
Aku mulai terjebak benang kusut yang membuatku tak mengerti dari mana harus aku urai keruwetan ini? Tapi semua tak bisa aku hindari. Aku harus bersiap menghadapi kekacauan yang selanjutnya. ~Baskoro Gunawan~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“kalau itu tak terbukti, saya akan buat Titie merangkak meminta maaf pada putri saya. Camkan itu” ancaman pria pemilik kartu nama yang masih dia pegang terus berdengung ditelinga Titie.
‘Ternyata mamas kenal dengan papa dan kakeknya Vella. Dia juga pernah bertanya pada bu Yayuk. Jadi hubungan mereka apa? Mengapa papa Vella berani bertaruh kalau mamas tak akan pernah selingkuh dengan Vella?’ Titite masih diam.
‘Sekarang aku janda?’ pikirnya lagi
***
“Maaf, kelas bisnis habis. Kita naik kelas ekonomi ke Singaporenya,” Endro memberitahu Vella dan Arie. Dia tak menginap di hotel karena pakde Guruh menahannya. Endro malah senang mengetahui kalau putrinya sangat diterima keluarga Arie.
“Enggak apa-apa Dadd,” sahut Vella.
“Bude, ini Ibu minta bude Ningrum bikinin aku serundeng daging kambing, jadi buat makan disini aja ya. Kan aku mau ke Singapore dulu,” Vella membuka tupperwarre berisi serundeng buatan istri pakde Wito.
“Ibu yang request ke bude Yank?” tanya Arie.
“Iya Bang. Kemarin Ade lagi ngobrol sama mbak Tiwi karena di bawakan serundeng ini. Kalau enggak ada mbak Tini dan mbak Tiwi, entah jadi apa Ade kemaren,” sahut Vella.
“Eh, Ade sampe lupa belum bilang terima kasih ke ibu. Padahal semalam sempat ngobrol. Nanti malam deh Ade telepon ibu,” Vella lupa. Karena Wiedo juga hanya bertanya bagaimana kondisinya saja.
‘Sedemikian dekat dia dengan keluarga Arie? Padahal mereka baru jadian. Rupanya type keluarga Arie sama dengan keluargaku. Dulu Laras juga langsung diterima keluarga besarku tanpa penilaian buruk sama sekali padahal Laras telah ‘kotor’. Endro bisa menilai kalau keluarga Arie sangat baik.
“Ibu pasti ngertiin kalau kamu lupa Yank,” mereka lanjut makan siang. Sore nanti Endro, Arie dan Vella akan berangkat ke bandara guna bertolak ke Singapore.
Endro sudah menolak pakde Guruh akan mengantar mereka ke bandara. Dia bilang sudah memesan taksi.
“Matur nuwun sanget bantuan dan sambutannya. Maaf kalau saya dan putri saya merepotkan,” Endro pamit.
“Apa nya yang merepotkan. Dan lagi karena hubungan Vella dan Arie kita telah jadi saudara,” sahut pakde Guruh.
“Jangan lupa, bulan depan datang ke pernikahan Tini dan bulan berikutnya pernikahan Lutfi,” bude Nawang mengingatkan Endro.
__ADS_1
“Injih Mbak. Undangannya beritahu Arie saja. Insya Allah sampai kesaya. Kalau ke Vella malah sering ketlingsut,” jawab Endro.
“Ih Daddy mah sukanya nge-nyek anaknya sendiri,” Vella tentu saja protes mendengar daddynya berkata seperti itu. Dan semua tertawa. Mereka senang Vella sudah tak terlihat sedih.
“Pakde, Bude, Vella pamit dulu,” Vella mencium punggung tangan bude Nawang. Dan bude memeluk serta mencium pipi gadis itu.
“Ati-ati yo Nduk,” nasihat bude tulus.
“Pulang dari Singapore ke sini yo Nduk,” pakde mengusap puncak kepala Vella.
“Njih pakde,” sahut Vella.
***
Sejak tadi Ibas mencoba menghubungi nomor ponsel Endro yang tercantum di kartu namanya. Tapi belum bisa dia hubungi. Sejak ribut di ruang dosen tadi, Ibas mencari Vella. Tapi gadis itu tak ada. Teman-temannya bilang gadis itu tak hadir hari ini.
‘Kamu kemana Nak?’ Ibas makin yakin Vella adalah putri Dika dan dirinya.
“Saya pamit pulang,” dengan berat hati Ibas pamit tak mengajar hari ini. Beberapa rekan yang tahu kejadian talak tadi mengerti. Mereka pun mendukung kalau Ibas pulang daripada tak konsen memberi mata kuliah hari ini.
‘Aku terserah, Laras mau dia bawa atau dia tinggal disini. Yang pasti ini rumahku sebelum kami menikah. Jadi ini dan mobil bukan harta gono gini. Dia harus keluar dari rumahku hari ini juga,’ segala macam pikiran berkecamuk dalam pikiran Ibas.
“Mbok, bilang ke ibunya Laras. Hari ini juga dia harus keluar dari rumah ini. Terserah dia mau bawa Laras atau tidak,” Ibas meninggalkan pesan pada pengasuh putrinya. Dia tak akan pernah mau bicara dengan Titie lagi,
“Njih Pak,” tanpa banyak tanya simbok menjawab iya.
***
Vella ambil posisi ditengah antara Endro dan Arie. Dia menyadarkan kepalanya pada sang kekasih. Diantara dua lelaki yang dia cintai. Tapi sekarang dia lebih nyaman bersama dengan kekasihnya.
Karena semalam kurang tidur, belum juga lepas landas Vella sudah tertidur. Arie kasihan, dia tarik badan Vella agar tidur lebih nyaman. Butuh waktu dua jam lebih dua puluh menit dari bandara ke bandara. Bukan dari rumah Jogja sampai ke apartemen milik Endro di Singapore.
“Kalian mau makan malam?” tanya Endro. Tadi di pesawat Vella terus tidur sehingga Arie tak mau makan.
“Aku malas Dadd, nanti sampai apartemen beli pizza aja di seberang sekalian beli buah. Atau bisa beli pasta kalau Abang dan Daddy mau makan ditempat. Aku mah mau langsung masuk kamar aja,” jawab Vella.
“Baiklah. Kita ke resto Italia depan apartemen aja Bang. Take away aja daripada ada yang ngambeg,” sahut Endro. Dia juga penat pikiran.
__ADS_1
‘Entah dari mana aku harus memulai membuka fakta ini,’ itu yang jadi beban pikiran Endro sejak tahu kalau awal bencana ini adalah sikap Ibas yang selalu memandangi Vella.
***
“Kamu tidur dikamar ini Bang. Ini kamar Daddy dan disana itu kamar Vella,” Endro memberitahu letak kamarnya dan kamar Vella. Apartemen ini adalah apartemen sangat lama. Yoyok membelikan sejak Endro kuliah.
Awal kuliah Endro dan Laras menyewa apartemen. Lalu saat ada yang menjual apartemen ini Endro melaporkannya pada Yoyok dan langsung dibeli. Apartemen dengan tiga kamar, ada dapur, ruang tamu yang bergabung dengan ruang keluarga dan gudang kecil. Semua kamar ada kamar mandi jadi tak ada kamar mandi tambahan diluar kamar.
“Ini apartemen kuno. Usianya lebih tua dari usia Vella. Beberapa kali di renovasi secara menyeluruh. Tapi Daddy tak akan berpindah dari sini karena disinilah sebagian hidup dan napas Daddy berada,” Endro memberitahu Arie tentang mengapa dia tetap dibangunan tua ini.
“Kalian makan dan lalu tidur. Besok pagi Daddy akan bicara dengan kalian berdua setelah kita sarapan. Kita sarapan disini, sarapan akan datang jam tujuh pagi. Sudah Daddy pesan. Jadi besok siapa pun yang mendengar petugas delivery datang, kalian terima saja,” Endro langsung masuk ke kamarnya. Dia sangat kalut.
“Ada apa dengan daddy? Wajahnya sangat menakutkan,” bisik Arie.
“Sejak berangkat ke Singapore dia seperti itu. Ade pikir hanya Ade yang sadar perubahan daddy,” jawab Vella.
“Kemarin saat beli baju, Abang sempat tanya mengapa harus ke Singapore. Enggak di Jakarta atau Jogja aja. Daddy bilang kunci masalahmu ada disini. Di Singapore,” Vella tentu kaget mendengar info ini.
Mereka makan dalam diam. Masing-masing sibuk dengan pemikiran masing-masing.
“Dadd …, makan dulu,” Vella mengetuk pintu kamar Endro tapi tak ada jawaban.
“Ya sudah Bang, biar taruh meja saja. Nanti kalau mau makan daddy akan panaskan sendiri dengan micro wave. Sekarang kita tidur aja. Jangan sampai kita ditegur daddy,” Vella pun beranjak menuju kamarnya dibelakang dekat dapur. Sementara kamar Arie dan Endro dekat ruang keluarga.
***
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL WANT TO MARRY YOU YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
*Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE ya**ng kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya*
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta