
Kadang, kita sering tak enak mendesak sesuatu hal. Tapi dilain pihak ada perhitungan waktu yang harus kita taati. Vella harus segera kembali ke Jogja karena harus kuliah. Tapi esok ulang tahunnya. Aku harus mengatur waktu dengan semua sahabatnya sebelum dia kembali ke Jogja~Ashoery Rustamaji~
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Kita harus lihat apa pesan Merry secepatnya karena Vella sama Siena harus balik ke Jogja. Mereka enggak boleh terlalu lama enggak kuliah," kata-kata Arie membuat semua diam.
Mereka yakin besok Arie akan memimpin pembicaraan dengan orang tua Merry. Plong sudah hati genks karena ada yang bisa bersikap dewasa saat di posisi tak enak besok.
"Iya sih kita harus cepat balik ke Jogja walau aku udah tinggalin pesan ke ayah sih kalau aku ke Jakarta mendadak karena sahabat meninggal."
"Aku minta ayah suruh urusin ke dosen-dosen yang enggak bisa aku ikutin kuliahnya dengan kasih tahu siapa nama dosennya."
"Terus aku juga bilang pamitin Siena di kampusnya. Kalau buat absensi tenanglah. Tapi buat materi pelajaran kan nggak mungkin kalau ketinggalan banyak," kata Vella.
"Jadi besok habis dari pemakaman kita ngomong di tempat Mama Merry ya. selesaiin semuanya. Kalian selesaiin di kamar Merry aja karena TKP yang Merry bilang kan ada di kamarnya."
"Nggak boleh ada orang luar selain mama dan papa Merry. Nanti aku yang ngomong kalian butuh waktu karena ada pesan khusus dari Merry," kata Arie.
"Iya Bang, makasih ya," Vella memeluk erat suaminya.
"Nah mulai deh, mulai deh," protes Dian melihat tingkah laku manis suami istri itu.
"Sama aja kalian," kata Arie tak mau diprotes.
"Yaudah sekarang kalian istirahat. Kalian harus tidur. Besok habis salat subuh sarapan dan maksimal jam 07.00 kita udah berangkat karena ibadah tutup peti itu jam 08.00," kata Pandu.
__ADS_1
" Oke, oke sekarang masuk kamar kita tidur," Risye mengajak teman-temannya untuk tidur.
\*\*\*
Wieke ikut kebaktian tutup peti di dalam ruangan sementara semua temannya duduk di bawah tenda di luar rumahnya Merry.
Wieke berdiri disebelah mamanya Merry. Dia memeluk bahu mama Merry yang terlihat sangat bersedih.
Selesai kebaktian tutup peti, lalu semua ikut berangkat ke pemakaman di Sandiego Hill.
Tak ada kendala sepanjang berangkat ke pemakaman. Sampai disana Adon terlihat sudah duduk di kursi roda, dekat dengan lubang yang disediakan untuk Merry. Adon dan sang umi.
Dian mencuri-curi melihat wajah Adon dia tak pernah tahu sosok "pacar" Merry sejak dulu.
Isak tangis dan jerit histeris memelas saat peti diturunkan ke liang lahat.
Risye lebih memilih menopang Dian yang sangat terpuruk dengan kepergian Merry. Risye memeluk Dian erat.
Wieke bersama mamanya Merry sejak di rumah. Mama Merry tak bersama suaminya yang terlihat tak terlalu peduli pada istrinya yang sedang berduka.
Mereka menabur bunga. "Selamat jalan Mer kami nggak akan berpisah. Kami nggak akan bertengkar karena berselisih paham. Kami akan selalu bahas bersama semua perbedaan yang ada," janji Vella sambil menabur bunga.
"Kami akan memenuhi pesanmu bahwa kami akan selalu bersatu," kata Siena melengkapi kalimat Vella.
Helmi dan Pandu akhirnya membantu Adon agar bisa ikut menabur bunga di pusara Merry.
"Kamu bukan kekasihku, karena kamu tak pernah percaya cinta seorang lelaki. Tapi kamu teman terbaikku. Kamu bisa mengerti dukaku. Selamat jalan sahabatku. Kamu telah sampai di tujuanmu. Bermain dan berdendang bersama bidadari."
__ADS_1
\*\*\*
"Tante, Om, kami minta maaf," kata Arie yang berdiri di sebelah Vella. Saat itu kedua orang tua Merry berdiri bersisian karena menerima pamit dari semua pengantar jenasah.
"Maaf buat apa?" Tanya papa Merry.
"Kami ada amanat dari Merry. Mungkin ini terlalu terburu-buru Tante, Om. Tapi Vella dan Siena harus kembali ke Jogja. Jadi habis ini kita langsung bicara di kamar Merry. Karena pesan Merry ada di sana," kata Arie.
"Oh iya nggak apa apa nak siapa ini?" Tanya Fransisca mama Merry.
"Saya Arie suaminya Vella." Arie memperkenalkan diri pada mamanya Merry.
"Maaf, saya minta Om dan Tante langsung karena sekarang mendesak banget waktunya. Kami harus pulang ke Jogja Tante," Vella menjelaskan mengapa mereka minta segera bicara.
"Enggak apa-apa sayang. Mama mengerti," jawab Mama Merry.
"Maaf ya Ma, maaf sekali lagi maaf tapi ini pesannya Merry buat kami. Juga ada pesan untuk mama dan papa juga," Wieke yang sejak tadi berdiri di sebelahnya mamanya Merry ikut bicara.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul TELL LAURA I LOVE HER itu ya.
__ADS_1