UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
MELIHAT SEMUA TEMPAT YANG BERKAITAN DENGAN MOMMY


__ADS_3

Ketika semua permasalahan dibuka, maka melihat hal baru pun tak jadi tabu atau mengerikan. Seperti hari ini saat aku diajak napak tilas mengetahui semua hal tentang keluarga mommy-ku. ~Novella Moralleta~


DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Subuh-subuh ada kejutan, Endro datang. Dia dari Jakarta naik kereta sehingga jam empat pagi telah sampai di stasiun Kebumen. Dia salat Subuh di stasiun baru naik ojek ke rumah. Sengaja tak minta jemput agar menjadi kejutan.


“Daddy …,” Vella memeluk daddynya dengan penuh suka cita. Ternyata mengetahui Vella mau week end di Kebumen, Endro langsung mengatur pekerjaannya agar hari Senin bisa berangkat ke Surabaya dari Jogja saja. Dia akan bertemu dengan rekanannya yang dari Singapore. Datang ke Indonesia tapi minta bertemu di Surabaya sebelum rekanan itu ke Bali untuk berlibur.


“My Princess,” Endro mendekap putri kecilnya. Keberadaan Vella yang membuat dia kuat bertahan sepeninggal istrinya. Endro tak bisa membayangkan bila tak ada Vella.


Hari itu Jumat dan esoknya Vella berada dalam lingkup keluarga intinya. Keluarga yang selalu mengayominya dengan penuh cinta. Bahkan Arie masih tetap tak dia hiraukan. Baik pesan mau pun telepon Arie tak lagi dia respon sama sekali.


‘Long week end, kalau dia memang masih seperti dulu, setidaknya dia bertanya apa kami bisa ketemuan. Nyatanya dia tak ada satu kali pun berniat bertemu,’ itu yang Vella tekankan dalam benaknya.


Bagaimana Vella bisa menyimpulkan Arie tak punya niatan menghabiskan week end bersama kalau semua pesan yang dia kirim tak dibaca gadis itu dan semua telepon tak diangkat?


“Kita besok pulang pagi sehabis sarapan ya, Daddy mau tunjukin dimana rumah mommy-mu dan juga rumah ayahmu. Cuma sekedar kamu tahu aja. Biar bagaimana pun dalam darahmu ada darah mereka,” Endro memang berniat ‘memperkenalkan’ keluarga Laras dan Ibas pada Vella.


“Iya Dadd, aku mau,” jawab Vella.


***


‘Mengapa semua pesanku tidak kamu baca? Apalagi kamu respon,’ Arie mengirim pesan ini pada semua messenger media sosial Vella juga pada WA dan SMS ke ponsel Vella. Dia sungguh tak tahu apa alasan Vella menjauh dari dirinya.


Kemarin Arie melihat Vella posting dua punggung lelaki yang akan berangkat salat Jumat dengan caption : ‘dua hero dalam hidupku’.  Dari  backgroundnya Arie tahu itu di rumah Yoyok di Kebumen.


Lalu pagi ini Vella posting daging ayam satu baskom super besar dengan caption : ‘eyang bersiap eksekusi membuat abon ayam.’ Andai sejak hari Rabu Vella merespon dan bercerita dia akan mudik ke Kebumen, tentu Arie juga akan meluncur kesana. Sayang Vella no respon sehingga mereka tak bisa menghabiskan waktu bersama.


***

__ADS_1


“Kita enggak usah mampir rumah mamamu ya, kita napak tilas aja,” Endro sengaja menyetir mobil dengan Vella disisinya. Sopir duduk dibelakang, nanti malam akan membawa pulang mobil kembali ke Kebumen.


“Itu toko sepatu milik eyangmu. Ada tiga toko” Vella melihat toko dengan nama TIGA DARA 1,  dan Endro berputar ke toko TIGA DARA 2 dilanjut ke toko TIGA DARA 3.


“Mungkin itu dipersiapkan untuk tiga anak perempuannya. Daddy kurang jelas karena tak pernah tanya pada mommymu.”


“Kalau kamu datang ke toko itu dan ada eyangmu atau ada salah satu bibi-mu pasti mereka akan kaget melihat Dika kembali.”


“Nah itu, rumah eyangmu, orang tua mommy-mu,” Endro menunjuk sebuah rumah berwarna hijau cerah.


***


“Disini cinta kami bersemi. Tepatnya cinta Daddy ke mommy-mu. Walau dia terus menolak, tapi Daddy tetap mendekatinya sebagai sahabat. Tak pernah ada rasa marah ketika dia pergi pacaran dengan ayahmu. Daddy merasa bahagia bila dia bahagia. Cinta Daddy sederhana seperti itu. Tak perlu berbalas,” Endro berhenti di sebuah SMA.


“Rumah ayahmu tak jauh dari sekolah, kita mutar lewat jalur ini,” Endro menuju arah rumah Baskoro.


“Pak Baskoro ada di rumah orang tuanya Dadd,” Vella melihat mobil Ibas ada didepan rumah yang pagarnya terbuka. Dia melihat ada seorang tua dengan anak perempuan berumur sekitar tujuh tahun.


“Mungkin itu Laras, anak pak Baskoro dengan istrinya,” Vella memberi penilaian apa yang mereka lihat.


“Kamu tahu dari mana?” pancing Endro. Dia tahu putrinya menyimpan rahasia. Tak mungkin dua minggu setelah kembali dari Singapore tak ada kejadian apa pun.


“Aku beberapa kali ngobrol dengan pak Baskoro. Dia cerita tentang betapa dia mencintai mommy dan memberi nama anaknya Larasati. Tapi aku belum cerita apa pun tentang aku dan mommy. Aku masih pengen tahu semuanya dulu Dadd,” jawab Vella jujur.


“Apa kamu enggak takut dilabrak Titie lagi?” tanya Endro.


“Ibu dan para bude sudah membuat aduan atas kasus itu Dadd. Sebelumnya aku sudah tantang Titie di ruang dosen. Aku bilang ditunggu bukti perselingkuhanku dengan Baskoro agar daddy segera menyerahkan tiga perusahaan milik daddy,” sahut Vella dengan senyum usilnya.


“Artinya kamu punya adik satu ayah?” tanya Endro.


“Sepertinya begitu,” jawab Vella.


“Lalu bagaimana sekarang kasus Titie yang sudah budemu urus itu?”

__ADS_1


“Dia menghilang Dadd, dari rumah pak Baskoro dia diusir, jadi saat polisi mencari, dia sudah tak ada disana. Nah di rumah orang tuanya juga enggak ada. Malah orang tuanya semaput kala tahu kelakuan putrinya yang terjerat kasus hukum,” jawab Vella.


“Kalau masih bisa ditempuh jalur damai, mending jalur damai saja. Karena kalau sampai harus persidangan, kalian semua para korban harus membuang waktu dan tenaga menghadiri sidang,” sahut Endro.


“Masalahnya yang bikin pengajuan kasus kan bukan aku. Ya aku enggak berani kasih saran seperti itu. Mereka bertiga itu ahli hukum Dadd. Apalah aku yang baru bulan kedua di semester satu ini?” Vella yakin ibu dan kedua bude juga hanya akan membuat efek jera pada Titie.


‘Iya juga ya. Ibunya Arie itu sudah master hukum. Dan bude Ningrum profesor. Mereka bukan perempuan ecek-ecek dibidang hukum,’ batin Endro membenarkan apa yang Vella katakan.


Endro langsung mengantar Vella ke rumah kostnya setelah mereka makan siang terlebih dahulu.


“Kita ngopi sik yok Pak,” Endro mengajak drivernya untuk ikut turun di rumah kost Vella. Masih cukup waktu untuk mereka santai sebelum berangkat kembali ke bandara.


Vella menurunkan barang bawaannya. Segala macam bahan makanan Kamila bawakan untuknya termasuk beras.


Vella makin sadar mengapa sejak kecil eyangnya mengajarkan dia pekerjaan perempuan. Dia tahu kalau eyang dari mommynya sama sekali tak pernah mengajarkan anaknya pekerjaan perempuan sama sekali.


Untung mommynya bertemu dengan keluarga Suroyo Mulyo yang mau menerima semua keburukan dan kekurangannya. Bila keluarga lain, Vella tak bisa membayangkan apa jadinya nasib sang mommy. Yang sudah kotor, tak becus jadi perempuan pula.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  WANT TO MARRY YOU  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETIN JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL WANT TO MARRY YOU  ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2