
Kami satu keluarga besar tanpa pertalian darah. Kami merasakan sakit yang sama bila satu diantara kami ada yang terluka, dan kami merasakan bahagia yang sama ketika seorang dari kami bahagia. ~Siena, Dian, Wieke, Vella, Merry, Risye~
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
“Ha ha ha, kamu tu pawang singa Rene, dia bisa luluh baru kamu bilang begitu. Sedang sama mama dan papa diancam apa pun enggak mempan. Malah dia lebih galak ancam kami,” Nani Susyarti calon mertua Serena terbahak mendengar Firza patuh pada Serena.
“Tapi jangan marah kalau tiap tiga puluh menit sekali bahkan kurang dari itu dia akan ngabsent kita ya Ma,” Serena memberitahu bagaimana possessive nya sang monster tengil yang dijuluki singa oleh sang mama.
“Kalau begitu kita matikan saja ponsel kita,” Nani memberi saran.
“Enggak Ma. Nanti dia gantung diri,” jawab Serena. Kalau ponsel mereka berdua tentu ponsel sang sopir akan jadi sasaran Firza.
“Udah sampe mana Honey?” tanya Firza saat Serena baru saja turun depan salon.
Serena mengubah panggilan menjadi video. “Baru aja sampai,” jawab Serena dengan senyum manisnya.
“Yaaah, masih lama dong?” protes Firza.
__ADS_1
”Perawatannya minimal tiga jam. Habis itu kita makan baru belanja. Mungkin sore baru selesai jadi aku nanti langsung pulang aja ya. Abang jangan telat makan siang. I love you,” bujuk Serena.
“Honey, jadi kamu seharian enggak ke kantor?” pekik Firza. Dia tak bisa membayangkan di kantor sendirian tanpa Serena.
“Enggak Bang. Dan kalau enggak salah papa mau ajak kamu diskusi dengan PT Meylin Utama,” sahut Serena santai.
“Andai enggak ada diskusi dengan PT Meylin Utama, aku mending nyusul kamu dan mama yank,” bisik Firza yang melihat tunangannya telah memutus pembicaraan.
***
“Jangan kamu lagi lah Merr, memang aku enggak punya banyak, tapi setidaknya aku juga mau berbagi,” Risye urun pendapat.
Risye, Merry, Wieke dan Dian sedang ngobrol dengan zoom berempat. Tanpa melibatkan Vella dan Siena. Mereka tahu dari Siena kalau uang kuliah Siena sudah dibayari oleh kerabat Vella yang dipanggil Ayah, dan uang dari ibu kak Arie calon mertua Vella sudah dipakai Siena untuk kontrak rumah. Belum lagi Vella membelikan banyak baju juga lemari dan lain-lain yang tak bisa Siena rinci.
“Oke, gini aja. Kalian bertiga kumpulin uangnya seadanya. Jangan dipaksakan. Nanti kekurangannya aku yang tambahin,” jawab Merry. Perempuan ini juga tak ingin teman-temannya sedih karena tak bisa berbagi.
“Aku setuju Merr, kamu kasih nomor rekeningmu aja. Besok aku setorkan sumbanganku. Biar kita cepat siap bila bunda ngabari surat pindah Raffli sudah selesai,” jawab Dian.
“Iya, aku juga enggak pakai Mbanking, besok berangkat kuliah aku akan kirim yang aku bisa,” sahut Risye.
Sedang Wieke langsung mentranfer sejumlah dana ke rekening yang barusan Merry kasih.
__ADS_1
“Semoga kita semua bisa kumpul lagi pas liburan ya. Kita berempat berangkat bareng ke Jogja naik kereta. Pasti seru,” cetus Dian.
“Eh agendakan yok? Liburan bareng ke Jogja. Aku akan nabung dulu,” sahut Risye.
”Ayoooooook, kita naik kereta aja biar lebih enak,” Wieke pun setuju.
Lalu mereka sepakat akan liburan ke Jogja saat kenaikan tingkat. Karena liburan Desember Dian dan Merry tak bisa mengingat mereka harus kumpul keluarga saat natal dan tahun baru.
Malam itu mereka senang menjadi satu keluarga yang selalu saling menyayangi walau beda agama dan beda kemampuan finansial.
\===========================================
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya teman yanktie yang bernama OKTIYAN dengan judul novel CINTA TAK SEMANIS COKLAT yok! Ceritanya pasti seru dan enggak akan nyesel deh bacanya.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta