
Makan dan jajan di mall itu emang asyik. Tapi lebih asyik kalau kita rame-rame masak bareng temen dan ngabisin semuanya juga bareng temen-temen. Seperti yang kami lakukan kali ini. ~Pretty Girls~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Boleh Abang tahu, daddy itu siapa kamu?” tanya Arie penasaran. Karena Vella punya mama dan papa, mengapa ada daddy lagi?
“Aku juga bingung. Sejak kecil aku tinggal di Singapore bersama daddy and nanny ( pengasuh ). Sampai aku kelas tiga SD. Lalu daddy buka kantor di Jakarta dan kami tinggal di Jakarta. Aku malah jarang tinggal dengan papa dan mama di Kutoarjo. Aku lebih dekat dengan eyang, orang tua Daddy di Kebumen,” Vella bercerita tentang masa kecilnya.
“Mama dan eyang putri itu kakak adik kandung. Eyang putri adalah ibunya daddy. Jadi seharusnya aku panggil daddy itu mas karena dia keponakan mama,” jelas Vella.
“Aku ke Kutoarjo selalu bila dibawa oleh eyang, karena aku menginapnya di Kebumen. Kalau mama dan papa ke rumah mas Bagas, baru aku menginap di sana agar dekat dengan mama dan papa,” Vella sampai saat ini belum mengetahui mengapa mama dan papanya membiarkan dia sejak bayi bersama Endro bukan dengan mereka.
“Kenapa Abang enggak jujur masalah cafe saat kita datang kesana pertama kali?” tanya Vella penasaran. Dia ingat kalau Harllo kelepasan bicara tentu sampai saat ini Arie taak mengemukakan kalau cafe itu miliknya.
“Kalau sejak awal Abang bilang, ‘kita nongkrong di cafe milik Abang aja yok’. Apa kesanmu?” Arie balas dengan pertanyaan.
“Enggak ada kesan apa-apa sih. Paling apa ya? Enggak percaya mungkin. Karena seumuran Abang masa iya udah punya cafe seperti itu,” jawab Vella jujur.
“Nah itu! Abang enggak mau dibilang ngebual dan ngaku-ngaku. Biar aja orang tahu sendiri. Tanpa perlu kita kasih tahu,” jawab Arie dengan bijak. Dan dia juga tak ingin orang dekat dengannya karena harta yang dia miliki.
“Sekarang aku tanya, selain cafe itu, apalagi usaha yang Abang punya. Aku enggak ingin dengar dari orang lain. Apalagi nanti kalau aku dikait-kaitkan dengan hartamu,” Vella tahu banyak cibirian pada seseorang bila pasangan yang dimiliki berbeda jauh dengan dirinya. Mungkin itu yang dirasa Harllo. Dia takut dikira mau pacaran dengan Asih karena kekayaan orang tua Asih.
“Ada satu cafe lagi yang sedang tahap pembenahan, belum buka karena baru aja over hak kepemilikan. Dan dua distro aja,” sahut Arie merendah. Awalnya usaha yang dia miliki memang distro. Cafe baru saja satu tahun ini dia kembangkan karena uang hasil usaha dari distro bisa untuk modal membuat cafe.
“Aku mulai curiga saat datang pertama di cafe, tukang parkir panggil Abang dengan sebutan PAK, sedang ke orang lain dia sebut MAS atau KAK. Begitu pun waktu datang dengan kak Harllo dan kak Asih. Mereka dipanggil MBAK dan MAS sedang ke abang mereka sebut PAK,” Vella memberitahu kecurigaannya.
Sementara Arie hanya nyengir saja mendengar celoteh Vella.
***
“Assalamu’alaykum Dadd,” Vella memberi salam pada Endro.
__ADS_1
“Wa’alaykum salam,” sahut Endro. Tadi Nungky sudah memberitahu kalau Vella menuju rumahnya dan ingin makan malam di sini. Maka dia menunggu putrinya untuk makan malam bersama.
Vella memeluk erat Endro dan mencium pipinya setelah memberi salim.
“Miss you so much Dadd,” Vella mengucap kerinduannya pada sang ayah yang memang telah lama tidak bertemu sejak dia ujian hari terakhir.
“Miss you too my Princess,” jawab Endro. Dia memang sangat merindukan gadis kecil yang sangat dia cintai ini. Sayang kemarin-kemarin dia harus menjaga jarak karena putrinya meminta suatu hal yang tak mungkin.
“Kenalin temanku Dadd,” Vella memperkenalkan Arie pada Endro.
“Assalamu’alaykum Pak. Saya Arie,” Arie memberi salim pada Endro.
“Wa’alaykum salam. Kita ngobrol sambil makan yok. Om sudah kelaparan nungguin kalian,” ajak Endro ramah.
“Jadi kalian bukan satu angkatan?” tanya Endro, ketika mereka sudah mulai tanya jawab.
“Bukan Om. Saya sudah lulus ketika Vella masuk ke SMA. Saya baru kenalan ketika Vella menjadi panitia perpisahan kemarin,” jawab Arie jujur.
“Di UI om, kedokteran,” balas Arie.
‘Dia seperti aku, jatuh cinta sejak awal perkenalan. Aku pun jatuh cinta pada Laras sejak kami bertemu,’ Endro berpendapat Arie sama seperti dirinya.
Setelah makan mereka pindah ke ruang tengah. “Abang, aku ambil barang-barang dulu ya,” Vella pamit pada Arie karena dia berniat mengambil barang yang dia perlukan selain pakaian.
“Silakan, santai saja,” Arie santai. Dia biasa pulang malam dan tak ada ketentuan jam pulang untuknya. Dia sudah dibebaskan oleh kedua orang tuanya sebab mereka tahu Arie bertanggung jawab terhadap kepercayaan yang mereka berikan.
***
Hari ini Vella dan Arie tidak janjian. Vella tak ingin mama dan papanya marah karena dia pergi setiap hari. Dan Arie akan full di kampus dengan Asih dan Harllo menghadapi ujian praktek akhir semester.
“Kalian kalau mau ke rumah kakakku aja. Hari ini aku enggak keluar rumah,” Vella sedang ngerumpi telepon di group. Dia malas menulis pesan maka langsung telepon di group saja.
“Kita bikin rujak atau masak bakso aja yok. Biar kita bisa puas makan,” Dian yang hobby pedas mengusulkan mereka berkreasi bareng.
__ADS_1
“Ya udah. Aku beli bahan mie ayam bakso deh, kalau kalian mau kesini. Silakan siapan yanag belanja bahan rujakan,” Vella bersedia menyiapkan bahan untuk mie ayam bakso bagi teman-temannya. Rumah mas Bagas dekat dengan Betha midi, supermarket besar yang menjual sayuran dan buah fresh. Tidak hanya berupa minimarket saja.
Akhirnya tercapai kata sepakat genks akan kumpul di rumah Bagas jam setengah sebelas. Agar saat makan siang mie ayam bakso jamur mereka sudah matang. Kalau tak pakai pangsit rebus tentu masak bakso kuah sangat cepat.
Vella meminta sopir bersiap dan dia pun berganti pakaian.
“Mbak, Ma, mau titip enggak? Aku mau belanja ke Betha midi,” Vella bertanya pada kakak ipar dan mamanya.
“Arep tuku opo tho?” tanya Nungky pada putrinya yanag telah rapi berganti pakaian. ( Arep tuku opo tho? = mau beli apa sih? )
“Genks mau makan siang disini, bikin mie ayam bakso jamur Ma. Aku mau beli bahannya di supermarket. Nanti yang lain ada yang bawa bahan rujakan, krupuk juga cemilan,” jawab Vella.
“Ya Mama ikut wae, tungguin sebentar,” Nungky lebih baik ikut daripada titip.
Sambil menunggu mamanya berganti pakaian, Vella mengirim pesan untuk Arie. ‘Selamat ujian ya Bang. Bismillah. Pasti Abang berhasil.’ Dia kirim emotikon smile.
Lama tak ada jawaban. Bahkan dibaca pun belum. Vella yakin Arie sudah berada di dalam ruang ujian atau masih mengemudikan motornya ke kampus.
Akhirnya Vella dan Nungky belanja bersama, Nungki hanya titip melalui pesan saja agar mudah diingat oleh mertua dan adik iparnya.
\===============================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK YANKTIE YANG BERJUDUL UNCOMPLETED STORY YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1