
Aku tahu kamu kemarin serius, tapi apa aku salah bila aku tak percaya ada orang yang mencintaiku jujur dari hatinya sedang berat tubuhnya masih over weight walau tidak seperti bola lagi. ~Serena~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Rene, mulai pagi ini kamu batu saya ya, tadi pak Faisal bilang pak Firza pergi ke German dan kamu ditugaskan membantu saya selama pak Firza enggak ada,” pagi ini Serena mendengar khabar mengejutkan dari bu Evvy sekretaris pak Faisal big boss nya.
“Ke German? Koq saya enggak dikasih tahu ya? Lalu janji-janji yang sudah terjadwal bagaimana? Berapa lama pak Firza pergi?” tanya Serena dengan bingung.
Serena ingat setelah semalam ditaman Firza memang hanya diam hingga tiba di rumahnya. Tak ada kata apa pun, bahkan saat dia mengucapkan terima kasih telah diantar pulang.
“Siang ini pak Firza berangkat. Pak Faisal tak mengatakan akan berapa lama, mungkin dua minggu, satu bulan, satu tahun atau malah menetap disana. Janji yang sudah terjadwal minta diatur ulang agar tidak berbenturan dengan jadwal pak Faisal karena beliau yang akan menangani. Dan kamu diminta mendampingi pak Faisal saat bertemu dengan klien,” sahut Evvy.
‘Ada apa dengannya? Satu bulan? Satu tahun? Atau selamanya? Apa karena penolakanku? Apa kau ke ge er an bila berpikiran demikian?’ Serena bingung dengan kepergian Firza yang tiba-tiba.
Serena membawa laptop kantornya ke ruang bu Evvy. Dia hanya membawa tas saja. Semua dia tinggal di ruang kerjanya menunggu kepastian dari pak Faisal selanjutnya dia akan ditempatkan secara tetap dimana bila memang Firza tak kembali bekerja di perusahaan ini lagi,
Lalu pagi itu Serena sibuk menghubungi semua rekanan yang sudah mempunyai janji bertemu dengan Firza. Dia katakan akan dijadwal ulang karena pak Firza sedang menyelesaikan pekerjaannya di German.
“Akhirnya jam makan siang juga. Mau makan disini atau di luar Bu?” tanya Serena.
“Gimana kalau kita pesan online aja? Kita kan harus menyatukan jadwal pak Firza dan pak Faisal?” Evvy memberi saran pada ju-nior secretary itu.
“Oke, gitu lebih baik Bu. Kita enggak ngebuang waktu jalan kekantin pulang pergi. Tapi saya lagi pengen gado-gado lontong di kantin. Saya minta office boy pesanin aja deh Bu,” sahut Serena.
“Kalau mau pesan makanan di kantin enggak perlu panggil office boy lah. Telepon langsung aja kesana lalu mereka akan antar,” Evvy memberitahu Serena.
“Eh bisa ya Bu, saya biasanya suka minta tolong office boy karena enggak tahu,” jawab Serena jujur. Lalu akhirnya Evvy pun pesan di kantin nasi ayam bakar lengkap dengan lalapan untuk makan siangnya kali ini.
Serena tetap masih kepikiran mengenai Firza yang pergi tiba-tiba tanpa memberitahu dirinya. Bukan soal personal, setidaknya soal pekerjaan. Seharusnya Firza memberitahu tugas selama dia pergi. Bukan seperti ini.
__ADS_1
***
“Ambil yang merah ini atau hijau Bang?” tanya Vella. Mereka sedang di pasar Beringharjo untuk membeli batik sarimbit yang akan mereka gunakan malam nanti.
“Beli dua-duanya gimana Yank?” jawab Arie.
“Kita harus beli pengharum pakaian Bang. Sampai rumah ini langsung dikucek dan rendam dengan pengharum pakaian baru disetrika. Jadi enggak kelihatan bau baju belum dicuci,” Vella mengingatkan Arie membeli dua sachet pengharum pakaian.
“Di rumah bude ada koq, nanti kita kan kesana sekalian taruh baju gantimu untuk menginap disana.” jawab Arie. Vella memang terpaksa menginap di rumah pakde Guruh karena selesai acara pertunangan tentu sudah sangat malam dan jam kunci pagar rumah kost sudah terlewati.
Arie sudah memberi tahu Endro kalau nanti malam Vella akan menginap di rumah pakdenya. Walau Endro tak melihat, tapi Arie tak ingin ada laporan buruk kalau dia membuat Vella tak pulang ke kamar kost nya.
***
Vella menjemur dua pasang pakaian yang baru dia kucek dan direndam sebentar dengan pengharum baju. Walau sudah dikeringkan dengan mesin cuci tentu tetap lebih bagus bila dibuat kering maksimal baru dia setrika,
“Cuci apa Vell?” tanya Wiedo yang melihat calon menantunya sibuk dengan gantungan baju.
“Nanti pakai yang merah aja Vell, biar matching sama baju Ibu dan adik-adik, pakaian kami juga warna dasarnya nanti merah bata,” Wiedo memberitahu pakaian yang akan dia dan suami serta si kembar.
“Kalau pakai yang hijau kamu masuk ke keluarga pakde Nduk,” bude Nawang memberitahu pakaian keluarganya nanti berwarna hijau.
“Ha ha ha, untung ada kembarannya Bude, kalau tadi aku milih biru enggak masuk ke keluarga siapa pun ya?” Arie malah tertawa karena pilihan Vella malah masuk di keluarganya.
“Masak apa Bu?” tanya Vella. Ibu dan bude Nawang memang sedang bersiap masak untuk makan siang dua keluarga itu.
“Tadi Ibu ikut budemu ke warung koq lihat kembang genjer, jadi langsung aja Ibu beli. Di Jakarta kan sulit dapat sayuran ini,” sahut Wiedo sambil menyiangi sayuran yang memang tumbuh liar di rawa-rawa itu.
“Iya, eyang di Kebumen juga suka masak. Kalau di Jakarta simbok memang kalau lihat ada di pasar atau di tukang sayur pasti langsung beli. Daddy suka banget kembang genjer ditumis pedas,” sahut Vella sambil membantu mengupas bawang merah dan bawang putih.
“Kemarin Abang baru nyobain kembang kecombrang waktu makan pecel di gua Jatijajar Bu,” Vella bercerita pada Wiedo seakan sudah kenal lama. Dia merasa nyaman masuk ke keluarga Arie.
__ADS_1
“Wah enak kui pecel pakai combrang,” bude Nawang pun berkomentar.
Sementara Arie sedang mengawasi kedua adik kembarnya yang sedang naik ke pohon jambu air. Mereka membawa kantong plastik untuk menampung jamu yang mereka petik
“Abang, coba bikin sambal rujak,” pinta Frina.
“Ih, kita aja yang bikin cabe dengan garam. Jangan yang pakai gula merah,” Frani ingin seperti jajanan di depan SD yang tak pernah boleh dia beli. Sejak kecil mereka tak boleh jajan sembarangan.
“Oh iya, kita bikin yang gitu aja. Cabe rawit sama garam ya?” Frina pun setuju dengan usulan adiknya itu.
“Cukup sudah. Sayang bila metik kebanyakan enggak ada yang makan,” Arie meminta mereka menyudahi kegiatan memetik jambu air.
***
Menjelang sore Lutfi anak pakde Guruh datang membawa calon istrinya. Mereka akan berangkat bareng dari rumah ini. Sedang anak sulung pakde Guruh yang bernama mbak Sekar nanti akan langsung datang ke rumah om Wito ( kalau Sekar menyebutnya om karena ayahnya lebih tua ). Rumah Sekar dekat dengan rumah om Wito. Maka bila dia harus kerumah ayahnya dulu menjadi muter.
Semua segera bersiap. Karena rencananya mereka akan salat Maghrib di rumah pakde Wito agar siap lebih dulu dari keluarga calon tunangan Tiwi.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1