_1
Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE itu ya.