
Aku belum bisa berbicara lancar. Aku cukup bahagia memandang wajah manisnya. Dan tambah bahagia ketika dia mengatakan aku untuk selalu semangat buat sembuh~Pandu Kesuma~
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Assalamu'alaykum," kata Arie. Tidak ada siapa pun kecuali Pandu.
Saat ini belum jam besoek atau jam kunjung. Tak ada yang menunggui Pandu karena memang Djojo juga sedang kuliah. Pandu sedang tidak tidur.
Baru saja seorang suster keluar dari ruangannya menggantikan infus.
Pandu menengok dengan perlahan karena lehernya sakit dia melihat Vella dan Arie juga Siena. Pandu juga melihat seorang lelaki yang belum dia kenal.
"Hai gimana kabarmu?" tanya Arie.
Pandu hanya mengedipkan matanya menjawab dengan kedipan.
Mulutnya masih tertutup dengan alat bantu pernafasan.
"Cepat sembuh ya," kata Vella sambil memegang lengan Pandu.
Seperti tadi Pandu hanya mengedipkan mata.
Tadi sebelum masuk Arie sudah menanyakan bagaimana kondisi Pandu saat ini pada kepala suster jaga.
Menurut suster, Pandu sudah ada kemajuan. Sudah bisa menelan sedikit makanan lunak tidak seperti awal masuk. Pandu juga sesekali boleh dilepas alat bantu pernapasan bila ingin bicara tapi tak boleh terlalu lama.
Maka tadi Arie sudah minta izin pada suster kepala saat akan masuk ruangan akan bicara sebentar dengan Pandu.
"Video call boleh," kata Duldul.
Vella langsung melakukan hubungan video call dengan gengs bukan hanya dengan Risye.
Merry yang mengangkat duluan lalu Dian. Sosok yang mereka tunggu yaitu Risye malah belum mengangkat telepon. Lalu lanjut masuk Wieke.
"Ada apa tumben siang-siang," kata Merry.
"Aku nunggu Risye dulu," jawab. Vella.
"Lah kok nggak nunggu Sienna juga?"
"Sienna lagi sama aku nggak perlu lah dia ngeribetin tambah ponsel lagi," kata Vella. Siena pun mendekat ke kamera ponsel Vella.
__ADS_1
"Hallo semua," sapa Siena begitu Riesye masuk ke obrolan.
Vella memutar arah kamera di perlihatkan wajah Helmi yang langsung melambai ke kamera, lalu wajah Arie yang langsung memberi salam *hallo* dan terakhir adalah tempat tidur Pandu.
"Wah kalian di sana," langsung genks heboh. Risye menatap sosok yang dalam dua hari ini selalu mengganggu benaknya.
"Senangnya kalian bisa mewakili kita," ucap kata Wieke tulus.
"Yang pasti mewakili Risye kan," goda Siena.
Risye hanya tersenyum. Pandu pun tersenyum. Tadi Arie sudah membuka alat bantu pernapasan.
Pandu menggerakkan bibirnya walau tak ada suara "Terima kasih," katanya.
"Hai cepat sehat ya," kata Wieke.
"Semangat dong," kata Risye.
"Cie cie yang dikasih semangat ama yayang," goda Merry.
"Kalian jangan harap jawaban dari Pandu ya. Dia sulit bicara," kata Arie.
"Kak Arie ini sukanya gitu. Siapa yang kirim-kiriman pesan," bantah Risye.
"Iya nggak kirim pesan tapi deg-degan terus nunggu kabar kan," kata Vella.
Kamera masih tetap ke Pandu tidak kemana-mana. Dan mata Pandu hanya memperhatikan Riesye saja.
"Udah cukup, nanti ketahuan bahaya ini kan nggak boleh sembarangan bikin video call," Arie memeringatkan istrinya.
"Ya udah semuanya yuk dadah bye bye," kata Siena.
"Pandu semangat ya cepat sembuh. Seorang sahabat kami tak sabar menunggu teleponmu," ucap Merry sebelum mengakhiri panggilan.
"Hai semuanya yuk assalamu'alaykum," kata Siena.
"Wa'alaykum salam," sahut Risye dan Dian. Lalu pembicaraan terputus.
Pandu juga bahagia melihat wajah Risye di kamera ponsel Vella.
"Sudah ditengok sama temen-temennya gebetan, harus memacu semangat buat sembuh," kata Duldul.
__ADS_1
"Semangat sembuh ya," kata Arie. Pandu mengangguk lemah.
"Eh kenalin calonnya Risye. Eh salah, calonnya Siena kok jadi Risye. Nanti aku pulang digebukin Pandu sama Djojo," kata Arie menggoda Pandu.
Helmi tertawa saja.
"Helmi." katanya dia tahu Pandu sulit berjabat tangan.
"Jadi ini nih calonnya Riesye," kode Helmi.
Pandu hanya menarik ujung bibirnya ke atas sedikit.
Tak bisa lagi menjawab. Arie membantu memasangkan kembali alat bantu pernapasannya.
"Ya udah kita nggak bisa lama ya," kata Arie.
"Kamu istirahat biar cepet sembuh,"
"Ini dari kami genks wanita cantique." Siena menunjukkan parcel buah mix ditangan Helmi.
"Dan ini spesial dari yayangmu katanya biar kamu cepat sembuh," Siena meletakkan parcel berisi anggur.
Memang tadi sebelum masuk Vella bilang aja itu dari Risye khusus buat Pandu.
Mereka keluar pada saat orang tua Pandu masuk. Mereka sempat berkenalan sebentar.
"Jadi ini teman-teman Pandu dari Jakarta,?" tanya mama Pandu.
"Ini anaknya Jenderal Mahesa kemarin kebetulan Pandu abis bawa anaknya," jelas Duldul pada mama Pandu.
"Oh begitu. Terima kasih ya Nak," kata ibunya Pandu.
Pandu tentu saja senang mendapat kiriman spesial dari Risye berupa anggur besar berwarna merah dan hijau itu.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul WANT TO MARRY YOU itu ya.
__ADS_1