
Sering dengar kalau penyesalan itu datangnya belakangan, karena yang didepan itu pendaftaran. Aku sedikit menyesal karena menganggap sepele hal yang selalu kekasihku ceritakan. ~Ashoery Rustamaji~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Adeeeeeeeeeeeeeeeeee …,” Tiwi menjerit melihat tubuh Vella melorot dari pelukkannya. Vella pingsan.
“Bawa ke rumah pakde Guruh yang lebih dekat, tolong, bantu saya bawa adik saya ke mobil saya,” pinta Tini pada beberapa orang mahasiswa. Dia memang membawa mobil. Beda dengan Tiwi yang membawa motor.
“Lan, bawa tas Vella, kalian pakai motor? Ikuti mobil mbakku atau konvoi dengan motorku,” Tiwi mengajak Wulan dan Surti ikut kerumah pakde mereka.
Tiwi mengambil ponselnya dan menghubungi Arie. Tapi belum diangkat.
‘Angkat teleponku penting. Vella pingsan. Aku minta nomor keluarganya segera.’
Arie sedang salat saat teleponnya bergetar disakunya. Dia selesaikan salatnya. Lalu dia baca pesan dari Tiwi.
“Astagfirullah, Apa yang terjadi?” tanpa salam Arie menghubungi Tiwi.
“Vella dilabrak istri dosen yang beberapa kali dia laporkan padamu tapi kamu enggak kasih solusi. Sekarang dia sedang dibawa ke rumah pakde Guruh pakai mobil mbak Tini. Kamu kabari keluarganya. Nanti aku hubungi lagi. Sekarang aku mau susul mbak Tini,” tanpa menunggu jawaban Arie, Tiwi langsung melajukan motornya diikuti Wulan dan Surti.
“Ini firasat yang Daddy rasakan. Daddy berangkat sekarang juga ke bandara. Semoga dapat tiket tercepat. Kamu mau berangkat bareng daddy atau bagaimana?” Endro menjawab telepon Arie yang menceritakan garis besar pingsannya Vella sat ini.
Endro tentu tak bisa mengharuskan Arie berangkat saat itu juga karena Arie masih mahasiswa. Waktunya masih terikat pihak kampus. Tak bisa semaunya atur waktu.
“Aku on the way bandara sekarang Dadd. Kita ketemu disana,” jawab Arie tak mau menunda.
“Bawa pssportmu! Dan tulis data dirimu untuk Daddy beli tiket ke Jogja sekarang,” Endro langsung meminta Arie mengirim data dirinya untuk memesan tiket ke Jogja.
“Llo ( Harllo ) lo bawa mobil gue balik. Sekarang juga gue harus ke bandara. Vella ada musibah,” Arie menggeret Harllo dari ruang salat lelaki. Dia tak ingat Asih salat bersama mereka di ruang salat perempuan.
Harrlo mengambil alih kemudi. Arie sedang kacau. Dia tak ingin Arie ngawur mengemudikan mobilnya.
“Tolong lo kasih tau Asih. Suruh bawa aja tas kuliah dan snelli gue,” Harllo mengingatkan Arie memberitahu kekasihnya yang pasti saat ini masih menunggu mereka dihalaman mushola kampus mereka.
“Assalamu’alaykum Bu. Maaf Abang ganggu Ibu siang-siang. Abang on the way ke bandara. Janjian sama daddynya Vella. Kami mau berangkat karena Vella ada musibah,” Arie menghubungi ibunya, pamit terbang ke Jogja mendadak karena Vella sakit.
“Astagfirullah. Bagaimana ceritanya menantu ibu bisa kena musibah?” Wiedo kaget.
“Abang salah Bu. Beberapa kali Ade lapor soal dosennya, tapi Abang enggak tanggapi serius. Abang pikir karena Ade terlalu halu aja. Barusan dia dilabrak istri dosen itu di kantin. Mungkin Ade shock Bu,” Arie sangat menyesal tak menanggapi keluhan Vella dengan serius.
“Ibu telepon mbak Tini atau mbak Tiwi, mereka yang melawan istri dosen itu,” sahut Arie.
__ADS_1
***
Guruh dan Nawang kaget saat Tiwi datang berdua dengan dua temannya dan meminta pakdenya mencari satu orang lelaki untuk menggendong Vella yang sedang dalam perjalanan di mobil Tini.
Karena dengan motor, Tiwi tiba lebih dulu dari Tini.
Nawang memanggil keponakannya yang rumahnya tak jauh dari situ untuk membantu Guruh menggendong Vella.
***
Tini sudah memanggil calon suaminya yang seorang dokter.
“Kenapa enggak sadar juga sih Mas. Udah dua jam lho dia pingsan,” Tini senewen melihat kondisi adik sepupunya yang sangat pias.
“Dia shock Yank. Bukan pingsan karena lemas atau hal lain. Ini yang terganggu fungsi otak. Semoga saja tak ada pecah pembuluh darah. Aku saranin bawa ke rumah sakit kamu bilang tunggu Arie dan daddynya dulu.” calon suami Tini juga bingung karena bukan dia yang bisa menentukan kapan Vella akan sadar,
“Daddynya sudah mendarat di bandara YIA. Memang penerbangan Jakarta ~ Jogja hanya satu jam tapi kan dari kantornya ke bandara Cengkareng berapa lama. Lalu dari YIA kesini berapa lama?” Jawab Tini.
Sementara sejak tadi Wiedo berkali-kali tanya perkembangan Vella. Surti dan Wulan sudah pulang. Mereka berjanji akan keep contact dengan Tiwi agar selalu tahu khabar terkini kondisi teman mereka,
Endro dan Arie langsung melompat dari taksi yang mereka tumpangi ketika tiba di rumah pakde Guruh. Endro menyerahkan beberapa lembar uang tanpa meminta kembali. Yang penting tak kurang. Kalau lebih, ya biar itu rejeki drivernya.
“Assalamu’alaykum,” sapa Arie dan Endro.
“Pakde, Bude, ini daddy-nya Vella,” Arie memperkenalkan Endro pada pakde dan budenya.
“Bisa saya melihat Vella?” tanya Endro setelah berkenalan dengan pemilik rumah.
“Silakan,” bude Nawang mengajak Endro masuk ke kamar yang ditempati Vella. Disana ada Tini, Tiwi dan dokter yang sekaligus calon suami Tini.
“Mas, Mbak. Ini daddynya Vella,” Arie memperkenalkan Endro pada semua yang ada dikamar itu.
“Bagaimana kondisi putri saya?” tanya Endro pelan.
“Dia shock. Jiwanya terguncang sehingga tak sadarkan diri,” sahut Erlangga, calon suami Tini.
“Boleh saya mendekat pada Vella?” tanya Endro.
“Silakan. Ayok Yank kita keluar,” Erlangga memberi kode pada Tini dan Tiwi untuk meninggalkan Arie dan Endro dikamar itu.
“Princess Daddy. Wake up Nak. Kamu belahan jiwa Daddy. Jangan seperti ini Nak,” Endro mendekap wajah pias putrinya. Dia ciumi dengan terisak. Dia tak malu pada Arie. Baginya Vella adalah separuh nyawanya yang tersisa, karena separuh sudah dibawa pergi Laras.
'Sebenarnya bagaimana hubungan daddy dengan Vella? Aku makin bingung,’ Arie melihat lelaki gagah itu terpuruk melihat gadisnya pingsan.
__ADS_1
‘Aku makin yakin. Kalau aku melukai Vella maka aku akan mati ditangan daddy,’ Arie menarik kesimpulan setelah melihat bagaimana buruknya kondisi Endro saat ini.
Endro berupaya meredam emosinya. Dia menghapus air matanya dan keluar ruangan setelah menepuk bahu Arie. Dia tinggalkan putrinya dengan calon menantunya.
***
“Saya bisa minta informasi selengkapnya?” tanya Endro di ruang tamu.
“Info tentang apa Om?” tanya Tini.
“Siapa nama dosen yang dicemburui istrinya?” tanya Endro.
“Baskoro Gunawan,’ sahut Tiwi.
“Apa????????”
“Ibas?”
“Sebentar, saya cari foto profilnya,” Endro mencari data nama dosen dan fotonya.
“Apa benar ini?” tanya Endro memperlihatkan foto Baskoro Gunawan.
“Iya bener Om,” sahut Tiwi.
“Istrinya itu tiap tahun melabrak mahasiswi Om. Bukan baru kali ini saja,” sahut Tini.
“Tapi kali ini dia salah cari musuh. Dia akan hancur ditanganku. Om janji. Dia akan merangkak dikaki Vella! Aku bersumpah demi nama mommynya Vella!” sahut Endro geram.
Tadi Endro mendengar cerita Tiwi semua makian Titie yang dilontarkan pada Vella putrinya. Dia tahu mengapa Ibas selalu memandangi Vella. Bukan karena nafsu. Tapi Endro yakin bila Ibas tahu Vella adalah anak Andika Larasati kekasih yang dia campakkan dulu.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI\, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL **want to marry you ** YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
*Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE***yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya**
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1