UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
FIRASAT DADDY AKHIRNYA TERJADI


__ADS_3

Selama ini aku sering mencurigai suamiku main perempuan, karena dia tak pernah memberi attensi padaku sama sekali sejak kami menikah delapan tahun lalu. Hari ini akhirnya aku punya bukti dia selingkuh. Aku melihat banyak foto gadis selingkuhannya di laci meja kerjanya. ~Susyanti Kamiran.~


DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Saya tidak tertarik padamu sebagai seorang lelaki dewasa. Kamu hanya mengingatkan saya pada seseorang dimasa lalu saya. Jangan pernah berpikir kalau saya ingin mendekatimu sebagai pacar atau yang sejenisnya,” bisik Ibas ditelinga Vella yang sedang menyusun lembar jawaban semua temannya.


“Saya saja yang membawa. Kamu silakan keluar. Sekali lagi saya beritahu, saya tak punya niat buruk padamu Nak,” dengan lembut Ibas bicara seperti pada putrinya.


‘Nak?’ batin Vella. Dia memang merasakan getaran aneh bila melihat Baskoro. Walau sering sebal terhadap tatapan mata mendambanya. Tapi ada rasa nyaman yang entah bagaimana sulit dia lukiskan.


Setelah bisikan manis Ibas, Vella merasa nyaman dengan tatapan Ibas. Kadang dia memberikan senyum kecil pada dosennya itu. Rasa nyaman ini tak pernah dia ceritakan pada Arie dan Endro. Karena kedua satpamnya itu super possessive.


Beberapa kali bila menyerahkan tugas atau keluar barengan dari ruang kuliah, Vella menjawab ramah pertanyaan Ibas. Dia hanya mempunyai rasa hormat pada dosennya itu.


“Kamu masih ada kuliah lagi?” tanya Baskoro pada Vella dan Asih.


“Saya masih ada satu jam lagi, kalau Asih masih dua mata kuliah lagi Pak,” sahut Vella sopan. Mereka tidak jalan bersisian karena Asih ada diantara mereka.


Tapi mata Titie tentu tak suka melihat itu. Dari pintu ruang administrasi, istri Ibas itu memandangi suaminya dengan geram.


“Tie, berkas kenaikan pangkatmu kurang lengkap lho ini,” seorang rekan memberitahu Titie.


“Wah koq bisa ya. Aku kabur ke rumah sebentar deh. Kalau ada yang cari bilang aku ke perpustakaan ya,” Titie bersiap mengambil berkas di rumahnya yang memang tak jauh dari kampus.


***


‘Mengapa enggak ada juga ya. Apa disimpan Mamas di ruang kerjanya?’ Titie tak menemukan apa yang dia cari. Dia mencoba masuk kamar kerja suaminya yang ternyata dikunci.


‘Ah, kunci duplikatnya disimpan mamas juga enggak ya?’ Titite mencari kunci ruang baca di kumpulan semua kunci. Dia coba semua kunci dan … yeaaay …, pintu ruang baca itu terbuka.


‘Ini dia, ternyata memang disini,” Titie menemukan berkas yang dia cari.


‘Apa ini? Mengapa banyak sekali foto gadis itu?’ tanpa sengaja Titie melihat beberapa lembar foto ‘VELLA’  tersimpan rapi dibawah berkas dalam laci meja kerja suaminya.


‘Akan aku buat perhitungan pada gadis itu. Ini pertama kali aku melihat bukti mamas menyukai seseorang. Biasanya tiap tahun tak pernah aku temukan apa pun pada semua mahasiswi yang aku curigai.’


Dengn ponselnya Titie membuat foto lembaran itu dalam laci kerja, sehingga terlihat jelas kalau Baskoro memang menyimpan foto itu. Kalau dia hanya membuat duplikat foto saja tentu tak ada bukti. Dia mengatur kalau di pembuatan foto ada tertera kapan foto dibuat.

__ADS_1


Titie keluar dari kamar itu setelah merapikan kembali laci dan berkas yang tadi dia bongkar. Dia juga kembali mengunci pintu kamar.


***


‘Dek,nanti istirahat Mbak tunggu di kantin. Mau kasih titipan ibu untukmu,’ Vella membaca pesan dari Tiwi. Bude Nawang atau bude Ningrum memang sering memberikan makanan untuknya setelah tahu Vella tak suka jajan di luar. Mereka makin mencintai calon menantu adik bungsu mereka.


Kadang ibu Wiedo yang meminta kakak iparnya membuatkan sesuatu untuk Vella. Membuat Vella makin nyaman masuk dalam keluarga besar Arie.


“Iyo Mbak. Habis ini ta’ moro rono,’ balas Vella.


“Kalian habis ini ke kantin?” tanya Vella pada Surti dan Wulan teman sekelasnya kali ini.


“Kamu mau titip apa?” tanya Wulan. Gadis ini tahu Vella jarang ke kantin.


“Enggak aku mau jalan bareng kalian aja. Kakak sepupuku menunggu disana,” sahut Vella sambil merapikan buku kuliahnya dan memasukkan ke dalam tasnya.


“Oh. Ayok. Aku mau kesana,” Surti yang asli Jogja dan hobby makan. Tak pernah jauh dari kantin bila jam pergantian mata kuliah.


“Nah itu Mbakku. Ayok aku kenalkan sama dia,” Vella mengajak kedua temannya menghampiri Tiwi.


“Sudah lama Mbak,” tanya Vella sambil mecium kedua pipi Tiwi seperti biasa.


“Mbak ini teman-temanku,” Vella mengenalkan Wulan dan Surti.


“Mbak ini kan panitia pas pengenalan mahasiswa baru. Iya kan?” tanya Wulan memastikan.


“He he he iya,” sahut Tiwi.


“Dia kakak sepupu calon suamiku,” tanpa ragu Vella memberitahu Wulan dan Surti.


“Beneran Mbak?”: tanya Surti tak yakin.


“Apa dia tukang bohong?” tanya Tiwi malah menggoda Surti.


“Enggak sih,” balas Surti dan Wulan.


“Ya sudah. Kami memang keluarga yang tak suka pacaran. Aku juga hampir dua bulan sudah bertunangan dan Vella datang bersama keluarga besar adik sepupuku,” Tiwi memperlihatkan Vella yang berpose dengan keluarga Arie dan pasangan Tiwi saat dia tunangan.


“Aku kira Vella hanya membual sudah memiliki calon suami,” sahut Wulan.

__ADS_1


“Ini, ibu bikinkan kamu serundeng isi daging kambing. Karena mertuamu ngerengek ibu suruh masakin,” Tiwi menyerahkan satu tupperware cukup besar pada Vella.


“Jadi ini requestnya ibu ke bude?” tanya Vella.  Bukan satu kali aja ibunya Arie melakukan hal ini.


“Itulah kerjaan calon mertuanmu,” jawab Tiwi.


“Bilangin ke bude makasih bangeeeeeeeeet. Dan untuk ibu ( Wiedo ) nanti malam aku langsung telepon. Sekalian telepon adek-adek,” sahut Vella.


Wulan dan Surti makin yakin melihat kedekatan Vella dengan calon ibu mertuanya.


“Kamu!” suara melengking tiba-tiba memecah disiang terik ini.


“Kamu jangan pernah ganggu suami saya! Kalau enggak mampu cari laki-laki mapan, jual diri aja ke om-om. Jangan ganggu suami saya,” tanpa bisa dibendung Titie menuding Vella dengan kata-kata pedas dan menunjuk muka Vella.


“Apa maksud Ibu menuduh adik saya seperti itu?” Tiwi yang sudah tahu track record Titie dikampus ini berani menjawab kemarahan perempuan itu.


“Adik kamu? Dia perempuan sampah yang menggoda suami saya. Lihat, ini kemarin saya lihat foto-fotonya di laci kerja suami saya,” Titie memperlihatkan foto-foto ‘Vella’ di sebuah laci dengan waktu pembuatan foto kemarin siang.


“Ibu yang pakai otak. Kalau foto itu ada di laci suami Ibu, tanyakan ke suami, mengapa dia menyimpan foto-foto candid itu. Bukan melabrak adik saya. Ini sudah kejadian keberapa ibu melabrak mahasiswi? Kalau suami ibu enggak cinta ama ibu, kenapa orang lain yang ibu salahkan?” entah dari mana tiba-tiba Tini muncul membela Vella.


Sementara Vella lemas karena dipermalukan dimuka umum seperti ini. Dia lemas dan sangat terpukul.


Mendengar kata-kata Tini, para mahasiswa dan mahasiswi lama yang tahu kelakuan Titie langsung menyoraki Titie.


“Bener banget, dia yang enggak dicintai suami, orang lain yang disalahin,” banyak dengung seperti ini terdengar. Tak ada satu pun suara menyalahkan Vella. Mahasiswi baru mengetahui Vella gadis yang sangat santun dan tak pernah terlihat genit. Bahkan bicara dengan lawan jenis saja sangat jarang.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  TELL LAURA I LOVE HER   YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2