UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
MENJEMPUT BUNDA


__ADS_3

Aku tak punya uang untuk membalas semua kebaikan yang aku terima, aku hanya bisa membalasnya dengan doa bagi semua yang telah membantuku dan anak-anakku. Aku tahu Allah tak pernah tidur. Dia yang akan langsung membalaskan semuanya secara langsung. ~Annisa Marwah~


DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Bundaaaaaaaaaaaaaa …,” Siena berlari memeluk sang bunda dengan erat. Mereka bertangisan. Rafli ikut memeluk dua perempuan terkasihnya. Walau masih kecil dia tahu penderitaan sang mama setelah berpisah dengan papanya.


“Kenalin ini ayahnya Vella Ma,” Siena masih menyebut mama untuk Annisa. Masih kebiasaan lama. Sebelum bercerai memang Annisa dipanggil mama oleh anak-anaknya. Tapi sejak bercerai dia minta diubah menjadi bunda agar tak mengingatkan dengan mantan suaminya itu.


“Baskoro.”


“Annisa.”


Baskoro membantu mendorong trolli bawaan Annisa. Ternyata banyak barang yang bisa Annisa bawa. Tiap hari dia titip di warung langganannya. Saat akan ke bandara dia mengambilnya sehingga bisa dia bawa.


“Koq bisa bawa barang banyak Bund?” tanya Siena.


“Tiap hari Bunda titip barang di warung ujung jalan. Jadi akhirnya banyak yang bisa di bawa. Terutama seprey dan tirai yang kamu bilang belum beli,” sahut Annisa dengan senyum manisnya.


“Mbak, makan tempat kemarin atau dimana?” bisik Baskoro. Mereka jalan duluan. Memberi kesempatan pada Siena untuk berbincang dengan adik dan bundanya.


“Tempat kemarin aja lah Yah,” jawab Vella sambil bergayut dilengan ayahnya dengan manja.

__ADS_1


“Nanti sehabis makan langsung ke rumah Siena aja Yah. Mbak nginap disana sampai besok sore,” Vella memberitahu sang ayah kalau dia akan menginap di rumah Siena.


“Sore pulangnya Ayah jemput ya. Sekalian jalan-jalan sama Laras,” tentu Baskoro harus minta izin dulu. Takutnya dia datang ke rumaah Siena, Vella sudah pulang.


“Boleh Yah, Mbak juga kangen adek. Besok kita makan nasi goreng sapi di Kota Baru ya Yah,” ajak Vella.


“Oke,” sahut Baskoro senang. Sejak jadi anak kost di Jogja, lalu beli rumah sampai menikah dia memang jarang keliling Jogja. Saat awal kuliah hingga dia belum bertemu Vella, prioritas hidupnya memang hanya mencari Andika.


***


“Mampir makan malam dulu ya Bun, Raf. Biar kita bisa tidur nyenyak,” Vella memberitahu Annisa saat ayahnya mulai akan parkir.


“Kamu pesan apa yang kamu mau Raf. Jangan malu. Ini kan ayah kak Vella sendiri,” Vella mengingatkan Rafli.


“Ayah seperti biasa? Atau mau beda?” tanya Vella.


“Dua sate rempela tiga sate usus gimana?” tanya Vella.


“Nah gitu juga boleh,” jawab Baskoro.


Maka Vella memesan untuknya dan Baskoro lalu dia menyerahkan kertas pesanan ke Siena untuk menulis sendiri apa yang diinginkannya.


“Bund, jangan malu-malu. Kita keluarga sendiri,” Vella tak ingin Annisa merasa sungkan karena kehadiran ayahnya.


“Maaf. Saya terima telepon dulu,” Baskoro m,enerima panggilan yang masuk ke ponselnya.

__ADS_1


“Kita bahas hari Senin ya Pak. Kalau seperti ini mau cari pengganti kemana? Walau bu Ningsih baru akan mundur minggu depan, tapimcari guru pengganti kan enggak mudah. Kan peraturannya satu bulan sebelumnya kalau mau ganti jadwal,” Baskoro agak kesal menerima laporan kepala tata usaha di yayasan yang dia geluti. Di YASPATi memang Baskoro termasuk pengurus yayasan.


“Kenapa Yah?” tanya Vella.


“Ada guru SMA yang mengajukan mutasi dadakan karena suaminya pindah tugas mulai minggu depan. Memang resiko jadi istri prajurit harus siap pindah. Tapi kalau dadakan gini kan Ayah repot,” sungut Baskoro sambil meminum teh tawar miliknya. Vella memang tahu Baskoro tak boleh banyak minum gula karena mbah kung sudah kena diabetes. Maka Baskoro harus mengurangi agar tak terjangkiti juga.


Vella memakan sate usus pesanannya. Dia memang pesan dua sate usus selain lele.


“Mata pelajaran apa Yah yang gurunya mau mundur?” tanya Siena.


“Mat pelajaran Fisika,” jelas Baskoro. Siena kaget mendengar mata pelajaran yang akan kosong itu. Dia meneruskan makan.


“Oh iya, hari Senin pagi Rafli nanti langsung bertemu dengan pak Umam saja Bu. Semua dia sudah tahu,” Baskoro memberitahu Annisa mengenai sekolah Rafli yang sudah didaftarkan secara lisan pada tata usaha SMP.


“Terima kasih atas bantuannya pada kedua anak saya Pak,” balas Annisa. Dia tak menyangka putrinya mempunyai link yang sangat baik seperti Vella dan teman-temannya. Terlebih keluarga Vella yang membantu semua urusan dari rumah hingga kuliah dan sekolah. Hanya doa sehabis salat yang dia bisa balaskan untuk mereka.


\===========================================


Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya teman yanktie yang bernama RUTH89 dengan judul novel PENJARA HATI SANG MANTAN  yok! Ceritanya pasti seru dan enggak akan nyesel deh bacanya.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2