
Menasehati anak-anak tak perlu seperti sedang menggurui. Kit bisa kapan pun melakukannya. Selipkan kata-kata nasihat saat kita ngobrol santai dengan mereka. Itu lebih mengena dihati dan pikiran mereka daripada mereka kita doktrin. ~Suroyo Mulyo~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Atau sebaliknya, Abang mau mampir karena merasa merasa enggak sopan kalau enggak mampir. Padahal kamu sudah bilang mama enggak mampir. Nanti salah satu dari kita akan kesal. Itu bibit keributan Yank. Masa kita maunya ribut terus? Kalau sesuatu hal buruk bisa kita minimalisir, mengapa tidak kita lakukan?” jawab Arie bijak.
“He he he, Abang yang sabar bimbing Ade ya? Serius hal itu enggak kepikiran ama Ade,” jawab Vella jujur. Memang dia sama sekali tidak kepikiran hal itu.
“Sekali lagi Yank. Abang minta segala sesuatu itu kita bicarakan ya?” Arie menggenggam jemari Vella dan mengajak melanjutkan perjalanan. Mereka telah selesai makan.
Mereka sampai di rumah Yoyok saat malam. Tadi mereka salat Maghrib di jalan. Pulang ke rumah mereka langsung mandi dan salat berjamaah berdua di ruang salat.
Kamila dan Yoyok berharap pasangan ini tidak salah langkah seperti Laras. Mereka ingin bisa menyelenggarakan pesta pernikahan normal, bukan saat mereka mengadakan ijab kabul bagi Laras dan Nanan dulu.
“Semoga mereka bisa menjalankan kepercayaan yang kita berikan dengan amanah ya Bu,” Yoyok berbisik pada Kamila.
“Aamiiin. Ibu juga berharap demikian Yah. Ibu ingin Nanan segera membuka jati diri Vella yang sebenarnya agar gadis itu bisa jaga diri dan tidak mengikuti jejak yang salah seperti mommynya,” balas Kamila.
“Vella tentu beda. Terlebih Arie juga bukan seperti anak nakal yang mungkin seperti ayah kandung Vella. Arie tentu bisa menekan hawa nafsunya hingga waktu yang boleh melakukan hal sakral itu setelah mereka resmi menikah nanti.” jawab Yoyok
“Pandangan Ibu terhadap Arie juga seperti itu. Semoga penilaian kita tidak meleset,” jawab Kamila. Mereka lalu menghentikan pembicaraan tentang topik itu karena Vella dan Arie telah selesai salat dan menghampiri mereka,
“Eyang, besok sehabis sarapan kami mau pamit pulang. Saya tidak ingin Vella terlalu lelah untuk persiapan masuk kuliah hari pertama. Saya ingin hari Minggu dia full istirahat,” Arie memberitahu rencana mereka esok hari.
“Enggak sore aja pulangnya” tanya Yoyok.
“Enggak Eyang. Kalau sore nanti sampai Jogja sudah malam. Kami ingin menikmati malam di alun-alun Kidul sebelum hari Minggu full rehat,” jawab Vella jujur.
__ADS_1
“Baiklah. Jangan lupa abon ayam untuk daddy dan adik-adikmu dibawa. Sudah Eyang packing dengan plastik kedap udara. Jadi aman bila kalian tidak kirim lewat ekspedisi tapi mau dibawa saja saat Arie nanti pulang ke Jakarta,” sahut Kamila.
“Aku akan kirim dari Jogja Eyang. Sekalian yang punya adik-adik mau aku tambahin tas laptop dari batik,” sahut Vella.
“Apa Eyaang mau titip sesuatu buat mama? Kemarin Ade udah bilang ke mama enggak mampir ke Senepo,” Vella memberitahu rencananya pada Kamila.
“Enggak. Punya mamamu sudah dikirim tadi. Ada keponakan eyang yang akan ke Purworejo, jadi Eyang minta antar abon ayam dan beberapa hasil kebun buat mamamu,” sahut Kamila. Dia sungguh senang atas kejujuran cucunya yang mengatakan tak akan mampir ke rumah orang tuanya.
Akhirnya malam itu Yoyok dan Kamila ngobrol panjang lebar. Selain mengorek tentang latar belakang keluarga Arie, mereka juga selalu menyelipkan nasihat agar pasangan muda ini selalu menjaga kehormatan keluarga besar masing-masing dengan menjaga kelakuan mereka agar tak melakukan hal yang dilarang agama.
***
“Abang pulang dulu ya Yank. Nanti habis Maghrib baru Abang kesini. Jadi kita berangkat setelah salat Isya. Kita salat Isya berjama’ah disini ya? Baru kita jalan keluar,” Arie mohon pamit tak lama setelah dia sampai di rumah kost Vella.
“Iya Bang. Hati-hati ya,” sahut Vella. Dia tahu kalau disini Arie tentu tak bisa tidur untuk istirahat. Biar bagaimana pun tentu tak nyenyak tidur dengan rasa was-was. Mereka tak melakukan hal apa pun, tapi penghuni lain bisa salah duga.
Jika kamar tak ditutup, AC akan tak maksimal rasanya. Jadi Arie memilih tidur di rumah pakdenya saja.
“Koq mlaku Rie? Mobile endi?” tanya bude Nawang yang sedang mengambil lidi dari daun kelapa yang kering dan jatuh.
“Mobil langsung Abang taruh di tempat pencucian ujung jalan Bude. Sekalian jalan ambil bajuku di laundry seberang juga,” jawab Arie sambil memberi salim pada budenya itu.
“Wong baju kotor tinggal taruh belakang yo kowe masukin ke laundry,” Nawang tak mengerti mengapa keponakannya tak mau menaruh baju kotornya di rumah saja.
Sebenarnya pemikiran Arie sederhana. Kalau taruh baju di belakang, dia tak bisa nguber-nguber orang rumah untuk mendahulukan mencuci dan setrika baju miliknya ‘kan? Sedang jumlah baju yang dia bawa terbatas. Kalau di laundry sekarang taruh kan besok sudah selesai di setrika.
“He he he, santai wae Bude,” sahut Arie dan dia minta izin untuk masuk ke kamarnya. Arie langsung tidur agar nanti fresh main di alun-alun kidul dengan Vella.
***
__ADS_1
“Sudah pernah melakukan ritual ringin kembar belum Yank?” tanya Arie begitu mereka sampai di ALKID ( alun-alun kidul atau lapangan Selatan, yaitu alun-alaun keraton Jogja sebelah Selatan. Karena ada alun-alun Lor ). Malam Minggu, cerah, tentu sangat sulit mencari parkir untuk mobilnya. Untung akhirnya dia dapat.
“Belum,” sahut Vella. Karena memang dia belum pernah kesini setelah dewasa. Kalau kesini dengan daddy dan mama papanya saat dia kecil dulu. Tentu tak mungkin orang tuanya mengajak melakukan hal itu.
“Tapi udah tau mitos tentang ritual ringin kembar kan?” tanya Arie.
“Sudah sih. Katanya agak sulit ya Bang jalan lurus? Dan katanya kalau berhasil, keinginan kita yang kita batin sebelum melakukan ritual akan terwujud,” jawab Vella.
“Iya benar. Mitosnya seperti itu. Kita ikut yok buat seru-seruan udah sampai sini,” ajak Arie. Dia mengeluarkan ikat kepala dari batik yang dia bawa dari rumah untuk mengikuti ritual ini.
“Ayok, aku duluan ya Bang,” pinta Vella dengan antusias.
Arie pun mengarahkan Vella tepat di tengah area ringin kembar dan jarak yang akan ditempuh Vella sesuai dengan masyarakat lain yang juga akan melakukan ritual.
“Masih kelihatan enggak? Apa Abang kekencengan?” tanya Arie saat mengikat kain untuk menutup kedua mata Vella.
“Udah enggak kelihatan koq Bang. Pas ini enggak kekencengaan,” sahut Vella.
“Ingat ini buat seru-seruan. Hasilnya jangan terlalu kamu percayai 100%. yang harus kamu ingat Abang cinta kamu dan enggak akan ada yang bisa gantiin kamu dihati Abang. I love you Adenya Abang,” Arie berbisik di belakang Vella.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL WANT TO MARRY YOU YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta