
Masih banyak orang tua yang memiliki anak kembar selalu memberi pakaian dan semua barang yang serupa. Padahal mereka dua jiwa yang berbeda. Mereka tak harus dibuat seragam dala segala hal karena bisa jadi mereka punya minat yang bertolak belakang ~yanktie~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Sekali enggak tetap enggak. Kalau Abang begitu, aku juga mau maksa daddy biar aku boleh kuliah pakai mobil jadi aku juga bisa kapan aja ke Kebumen atau Kutoarjo naik mobil bawa sendiri,” Vella mengajuk hati Arie agar dia juga dituruti.
Endro pastinya tak akan memberi izin, tapi Vella memang ingin merengek agar mobil miliknya boleh dibawa ke Jogja.
“Iyaaaaaa, Abang nurut. Enggak akan bawa mobil kalau datang ke Jogja. Tapi semester depan Abang super sibuk ya. Itu semester terakhir Abang belajar. Jadi kamu jangan ngambeg kalau Abang telat mbalas chat mu. Yang pasti kita ngobrol diatas jam delapan malam. Saat itu kita sama-sama sudah leluasa waktunya,” Arie meminta pengertian Vella sebelum terjadi perang dingin.
“Iya, kita pastikan aja kita ngobrol jam delapan ya Bang. Pagi atau siang kita say hello atau saling kirim khabar tapi jangan dijadiin beban bila lama di jawab,” Vella pun setuju. Karena dia memang bukan gadis yang hobby pegang ponsel.
Sepanjang hari Vella meletakkan ponsel dalam tasnya. Dia pegang jika dia butuh mengirim pesan atau kebetulan mendengar notifikasi dan dia sedan bisa membuka.
Sementara itu di meja Serena dan Firza, mereka minta dibersihkan meja karena sebentar lagi rekanan mereka akan datang. Mereka nanti akan memesan minum dan snack bila mereka butuh. Yang pasti kalau minuman pasti mereka beli lagi.
“Iyaaaaa, Abang nurut ama kamu,” Arie mengambil jemari Vella untuk dia kecup agar kekasihnya tidak merajuk. Mereka telah selesai makan. Sudah membayar dan akan segera ke rumah Arie untuk menjemput si kembar.
Arie tentu tak ingin Vella nekad membawa mobil miliknya. Di Jakarta saja Vella jarang menyetir sendiri. Apalagi jarak jauh Jogja ~ Kebumen atau Jogja ~ Kutoarjo.
“Abang bersiap pulang, kalian harus sudah siap ya,” Arie menghubungi Frina bahwa dirinya siap on the way ke rumah.
“Iya Bang. Kami sudah salat dan baru saja selesai makan. Saat Abang sampai kami sudah rapi,” bals Frina.
“Pakai hoodie yang Abang siapin di kamar kalian masing-masing. Karena Abang juga akan pakai hoodie. Biar kita semua kembaran,” Arie berpesan agar mereka mengenakan hoodie yang sejak pagi sudah dia letakkan di kamar kedua adiknya. Si kembar memang tidur terpisah sejak usia mereka lima tahun.
“Wah, kalian sudah selesai makan?” tetiba Arie mendengar ada yang bertanya padanya. Tangan kirinya masih memegang ponsel yang terhubung dengan Frina dan tangan kanannya memeluk pinggang Vella dengan mesra.
“Eh iya Pak, kami masih akan jalan-jalan dengan kedua adik saya. Kami duluan,” Arie menjawab dengan cepat setelah dia menutup sambungan telepon dengan Frina dan memberi salam pada adik nya itu.
__ADS_1
Rupanya Firza dari toilet dan bertemu dengan Arie dan Vella yang hendak keluar. Sebenarnya Firza sengaja menunggu Arie lewat didekatnya.
“Sudah paham kan? Semangat buat ngedapetin dia,” dengan konyol Arie malah berbisik pada Firza dan memberi kedipan mata.
Firza memberi kode dengan mengangkat jempol dan tersenyum lebar. Dia semakin yakin kalau Arie memang sama sekali tidak mencintai Serena sebagai kekasih seperti pengakuan gadis yang dia sukai itu.
‘Pasti Rene bercerita pada pemuda itu untuk menjawab iya ketika Rene mengakuinya sebagai kekasihnya!’ Firza menduga kalau Arie tahu soal Serena akan mengakui dirinya sebagai kekasih. Firza pernah melihat postingan Arie yang mengatakan mengantar SAHABATnya saat mereka jalan di too buku ketika itu.
***
“Yank, kamu ganti pakaian di kamar mandi yang ada di kamar tamu aja ya. Ini hoodie untukmu sore ini,” Arie menyerahkan satu buah paper bag berlogo distro miliknya. Dan mengantar Vella hingga depan pintu kamar tamu rumahnya yang letaknya dekat dengan ruang tamu.
“Untung aku aku bawa celana hitam dari bahan streech ,” Vella berkata pelan saat membuka paper bag dan melihat hoodie yang diberikan Arie berwarna abu-abu gelap. Semalam dia ingin membawa celana dari bahan jeans, tapi dia lihat tasnya jadi menggembung, maka dia tukar dengan celana dari katun streech saja.
Vella melihat hoodie yang ditangannya berbahan rajut tangan panjang tanpa restleting dan mempunyai dua buah kantong besar di depan bagian bawah. Hoodie berkupluk atau pullover itu sangat manis.
Vella bergegas menuju kamar mandi dengan membawa tas nya. Dia memang akan mandi dulu sebelum berganti pakaian. Dia membawa perlengkapan mandi miliknya dari rumah.
“Eh, lama ya nungguin Mbak?” tanya Vella karena si kembar telah duduk manis menunggunya di sana. Mereka juga menggunakan hoodie yang sama dengan Vella, hanya warna abu-abunya lebih muda.
“Enggak koq Mbak, kami baru aja selesai,” sahut Frina yang menggunakan celana dibawah lutut berwarna hijau lumut tua.
“Abang aja belom siap, jadi eMbak enggak perlu merasa bersalah,” Frani pun menimpali gadis keci ini perkataan kembarannya mengikat rambut dan mengenakan celana orange.
“Siapa bilang? Abang udah ready koq. Ayok jalan,” Arie datang menghampiri mereka. Ternyata Arie juga mengenakan celana warna hitam, hanya dia menggunakan dari bahan jeans.
“Cieeee, Abang kembaran gitu,” goda Frani.
“Ya iya lah, namanya ama pacar,” tanpa malu Arie menjawab dan mengambil tangan Vella untuk dia gandeng. Arie melihat Vella tersipu malu.
“Kenapa kalian enggak satu sekolah?” tanya Vella saat mereka sudah berada di mobil.
__ADS_1
“Kami ingin jadi diri kami sendiri Mbak. Kami enggak ingin dibanding-bandingkan. Dan sejak kecil ibu juga enggak selalu membelikan kami baju dan barang yang serupa. Lebih banyak kami dibelikan sesuai mau kami. Kadang-kadang aja kami kembaran sepreti kali ini,” sahut Frina yang memang terlihat lebih dewasa dari Frani si bungsu.
“Kadang kalau dibelikan benda yang serupa, biasanya dibedakan warnanya agar tidak rebutan,” Frani melengkapi jawaban kakak kembarnya.
“Membelikan barang serupa tapi beda warna juga untuk menghindari kecurangan. Jadi misal si A memiliki barang rusak, dia bisa saja menukar dengan milik si B bila barang mereka sama persis. Bapak memang sangat teliti bila mengenai hal seperti itu,” Arie menjelaskan kenapa sejak awal kedua orang tuanya tidak membelikan anak kembar mereka barang yang sama persis.
“Iya juga ya. Serius aku baru kepikiran sekarang. Karena biasanya orang tua yang memiliki anak kembar membelikan baju dan barang dengan warna sama,” Vella jujur mengatakan baru paham dasar pemikiran kedua orang tua Arie.
***
“Yok kita sampai,” Arie memarkir mobilnya. Mereka sampai di kota tua.
“Yeeeeeay. Kita bikin foto yang banyak ya Kak, Bang, Mbak,” Frani semangat untuk turun dan bersiap membuat postingan di media sosial miliknya.
“Kita sewa topi dan sepeda yok,” ajak Vella pada kedua gadis kecil yang dia anggap adiknya itu. Di rumah Endro dia biasa jadi anak tunggal dan dalam keluarganya dia adalah anak bungsu. Maka dia senang memiliki dua ‘adik’ secara langsung seperti sekarang.
“Ayok Mbak,” Frina langsung menggenggam tangan Vella dan mengajaknya ke penyewaan topi agar wajah mereka tak kepanasan.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNCOMPLETED STORY YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1