
Untuk siapa pun, bila sudah tak percaya diri, tentu akan ragu untuk maju. Aku merasakannya. Dan sialnya rasa tak percaya diriku makin ditekan segala alasan dari gadis yang aku cinta. Aku menyerah. Aku mundur. ~Firza Yudhasmara~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Brokoli dia iris halus dia campur dengan putih telur. Diberi garam dan merica halus lalu dia buat dadar duluan, langsung dia gulung. Selanjutnya kuning telur yang sudah diberi irisan daun bawang, corned dan garam serta merica dia dadar juga dan dilapisi ke gulungan tadi. Jadilah omelet sayur yang sehat untuk sarapannya pagi ini.
‘Yank, Abang bersiap berangkat ke kampus. Barusan bapak bilang semua akan berangkat menghadiri tunangan mbak Tiwi. Kalau Abang bisa berangkat, Sabtu pagi kita beli batik sarimbit yok? Kalau Abang enggak bisa berangkat, kamu datang dengan ibu dan adik-adik ya?’ pesan itu baru Vella baca saat dia sudah bersiap berangkat kuliah.
Sarimbit adalah istilah baju yang satu motif untuk pasangan.
‘Ya.’ hanya jawaban singkat itu yang Vella berikan. Dia juga sudah siap ke kampus.
***
Tak ada yang istimewa di hari-hari awal kegiatannya di kampus. Sekarang Vella mempunyai beberapa kenalan baru. Dalam beberapa kelas nanti dia akan bareng dengan Anissa Mulyani yang biasa dipanggil Anis, gadis asal Tasikmalaya.
Dan dikelas lain dia akan bersama dengan Surti, gadis asli Jogja. Tapi ada kelas lain yang mereka bertiga bersama.
Ada dua kelas yang dia bersamaan dengan Helmi. Untung tak bareng disemua mata kuliah yang mereka ambil.
***
Siang ini Arie telah selesai mengurus mata kuliah yang dia habiskan semester terakhir ini. Semester depan dia sudah tak ada kuliah lagi, tinggal terjun ke lapangan saja. Sehabis dari kampus dia langsung mendatangi distro yang dia kelola. Dua distro dia kontrol di hari Kamis ini.
Besok hari Jumat dia tak ada urusan ke kampus. Dia akan full mengurus dua cafenya. Dan malamnya sehabis maghrib mereka akan berangkat ke bandara untuk terbang dengan penerbangan pukul 21.05.
***
‘Abon ayamnya enak banget. Bilang ke eyang, ibu ucapkan terima kasih ya. Save nomor ibu ya Vella sayang,’ tanpa di duga, di sela istirahat kegiatan hari ini, Vella menerima pesan dari Wiedowati.
‘Iya, nanti Vella sampaikan ke eyang putri, Tante,’ jawab Vella sopan.
‘IBU sayang, bukan TANTE,’ Wiedo memberitahu Vella.
‘Iya Bu,’ balas Vella cepat. Walau Arie memang sudah memintanya memanggil ibu dan bapak, tentu dia tak berani lancang bila yang bersangkutan belum memerintah. Dia takut dianggap kurang ajar.
__ADS_1
‘Kamu datang kan hari Sabtu nanti?’ pesan dari Tiwi masuk ke ponsel Vella. Gadis itu sedang memakan bekal yang dia bawa. Vella lebih nyaman makan bekal yang dia buat sendiri. Dia takut tak kebagian makan di kantin karena istirahat berbarengan dan pemilik kantin tak sempat melayaninya hingga waktu istirahat habis.
‘Insya Allah aku datang Mbak,’ sahut Vella pada kakak sepupunya Arie itu.
‘Aku tunggu yo. Hari ini dan besok aku enggak ke kampus,’ balas Tiwi. Pastinya kedua orang tuanya melarang Tiwi keluar agar semua persiapan pertunangannya hari Sabtu malam bisa dia persiapkan. Padahal tak ada persiapan yang harus dikerjakan oleh Tiwi.
‘Semangat Mbak, sampai ketemu hari Sabtu yooo,’ Vella membalas cepat dan memasukkan ponselnya kedalam tas. Dia bersiap masuk kelas kembali.
***
Arie dan Vella membuat kesepakatan mereka akan bicara itu malam. Entah telepon atau chat. Di luar waktu itu tak boleh meminta jawaban cepat kecuali ada hal urgent. Jadi Vella juga tak berharap mereka sepanjang hari bertukar pesan.
‘Gimana kegiatan kalian di kampus?’ tanya Vella di group Pretty girls.
‘Datar, enggak ada keseruan,’ jawab Siena.
‘Cape dan bete,’ sahut Risye
‘Seru,’ jawab Wieke.
‘Belum liat yang bening. Jadi masih enggak ada greget,’ sahut Dian.
Akhirnya mereka berenam seru-seruan membahas dunia baru mereka.
***
‘Malam ini Abang enggak telepon ya Yank. Habis salat Maghrib kami berangkat ke Bandara. Insya Allah besok pagi kita sarapan bareng lalu cari batik sarimbit buat kita pakai malamnya ya,’ Vella menerima pesan Arie ketika dirinya bersiap salat Maghrib.
‘Take care ya Bang,’ balas Vella.
***
“Kenapa kesini?” tanya Serena.mereka baru selesai makan malam ajakan Nanti ibunda Firza.
“Ayo turun, atau kamu mau aku makan di mobil?” tanya Firza dengan senyum usilnya. Tentu saja Serena tahu apa maksud Firza.
Firza mengajak Serena duduk di sebuah bangku taman, cuaca cerah dengan bulan yang baru terpotong sedikit dari bulan purnama. Tak bulat penuh tapi masih terlihat bersinar terang.
__ADS_1
“Abang mau serius bicara. Kita enggak bisa terus menerus dalam ketidak pastian seperti ini. Apa kamu ngerasa selama ini kita hanya pacaran pura-pura?” tanya Firza serius.
“Kan memang seperti itu kenyataannya,” sahut Serena tanpa merasa bersalah.
“Bukan. Sejak sebelum kita datang ke pesta PT Sriwedari Sentosa, Abang tu sudah meyakinkan diri Abang suka sama kamu. Tapi jujur Abang bingung mau bilangnya gimana ke kamu. Maaf soal itu. Serius rasa percaya diri Abang langsung tenggelam bila berhadapan denganmu,” susah payah Firza merangkai kata.
“Untuk itu, agar kamu enggak salah paham lagi, Abang katakan I love you Serena Queensha Bahweres. And I want you to be my wife someday, and become the mother of our kids,” Firza membawa kedua jemari Serena dalam genggamannya dan dia kecup lembut.
‘Tak ada nada canda dimata ini,’ Serena menatap lekat mata Firza. Mencari kebohongan disana.
‘Bagaimana pria sempurna seperti dia mencintaiku yang mempunyai tubuh besar ini?’ Serena tentu meragukan keseriusan Firza mengingat berat tubuhnya masih diatas rata-rata walau sudah tak terlalu gemuk lagi.
“Aku … aku,” Serena tak berani menjawab. Yang pasti saat ini dia belum bisa menerima cinta Firza karena masih tak percaya pemuda idaman banyak gadis menyatakan cinta untuknya.
“Aku enggak bisa menerima itu sekarang,” setelah menarik napas panjang dan membulatkan tekad, akhirnya Serena berhasil menjawab pernyataan Firza.
“Ada alasan?” tanya Firza. Dia tak yakin Serena menolak dirinya karena memiliki kekasih.
“Tak ada alasan. Aku hanya belum ingin terikat dengan siapa pun,” jawab Serena.
“Saat awal aku dekati kamu, kamu sengaja bikin pagar dengan mengatakan sudah punya pacar. Sekarang setelah jelas kalau lelaki itu bukan kekasihmu, kamu bilang belum ingin terikat. Besok-besok apa lagi alasanmu? Mengapa kamu tidak langsung saja katakan kamu menolakku?” tanya Firza.
‘Baik. Aku akan mundur,’ Firza merasa Serena tak jujur sejak awal. Rasanya dia malas memperjuangkan. Lebih baik dia tetap pada kesendiriannya saja.
***
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL CINTA KECILNYA MAZ YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta