
Jangan bilang dia beneran nyerah lalu pulang sebelum acara selesai. Masa secemen itu sih? Masa karena penolakanku dia langsung enggak profesional? ~Dian Laksmiari~
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Kamu kenapa tadi balik? Kamu kenapa langsung pergi? Tadi harusnya kamu ambil amplop struk belanja kan?" tanya Adon pada Dian.
"Aku tuh nggak ada apa-apa. Yang kamu lihat itu bukan seperti itu, bukan seperti yang kamu pikir,"
"Memang aku mikir apa?" Dian langsung menyambar kalimat Adon.
"Enggak usah sok-sok nebak pikiran aku dech," lanjut Dian lagi.
"Kamu pasti berpikir yang nggak-nggak kan. Kamu pikir aku suka sama dia kan?"
"Kamu suka sama dia pun aku nggak peduli kok," ucap Dian tanpa mau melihat lada Adon.
"Enggak usah bohong, aku tahu dari mata kamu," kata Adon.
"Ya udah terserah kamu, aku enggak mikir apa pun koq," balas Dian.
"Kamu tetap aja ngeyel enggak mau mengakui perasaanmu." Adon tetap tak mau kalah.
"Aku nggak peduli!"
"Kamu tuh susah banget ngertiin aku sih," keluh Adon.
__ADS_1
"Ngertiin apa? Nggak ada apa-apa kok antara kita!" Dian tetap saja keukeuh tak mau mengakui perasaannya.
"Kamu tahu dari Merry, aku suka kamu sejak SMA. Jadi kita bukan enggak ada apa apa. Kamu gengsi mengatakan apa yang kamu rasa!" Adon mulai melemah.
"Kamu mengatakannya ke Merry kan? Bukan ke aku. Jadi enggak ada urusan denganku. Enggak bisa kan kamu nyuruh Merry mengatakannya secara langsung ke aku sekarang?" jawab Dian.
"Kamu tuh harusnya ngertiin aku dong. Aku udah berusaha merubah image semua orang kalau aku tuh cintanya cuma sama kamu."
"Tetap nggak ada gunanya, karena Merry udah nggak ada. Merry nggak bisa beladiri."
"Oke. Misal aku memang pernah pacaran sama Merry. Lalu sekarang aku nggak boleh pacaran sama kamu? Banyak kok orang berganti pasangan bila telah putus. Terlebih kalau orang itu sudah nggak ada."
"Masa aku tetap harus berharap pada dia yang enggak ada?" Adon berupaya membuka pikiran Dian.
"Kalau memang tetap harus begitu ya aku nyerah," kata Adon. Dia memberika amplop struk pada Dian dan pergi untuk bersiap makan siang.
\*\*\*
Saat kejadian Lissa melabrak Christo, Adon juga melihatnya lalu dia bilang sama Dian: "Lihat siapa pun dia tabrak seperti itu karena memang dia cari celah buat dapetin orang seperti yang dia inginkan!"
"Terserah kamu mau ngomong apa pun aku nggak peduli," kata Dian.
"Open your mind. Jangan tutup pintu hatimu," ucap Adon.
\*\*"
__ADS_1
"Kak Arie saya izin pulang lebih dulu. Ini barusan ibu telepon. Ada kakek datang ingin bertemu. Dan kakek tidak bisa menginap untuk menunggu saya," Adon pamit lada Arie saat mendapat telepon dari uminya.
"Iya nggak apa apa udah selesai semua?" Tanya Arie.
"Amplop sudah di Dian Kak. Ini kunci mesin Kassa taruh di mana ya Kak?" Tanya Adon.
"Kasih Christo aja kalau kunci kassanya atau kasih ke Vella sebagai bendahara." Jawab Arie.
"Baik Kak," jawab Adon.
"Tapi besok bisa hadir kan?"
"Insya Allah besok bisa Kak."
Dian tidak tahu soal pamitnya Adon. Tak ada yang tahu selain Arie dan Christo yang diserahi kunci kassa.
Sejak jam makan malam yang memang harus gantian Dian tak melihat Adon.
'*Tadi dia bilang nyerah. Apa dia langsung pulang ya? Masa gitu aja pulang*?'
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY ya.
__ADS_1
