
Sesungguhnya, banyak faktor yang membuat anak muda salah langkah. Salah satunya tak diberi kepercayaan dan selalu dicurigai. Aku menerapkan undurk kepercayaan pada anak gadisku. Agar dia merasa dihargai. Aku yakin dia akan menjaga kepercayaan yang aku berikan ~Endro Herminanto Mulyo~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Kamu kan tahu Abang lagi finishing,” Arie membela diri.
“Ha ha ha, biarkan saja dia protes. Dia memang tukang ngambeg,” Endro malah membela Arie. Beberapa hari lalu Endro baru tahu kalau Arie memiliki dua distro satu cafe dan akan membuka cafe baru lagi. Arie memang seperti dirinya yang sudah punya usaha sendiri sejak mahasiswa. Kantornya yang di Singapore adalah usaha milik Endro sendiri, bukan warisan dari Yoyok.
***
“Hati-hati ya Bang,” bisik Vella saat mengantar Arie kemobilnya. Arie mengecup kening Vella dengan lembut.
“Met bobo ya Adenya Abang,” Arie pun masuk mobilnya dan melajukannya menuju rumah.
‘met bobo juga abangnya ade,’ Vella membuat status whats app juga disebuah sebuah media sosialnya dengan tulisan itu dan dia beri emoticon love.
Langsung saja media socialnya heboh komentar. Dia tak mau posting foto, karena akan bisa terlihat back ground atau pakaian yang sama. Netizen julid pasti bisa saja mendapat celah. Karena Arie sudah memposting foto mereka tadi.
‘Cie cie,” goda Asih mereply status whats app yang dia buat.
‘Ha ha ha, enggak usah julid deh Kak,’ jawab Vella.
‘Bobo, jangan on line aja,’ chat dari Arie masuk ketika Vella masih asik berbalas pesan dengan anak-anak di group juga dengan Asih.
“Iya Abangnya Adeeeeeeeeee, ini Ade mau bobo,” Vella menjawab dengan voice note, bukan dengan pesan tertulis.
“Ya udah, Abang bobo duluan ya Adenya Abang. Love you so much De,” Arie juga menjawab dengan pesan suara. Dan dia memang langsung tidur setelah tadi mandi dan salat Isya terlebih dahulu.
***
Pagi ini Endro masih berangkat ke kantor, dia sudah menugaskan sopirnya menjemput Prasojo dan Nungky. Rupanya Vella akan ikut ke rumah Bagas pagi ini. Dia ingin pamit pada kakak iparnya dan mengambil baju yang dia tinggal di rumah kakaknya itu.
Endro dan Vella berangkat bersamaan, hanya beda mobil. Di rumah Bagas, Vella packing semua barangnya. Nanti akan digabung dengan barang yang akan dikirim melalui ekspedisi, ketika dia telah tiba di Jogja.
“Kita berangkat habis makan siang saja ya Vell,” Prasojo memberitahu putrinya yang telah selesai packing dibantu drivernya.
__ADS_1
“Iya Pa, jadi Mama dan Papa masih bisa istirahat sebelum berangkat habis salat Maghrib,” jawab Vella. Sejak tadi dia sudah memberitahu kekasih hatinya kalau dia berada di rumah Bagas. Sedang sejak pagi Arie sudah di rumah kost yang sedang dicat ulang dan diperbaiki beberapa bagian yang mesti diperbaiki.
‘Jangan telat maem ya Abangnya Ade,’ Vella memperingatkan calon dokter yaang kalau sudah kerja lupa makan.
‘Terima kasih ya calon nyonya Ashoery Rustamaji,’ balas Arie yang membuat Vella tersipu malu. Dia hanya membalas dengan emotikon senyum tersipu.
***
Sesuai jadwal sehabis makan siang Vella dan kedua orang tuanya meluncur ke rumah Endro. Karena Vella ingin cepat sampai d rumah Endro untuk mengeprint alamat pengiriman dan memberi kode pada kardusnya agar mudah mencari barang yang dia butuhkan. Vella sedih para sahabatnya tak ada yang mau mengantar ke stasiun. Tak seperti ketika mereka semua mengantar Siena.
“Masuk Rie, Vella kayaknya sedang salat Ashar,” Nungky mempersilakan Arie masuk rumah. Saat itu Endro juga tiba. Rupanya dia juga butuh sedikit persiapan.
Simbok menyediakan singkong goreng keju dengan teh atau kopi sesuai kesukaan yang sedang bersiap.
“Kamu beneran enggak bisa antar?” tanya Pras. Dia sudah mengetahui hubungan Vella dan Arie dari Endro.
“Enggak bisa Om. Kemungkinan hari-hari pertama Vella masuk kuliah saya bisa ke Jogja. Semoga saat itu enggak ada gangguan kerjaan lagi,” sahut Arie.
“Kamu sudah bekerja?” tanya Nungky.
“Dia punya usaha sendiri,” sahut Endro sambil menyeruput kopinya.
“Tadi bareng om Endro,” jawab Arie. Dia melihat Vella menggunakan jeans biru, dan kaos tangan tiga perempat, dibawah siku.
“Ma, bukannya mama pesan lemper ayam? Dibawa enggak?” tanya Vella. Prasojo tak boleh telat makan. Sebentar-sebentar makan, tapi tidak suka roti. Maka Nungky meminta Nungki pesan lemper bakar kesukaan Prasojo.
“Ada, sudah Mama pisah jadi kardus kecil-kecil biar gampang kalau ambil,” sahut Nungky.
“Aku minta satu kotak Ma, Abang suka itu,” dengan santai Vella minta lemper buat Arie.
“Ih, ini ada singkong keju lho De. Cukup lah,” Arie malah tak enak karena Vella mau ambil lemper duluan.
“Kalau Abang enggak mau, ya Ade makan sendiri,” sahut Vella. Dia sudah membawa satu kotak kecil berisi empat lemper.
“Ha ha ha, anak Papa curang. Alasan aja buat Arie, padahal dia yang kepengen,” Prasojo tertawa melihat Vella langsung membuka lemper dan menggigitnya.
“Aku cuma cobain Pa. Masih bagus apa udah basi,” Vella nge les.
__ADS_1
“Mana mungkin basi, wong pesan buat siang. Kan emang baru dibikin. Bisa tahan sampai besok pagi,” sahut Nungky.
“Aaaa Bang,” Vella menyuapi Arie lemper bekas gigitannya tadi. Dan tanpa malu Arie pun menerima suapan dari Vella.
“Abang ni ikutan suka lemper ini. Waktu pas mau kegiatan itu kan mbak Nungki mbawain aku Ma,” Vella cerita awal Arie mencicipi lemper bakar itu.
“Owh iya Mama ingat,” sahut Nungky.
“Kamu bawa koper besar atau gimana?” tanya Arie pada Vella. Masalahnya kan dua minggu Vella akan menginap sebelum dia berangkat ke Jogja.
“Satu koper kecil dan satu tas baju aja sih. Juga ransel kecil yang ada laptop dan keperluan sepanjang perjalanan,” sahut Vella.
“Repot enggak Yank? Bisa bawa koper dan tas itu?” tanya Arie.
“Paling nanti Daddy pakai jasa potter. Barang mama dan papa super banyak. Mereka kan udah dua bulan lebih ninggalin rumah Kutoarjo.” sahut Vella menerangkan tentang barang bawaan kedua orang tuanya.
“Ayok kita salat Maghrib lalu berangkat,” Endro menyela pembicaraan itu. Tadi memang Arie sedang membantu Vella mengeluarkan koper dan tas yang dia bawa. Endro sendiri kali ini tumben membawa satu koper kecil.
Prasojo menyuruh Arie menjadi imam salat Maghrib kali ini. Sehabis salat Magrib mereka langsung berangkat karena takut terjebak macet. Pras, Endro, Nungky naik ke mobil Endro diantar sopir.
Vella bersama Arie dalam mobil sport anak muda itu. Sepanjang jalan, walau sambil ngobrol Arie terus menggenggam jemari Vella. Kadang dia ciumi. Rasanya sangat berat perjalanan mereka kali ini.
“Abang serius akan datang ke Jogja saat awal Ade masuk kuliah?” tanya Vella memastikan.
“Semoga bisa ya Yank. Pengennya kamu ada saat peresmian cafe minggu depan. Tapi apa mau dikata, kamu udah di Kutoarjo saat itu,” Arie merasa setelah peresmian cafe, lalu rumah kost juga penghuni baru sudah pada masuk maka kegiatannya tak terlalu padat.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL TELL LAURA I LOVE HER YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta