
Aku sangat berharap tebakan dokter tak pintar sekaligus sepupuku itu benar adanya~Firza Yudhasmara~
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Hari ini Firza demam. Entah kenapa dia demam dan mual.
"Kenapa sih *Honey*? Ayo dong ah aku laper nih," kata Serena mengajak suaminya untuk sarapan. Dia super lapar.
"Aku malas *Honey*. Aku demam dan mual," Firza menolak ajakan kekasih hatinya.
Serena pun meraba tubuh suaminya . Dia rasa nggak panas tapi Firza koq menggigil ya.
"Aku balur ya pakai minyak kayu putih?" Bujuk Serena lembut.
"Nggak mau. Aku nggak suka bau minyak kayu putih," tolak Firza.
"Bukan biasanya suka banget minyak kayu putih? Kalau apa-apa sedikit minta pakai kayu putih. Kalau perut sakit minta gosok kayu putih. Kok sekarang bilang nggak suka?" Tukas Serena bingung dengan kelakuan suaminya.
"Pokoknya aku nggak suka. Aku enggak mau," tolak Firza persis seperti anak kecil.
Kesal melihat kelakuan suaminya, Serena segera keluar kamar.
"Bik. Tolong diurus itu tuannya. Biasanya pakai apa kalau sakit," kata Serena kepada pembantu rumah tangga di rumah rumah pribadinya. Rumah milik Firza sejak bujangan.
"Tuan enggak pernah sakit Nyonya. Serius nggak pernah sakit," kata si bibik bingung.
"Ya udah urusin aja tuh. Bikin minum panas kayak apa kek terserah. Saya mau makan," kata Serena.
Tanpa peduli pada suaminya yang sedang kolokan Serena pun langsung ke ruang makan dan makan sendirian.
Serena baru selesai makan. Dia lihat suaminya keluar dari kamar.
"Kok aku ditinggalin?" Sungut Firza. Dia kesal karena Serena tak mempedulikan dirinya.
"Kalau orang demam nggak usah keluar kamar. Masuk aja," kata Serena nggak peduli. Serena lalu meminum teh madu untuk dirinya.
Begitu melihat teh madu Firza langsung mual dan muntah.
"Ih jorok banget sih. Orang baru selesai makan gini malah muntah," kata Serena.
"Bibiiiiiiik," teriak Serena membuat bibik kaget.
Bibik lebih kaget melihat tuannya muntah di dekat meja makan.
"Ya pasti nyonya marah wong dia baru selesai makan. Tuan juga aneh sih bukannya lari ke wastafel atau kamar mandi waktu mau muntah," kata bibik pelan.
Serena lalu masuk ke kamarnya dia bersiap untuk berangkat kerja. Tak lama Firza ikut masuk kamar.
"Kamu mau kemana?" Tanya Firza dengan bodohnya. Bukannya dia tahu ya tiap hari mereka berangkat kerja?
"Aku kerja. Orang sakit diam di rumah. Aku nggak mau ngurusin." Serena memasukkan dompet dan ponsel ke tas yang dia pilih pagi ini.
"Kamu tuh nggak mau aku urusin. Tadi udah usir aku jadi mending aku pergi," Serena pun pergi ke kantor membawa mobilnya sendiri.
__ADS_1
Tadi memang tangan Firza mengibas seakan mengusir, membuat Serena marah.
Firza yang lemah tak bisa mengejarnya kembali. Saat itu Firza dengar pintu kamarnya diketuk.
"Iya," kata Firza menjawab ketukan.
"Masuk aja," Firza tak ada daya untuk bangkit.
"Pak dokter datang Tuan," lapor sang bibik.
"Siapa yang panggil?" Tanpa sadar Firza bertanya. Masak iya bibik perhatian atau lancang?
"Siapa lagi kalau bukan Nyonya ," kata si bibi. Bibik ikut Firza sejak lelaki itu SMP. Lalu Firza kuliah di Jerman dan begitu kembali ke Indonesia tuannya bikin rumah sendiri tanpa modal papa mamanya dan membawa bibik ikut dengannya.
"Aku nggak sakit, ngapain kesini?" Dengan jutek nya Firza malah marah pada dokter Ferry Firdausi yang masih sepupuan dengan dirinya.
"Ya, gue cek dulu. Karena yang gue dengar dari istri dan bibik elo demam dan bibik yang bersihin muntahlu di ruang makan!" Tak mempan penolakan sepupu sekaligus sobat mainnya. Ferry menekan stetoskop di perut Firza.
Ferry juga mengukur tensi, denyut nadi serta tensi dan juga memeriksa rongga mulut dan mata Firza.
"Kalau gua lihat lu emang nggak apa-apa sih. Tapi bersiap aja lo akan sakit berkepanjangan selama tiga bulan lebih," kata-kata Ferry tentu menakutkan bagi Firza.
Baru pagi ini aja dia muntah dia sudah lemah, bagaimana dia harus sakit tiga bulan?
Bisa libur dong fitness malamnya? Oh no? Dia tak mau libur fitness. Dia tak mau membiarkan Serena tidur tanpa berpeluh terlebih dulu.
"Trus kalau aku muntah dan demam sampai menggigil, itu kenapa dong?" Tanya Firza. Dia yang tadi bilang enggak sakit, sekarang dia sendiri yang bingung saat dibilang memang enggak sakit.
"Kondisi lu emang nggak apa-apa" jawab Ferry santai.
"Aaaaah kamu emang dokter nggak pinter," kata Firza kesal.
"Enak aja gue kuliah di Jerman barang elo dibilang nggak pinter? Kita sama-sama dapet beasiswa karena kita pinter!" Protes Ferry.
"Kalau gue saranin ya kalau lu mau sih. Mendingan elo beli test pack," Ferry membereskan alat yang tadi dia keluarkan dari tas kwrjanya.
"Kamu emang bukan enggak pinter ya? Tapi lebih tepat disebut kurang satu ons. Aku laki-laki tahu!" Firza makin sengit ada sepupunya. Emosi Firza memang tinggi nih.
"Ya gue juga nggak bilang elu suruh coba pakai urine lo kan? Lo yang nggak pintar kan sekarang," balas Ferry.
"Betuuuul," seakan bisa menebak pikiran Firza, Ferry meng-iyakan pikiran sepupunya.
"Serius?" Pekik Firza.
Ferry tak menjawab dia menuju pintu kamar. Sebelum keluar dia berteriak : "Transferan gue dobel ya kalau positive!"
Firza tak mempedulikan Ferry. Dia langsung masuk kamar mandi dan bersiap menyusul istrinya ke kantor.
Firza mengantongi plastik berlogo apotek yang baru dikunjungi nya.
\*\*\*
"Ini terlalu tinggi deh anggarannya Pak," kata Serena.
__ADS_1
"No 8, 11 dan 14 itu bisa kita tekan loh budgetnya," kata Serena.
Serena, Faisal dan Evvy sedang diskusi di ruangan Faisal.
Firza yang tiba ke ruangannya tidak menemui istrinya tentu kalang kabut. Pada saat itu dia bertemu pantar makanan.
"Mau ke mana itu?"
"Ini pesanan mbak Serena di ruang Pak Faisal, Pak."
"Mbak Serena tadi pesen pangsit rebus seperti biasa," jawab orang kantin.
Firza bisa melihat memang yang dipesan adalah pangsit rebus dengan extra jamur pesanan Serena. Dan ada makanan lain.
"Oh ya saya bawain dua mangkok pangsit rebus ekstra jamur kuah dipisah ya," pinta Firza.
"Diruang Bapak atau di ruang pak Faisal?" Tentu penjaga kantin tak mau salah antar ruangan.
"Diruang pak Faisal lah," jawab Firza. Dia akan menyusul kekasih hatinya di ruangan papanya.
"Selamat siang," sapa Firza.
"Lho kamu bukannya sakit?" kata Faisal.
Serena hanya melihat suaminya selintas. Dia masih kesal pada suaminya.
Firza hanya senyum-senyum.
'*Wah bakal ada drama apa lagi nih*?' batin Evvy.
"Ayo Pak terusin aja nggak usah diladenin orang kayak gitu," kata Serena pada bosnya yang kebetulan mertuanya sendiri. Lalu mereka bertiga kembali mendiskusikan apa yang sejak tadi mereka bicarakan.
Firza hanya memperhatikan, dia tak bisa ikut nimbrung memberi saran karena kan baru datang. Dia tidak tahu sejak awal.
"Ayo kita makan dulu. Tuh makanannya udah datang," Kata Bu Evvy.
"Bener ayo makan dulu nanti malah dingin," kata Pak Faisal.
Mereka pun makan, kebetulan pesanan Firza belum datang. Serena tetap tidak nawarin suaminya.
Tak lama pesanan Firza diantar, dia pun ikut makan bersama.
Tadi dia habis muntah-muntah. Perutnya kosong maka dalam sekejap dua mangkok pangsit rebus langsung lenyap masuk le perutnya.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul WANT TO MARRY YOU itu ya.
__ADS_1