UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
PEREMPUAN BUTUH KEPASTIAN!


__ADS_3

Lelaki itu kadang kurang peka. Aku pun seperti itu. Aku anggap selama ini aku sudah jelas menyatakan cinta yang aku punya padanya melalui semua perbuatanku. Ternyataaaaaaaaa …


Untung Vella menyadarkanku kalau perempuan butuh pernyataan agar tak salah menangkap signal yang kita berikan. ~Harllo Putranto Sukardi~


DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Enak lho Yank lempernya,” dengan santai Arie menyodorkan lemper yang sudah dia gigit ke mulut Vella. Tentu saja gadis itu gelagepan karena tak menyangka hal ‘akrab’ seperti ini akan dia dapatkan secepat ini dari pemuda yang baru kemarin sore menyatakan sayang secara lisan padanya, walau secara tulisan sudah satu hari sebelumnya.


Vella pun menggigit lemper yang memang sudah ada didepan mulutnya. Dia tahu lemper ini kesukaan papanya, maka mbak Nungki tadi malam minta agar diantar subuh karena memang niat membekali adiknya yang semalam bilang akan ikut kerja lapangan.


“Cukup Kak,” Vella tak enak hati karena Harllo jelas melihat kalau Arie menyuapinya.


“Ayok, makan siang tempat biasa ya boss,” pinta Asih cepat. Dia sengaja pura-pura tak tahu moment mesra pasangan yang baru jadian ini.


“Iya, sekalian ambil mobil gue,” jawab Arie sambil menggandeng lembut jemari Vella.


Harllo dan Asih saling lempar pandang ke arah jemari yang bertaut itu dan mereka sama-sama tersenyum. Tanpa Arie tahu sejak tadi Asih atau Harlo sering membuat foto candid mereka berdua. Dan hasilnya langsung dikirim ke group WA mereka bertiga dengan aneka kalimat bully-an versi mereka.


Di mobil Asih dan Harllo makan lemper dulu masing-masing dua buah baru Harllo menyalakan mesin mobil untuk kembali ke base camp mereka.


‘Ini kan cafe yang kemarin, jadi tempat biasanya disini. Oh iya itu mobil kak Arie ada di sana,’ Vella membatin melihat mobil Arie ada di pojok parkiran yang di naungi oleh pergola tanaman.


“Selamat siang mas Harllo, mbak Asih. Selamat siang Pak,” juru parkir menyapa mereka dan kembali Vella meihat kejanggalan karena Arie dipanggil dengan sebutan Pak sedang Harllo dipanggil dengan sebutan Mas.


“Langsung ke ruangan gue aja,” Arie berkata pada Asih sambil menyerahkan kunci. Dia menggandeng Vella untuk mengikuti Asih dan Harlo yang telah masuk lebih dulu dengan membawa berkas mereka.


“Siapkan nasi bakar tuna pedas dua, nasi bakar ayam pedas dua, ayam bakar kecap dua, ikan bawal bakar satu dan minumnya lemon tea empat es nya sedikit aja,” Arie meminta pada seorang pramusaji yang dia temui tanpa menulis pesanan lalu dia mengajak Vella ke bagian belakang. Di sana ada tangga kayu yang artistik menuju rumah panggung dari kayu. Di bagian bawah rumah kayu itu adalah kolam ikan koi.


“Naik aja, Asih dan Harllo sudah menunggu di atas,” Arie mempersilakan Vella naik.


“Kamu pernah diajak kesini?” tanya Asih.


Sahabat Arie itu Vella lihat sudah duduk dilantai karpet tebal dengan meja lesehan artistik dari akar kayu. Meja dari akar kayu ini biasa Vella lihat dijual sepanjang jalan bila dia mau menginap di villa daddynya di puncak.

__ADS_1


“Kemarin diajak kesini buat minum juice,” jawab Vella jujur.


“Wah boss emang kelewatan. Ceweq sendiri enggak dikasih tahu kalau …,”


“Llo!” kata-kata Harllo belum usai sudah ditegur oleh Arie.


“Kalau apa kak Harllo? Teruskan kata-katanya kalau enggak aku pulang,” Vella mengancam Harllo.


“Arie ini pemilik cafe ini Vell,” Asih pun membela Harllo.


Vella hanya melihat Arie dengan mata melotot tajam. Dia tak menyangka ‘kekasih’ nya pemilik cafe yang mereka buat kencan kemarin sore. Yang dia tahu Arie memiliki dua distro saja.


“Sayank, dengerin Kakak. Bukan enggak mau kasih tahu, tapi nunggu waktu yang tepat aja. Kakak enggak mau dibilang pamer buat bikin kamu tertarik, karena Kakak tahu kamu enggak tertarik ama harta orang,” Arie mendekati Vella, duduk didepannya dan menggenggam kedua tangannya.


“Permisi …, dua orang pramusaji mengantarkan pesanan makanan yang sudah Arie minta tadi.


“Kita makan dulu aja Sih,” Harllo menepis rasa kaku di ruangan itu.


Asih dan Harllo mengambil nasi bakar ayam dan tuna karena biasanya mereka akan saling tukar sedikit lauk.


“Ini Kakak mau yang tuna atau ayam?” tanya Vella melihat tulisan isi nasi bakar yang tersisa.


“Ayam aja, biar kamu yang ngerasain tuna pedasnya,” jawab Arie.


“Tapi ini porsi nasinya kebanyakan Kak,” Vella memberitahu soal porsi nasinya.


“Biar nanti Kakak yang habiskan. Itu makanya ada ayam bakar kecap dan ikan bawal bakar kecap sebagai lauk pelengkap,” balas Arie. Mereka bertiga memang selalu tambah lauk bila memesan nasi bakar.


“Mantabs nih tuna pedasnya,” Vella memuji rasa makanan yang dia dapatkan.


“Ayam pedasnya juga enak koq,” kembali Arie menyodorkan nasi bakar ayam pedas miliknya ke depan mulut Vella, kali ini dia makan tak menggunakan sendok.


Dengan tersipu Vella menerima suapan langsung dari tangan Arie. “Iya cukup enak Kak, tapi kalau ayam kan emang terlalu biasa. Nasi bakar yang enak itu isi udang, teri asin atau cumi asin Kak,” Vella fasih kalau soal makanan karena keluarganya hobby berburu kuliner.


“Mau tambah bawal bakar atau ayam bakar?” tanya Harllo pada Asih.

__ADS_1


“Ayam aja deh, kan nasiku udah ikan,” balas Asih. Aneh gadis itu, kalau dengan Arie dia ber elo gue dengan luwesnya. Tapi kalau ke Harllo lembut ber aku kamu.


“Liat Yank, Asih kalau ke Kakak aja ngomongnya elo gue, gitu enggak mau ngaku pacaran,” Arie berkesempatan menggoda pasangan didepannya. Mumpung ada Vella.


“Elo apa an sih Rie,” protes Asih.


“Kalian tu saling sayang tapi sok jaga gengsi. Mending gue kan?” goda Arie dengan pede nya.


“Gue enggak gengsi! Dia tuh yang jaim,” tanpa sadar Asih membela diri dengan ‘menjatuhkan’ Harllo.


“Siapa juga yang jaim?” Harllo pun terpancing.


“Ya udah kalau enggak pada jaim, akuin aja kalau kalian pacaran, daripada Asih jadi dijodohin karena jomlo terus,” balas Arie sambil memisahkan daging ikan bakar dari tulangnya dan meletakkan di piring nasi milik Vella.


“Kakak mau dijodohin?” tanya Vella pada Asih.


“Mama cuma nanya, aku sudah punya pacar belum. Gitu aja. Kalau belum punya mau dinikahin ama anak teman papa yang udah jadi wakil CEO. Tapi kalau aku sudah punya pacar, mama enggak bakal nikahin ama dia,” sahut Asih kalem.


“Ya udah Kak terima yang pasti aja. Nikah ama anak CEO, dari pada kak Harllo enggak kasih kepastian,” Vella malah membakar Harllo untuk cepat menggapai Asih.


“Siapa yang enggak kasih kepastian? Apa semua perilaku enggak cukup? Apa harus diucapkan?” balas Harllo berapi-api. Pemuda ini baru tahu kalau Asih mau diodohkan oleh mamanya. Asih atau Arie tak pernah bercerita padanya.


“Iiiih kak Harllo. Perempuan butuh kepastian! Aku aja sejak awal tahu kak Arie suka aku, tapi selama dia enggak ngucapin cinta, ya ngapain ngarepin dia?” dengan santai Vella menyatakan pendapatnya.


\===========================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK  YANKTIE  DENGAN JUDUL NOVEL KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR YOK



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2