
Ketika emosi memenuhi dada, memang otak tak bisa berpikir jernih. Aku sadar itu. ~Firza Yudhasmara~
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
‘Akhirnyaaa …,’ Firza baru saja mendarat di bandara SOETA. Hari sudah pukul 13.09. dia perkirakan jam dua siang baru bisa meninggalkan bandara. Sampai kantor bisa jam lima. Tentu karyawan kantor sudah pulang.
Akhirnya Firza minta sopir taksi mengantar ke rumah pribadinya saja. Dan jam enam sore dia baru tiba karena di tol pun jam pulang kerja tetap saja macet.
Firza langsung mandi dan bersiap mengunjungi rumah Serena. Dia tak mau membuang waktu. Dia harus segera meng-clearkan masalahnya dengan gadis yang telah membuatnya jungkir balik itu.
“Lho? Katanya kembali ke Frankfurt?” tanya Abdullah Bahweres - abahnya Serena -
“Cuma ada perlu dua hari disana Om,” sahut Firza.
“Rene ada?” tanya Firza dengan deg-deg an.
“Ada, baru aja masuk kamar setelah kami selesai makan malam,” Abdullah seakan memberitahu : kamu enggak usah bawa anak saya keluar makan malam!
“Sebentar ya, sudah dipanggil sama si bibik,” sambung Abdullah.
“Iya Om,” Firza yang sejak siang belum makan memang bingung tak bisa ngajar Serena makan malam.
“Eh, kapan datang Pak?” tanya Serena. Dia kaget Firza sudah ada di rumahnya.
“Jam satu tadi sampai SOETA,” jawab Firza. Dia merasa puas bisa memandang pujaan hatinya secara langsung.
“Saya tinggal ya,” Abdullah tentu mengerti anak muda ingin ngobrol berdua.
“Rene, tolong saya. Kita keluar yok. Saya tahu kamu baru selesai makan. Tapi saya makan itu sarapan tadi. Lalu sampai sekarang belum makn lagi,” Firza langsung berbisik pad Serena setelah dia menjawab Abdullah yang pamit masuk.
__ADS_1
“Baiklah, ke cafe nya Arie aja ya, deket sini dan Abah tahu tempatnya. Jadi aku pamitnya gampang,” Serena tentu tak tega mendengar Firza kelaparan.
***
“Serena memesankan nasi bakar tuna dan tambahan bawal bakar kecap untuk Firza, sedang untuknya dia pesan risol isi rogout tiga pieces. Minumnya Firza Lemon tea dan untuknya coffee carabian nut ice
“Kamu serius enggak makan?” tanya Firza.
“Kan tahu aku baru selesai makan,” rajuk Serena.
“Jangan marah please,” pinta Firza lembut.
“Yang tukang marah siapa? Yang enggak sabaran siapa? Yang enggak pernah mau mikir panjang siapa?” tanya Serena.
“Serius Abang minta maaf. Serius kalau depan kamu Abang selalu grogi. Abang enggak percaya diri. Abang enggak marah ke kamu, tapi marah ke diri sendiri,” Fiza memegang erat jemari Serena.
“Marah ke diri sendiri, koq sepanjang jalan dari taman sampai rumah, aku tanya enggak dijawab? Dan Abang enggak antar aku sampai ke dalam rumah, hanya diturunin depan pagar rumah aja. Lalu tanpa pesan langsung pergi ke German? Itu yang Abang bilang enggak marah?” intonasi Serena mulai tinggi walau suaranya tidak keras.
“Sekarang makan dulu. Katanya dari pagi belum makan lagi. Nanti kalau pingsan siapa yang mau gotong pulang?” Serena menyuruh Firza makan sebelum nasi bakarnya menjadi dingin.
“Nasi bakarnya enak Honey,” Firza memuji makanan yang Serena pesan.
“Ini cafe nya Arie. Dia sekarang punya dua cafe dan dua distro. Dia usaha sendiri sejak masih SMA,” tanpa berniat apa pun Serena menceritakan usaha milik sahabatnya itu.
“Sekarang kita tuntaskan persoalan kita ya? Abang yang waktu itu bilang : Abang mau serius bicara. Kita enggak bisa terus menerus dalam ketidak pastian. Inget itu?” tanya Serena
“Abang inget,” jawab Firza.
“Abang inget jawabanku?” tanya Serena.
“Inget. Kamu bilang belum bisa terima sekarang karena belum ingin terikat dengan siapa pun,” jawab Firza.
“Apa ada kalimatku yang bilang aku nolak? Kenapa saat itu Abang langsung ambil asumsi sendiri : kenapa aku enggak langsung jawab aja kalau aku nolak Abang. Sampai sini Abang bisa ambil kesimpulan enggak siapa yang tukang marah dan enggak mikir panjang?” Serena mengajak Firza flash back ke pertemuan mereka terakhir di taman. ( baca lagi ke bab 79 ).
__ADS_1
“Abang nyerah sayank. Abang dari tadi sudah ngaku salah,” Firza putus asa dimarahi terus oleh Serena. Sekarang dia tak berani galak pada gadis pujaannya. Setelah merasakan bagaimana galaunya dia saat jauh dari Serena.
“Bukan soal begitu Bang. Tapi kalau kita enggak clear-kan, besok-besok akan ada lagi persoalan yang bikin bete. Harus tuntas dulu biar kita terutama aku plong,” Serena sudah terlalu lama memendam semua dalam da-danya. Dia ingin luapkan semuanya malam ini.
“Iya. Abang akui. Abang enggak mikir panjang. Kalau ke kamu pengennya marah tapi enggak berani jadi abang luapin dengan sikap keras begitu.
“Berapa hari di German? Berapa uang yang Abang buang buat tiket pesawat pulang pergi?” tanya Serena.
“Di Franfurtnya cuma satu hari Honey. Abang enggak bisa makan dan tidur karena kepikiran kamu,” Firza mengakui kesalahannya.
“Enggak mau sebut berapa nominal uang yang Abang buang?” desak Serena.
“Kamu tahu sendiri berapa harga tiket kelas ekonomi ke Frankfurt. Apalagi Abang pakai kelas bisnis,” jawab Firza.
“Terus, dengan ngebuang uang sebanyak itu galaunya disana hilang enggak?” cecar Serena.
Firza hanya diam sambil menatap Serena.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL THE BLESSING OF PICKPOCKETING YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETIN JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL THE BLESSING OF PICKPOCKETING ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1