
Aku hanya ingin tahu, sampai kapan dia sadar kalau semua yang dia lakukan kemarin adalah salah. Aku tidak marah, hanya berupaya mendidiknya agar dia bisa bersikap dewasa. ~Ashoery Rustamaji~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
‘Abang sudah di bandara. Maaf. Jaga dirimu baik-baik!’ tulisan ‘datar’ tanpa kehangatan dan tanpa kata cinta. Vella membaca dengan tidak percaya kalau Arie langsung berbuat seperti itu.
Vella menangis. Dia tahu Arie sangat marah dan terluka karena dia tak percaya pada lelaki itu. Arie bahkan tak mencari alasan mengapa dia mendadak pulang. Saat ini Vella merasa dia sendirian di muka bumi.
Sejak siang Vella tahu kalau Arie menghubungi Risye mencari nomor ponsel Helmi. Dan Vella tahu Arie mendapat nomor Helmi dari alumni. Artinya Arie mencari kemana pun agar bisa menghubungi Helmi.
“Kata kak Harllo, kamu jangan bikin Helmi jadi samsak kak Arie. Dia pemegang medali emas taekwondo di PON mewakili DKI,” siang tadi Risye menghubungi Vella.
Mereka ngobrol cukup lama. Saat itu Vella sudah dirumah, ponsel sudah ada ditangannya dan Arie sudah pulang.
Malam ini Vella kembali menghubungi Risye, dia bercerita kalau Arie sudah kembali ke Jakarta tanpa pamit, hanya membaritahu saja.
“Kak Harllo pikir kak Arie pulang agar Helmi selamat. Karena bisa jadi Helmi jadi bangkai dia hajar. Mungkin juga kak Arie pulang agar dia tak marah padamu dan Helmi,” Risye terus saja bicara.
“Memang aku yang salah. Aku yang tinggalin kak Arie. Aku yang ajak Helmi kabur dan makan siang. Kalau kak Arie tidak menghubungi Helmi, aku yakin kami akan ngelayab hingga sore,” jawab Vella dengan rasa bersalah.
“Sebaiknya kamu menjaga jarak dengan Helmi. Aku yakin satu kali lagi kak Arie tahu dari siapa pun kalau kamu dan Helmi jalan bareng, nasib Helmi akan kelam. Jaman sekarang siapa pun bisa kirim foto yang belum tentu benar,” Risye memberi saran untuk Vella.
“Kemarin sebelum kejadian ini aja dia sudah larang aku enggak boleh banyak mata kuliah bareng Helmi. Lebih-lebih sekarang. Aku enggak bakal berani lah ambil resiko pilih mata kuliah bareng sama Helmi,” Vella ingat larangan Arie kemarin
“Sabar ya Vell,” Risye memberi nasehat pada Vella. Risye sedang di kereta menuju rumah. Awal kuliah ini dia tidak kost di Bogor.
Sampai tengah malam tak ada pesan apalagi telepon dari Arie. Lelaki yang telah bertekad tak mau punya mantan itu seperti sedang bersemedhi. Tak ada postingannya di media sosial atau jejak apa pun.
***
Arie termenung dalam kamar. Dia tak ikut pakde salat Maghrib di masjid. Bahkan salat Isya pun dia lakukan sendirian di kamar. Dia masih di Jogja. Bahkan dia telah meminta Harllo membantunya mendaftar program co ***. Dia tak ingin meninggalkan Vella sendirian saat awal kuliah seperti sekarang.
__ADS_1
‘Kalau Risye tanya, bilang gue di rumah, enggak mau keluar. Gue enggak mau Vella tahu gue masih di Jogja,’ Harllo membaca pesan dari Arie.
Harllo penasaran lalu dia menghubungi adiknya. Itu sebabnya dia memberitahu kalau Vella harus menjauhi Helmi bila tak ingin Helmi gepeng jadi dendeng.
Helmi sendiri ketakutan karena banyak teman yang bertanya padanya, mengapa Arie mencari dirinya. Dia berbuat salah apa hingga provost langsung ingin menghajarnya.
Helmi sadar telah mengusik macan tidur, dia berjanji tak akan mau mengambil resiko. ‘Aku akan meminimalisir pertemuanku dengan Vella. Aku akan mengambil mata kuliah yang berbeda dengannya agar kebersamaan kami tidak berakibat buruk bagi hidupku nanti.’
Helmi bukan tak mau berjuang mengejar cintanya, dia berpikir panjang bila dia celaka. Siapa yang akan meneruskan usaha ayahnya? Sementara tiga adiknya perempuan semua. Itu sebabnya dia mengambil kuliah di fakultas hukum agar dia memimpin dengan power. Untuk ilmu ekonominya dia juga akan ambil kuliah di universitas swasta di Jogja ini.
Helmi memang akan kuliah di dua bidang yang sangat dia butuhkan demi masa depannya.
***
Vella bangun dengan kepala sedikit pening. Semalam dia tidur larut dan tidak makan sama sekali. Eh dia makan, bukan makan berat, hanya makan rujak super pedas! Untung Vella ada rendang bawaan mamanya, kemarin dia juga sempat beli gudeg, sambal goreng krecek dan ayam.
Sehabis salat Maghrib kemarin Vella sempat masak nasi. Subuh tadi dia masukkan gudeg dan sambal goreng krecek secukupnya untuk dia makan pagi ini. Lalu dia membuat sereal coklat dan segera menghabiskan minumannya itu.
‘Sugeng enjang Abangnya Ade,’ Vella berniat mengirim salam pagi. Tapi akhirnya dia hapus.
‘Abang sampai rumah jam berapa. Koq enggak ngabarin Ade?’
‘Abang marah?’
Tapi semua itu tak jadi dia kirim. Kesal memikirkan apa yang harus dia lakukan, Vella memilih mandi dan bersiap akan berangkat. Dia lupa belum belanja kebutuhan cemilannya untuk dia belajar, juga sussu cair rasa coklat siap saji yang memang selalu ada dalam kulkas di rumahnya. Biasa dia beli dalam kotak besar.
‘Aku harus sarapan dulu. Bukan soal irit bila harus pagi siang malam beli makanan matang. Tapi aku enggak suka. Uang buat daddy bukan masalah,’ Vella yang sudah rapi mengambil piring dan sendok lalu membuka tutup majic jar.
Dia angkat bagian atas yang berupa plastik putih untuk meletakkan bahan yang ikut ditaruh dalam majic jar agar tidak menempel di nasi.
Lalu baru Vella menyendok nasi secukupnya. ‘Aku harus berangkat walau pening. Ini akibat aku enggak makan dan tidur lambat. Sesudah sarapan pasti peningku hilang.’
‘Kamu mau daftar mata kuliah jam berapa?’ sambil makan Vella ingin mengirim pesan pada Helmi. Tapi dia urungkan. Dia ingat nasehat Harllo lewat Risye.
__ADS_1
‘Aku harus mandiri!’ tekad Vella.
Vella mengunci pintu kamarnya, helm ada ditangan kirinya sedang kunci motor ditangan kanan. Tak pernah dia kantongi ponsel. Ponsel ada ditasnya.
Vella memarkirkan motornya. Dia tak tahu kalau ada dua pasang mata yang sejak dia masuk parkiran mengamati semua perilakunya. ‘Bismillah. Aku pasti bisa,’ doa Vella. Dia langsung masuk ke ruang dosen untuk mencari dosen pembimbing akademiknya.
“Selamat pagi Bu, bisa saya tahu dimana saya bisa bertemu dengan ibu Rahayu Dewi?” tanya Vella sopan.
Titie memandang Vella dengan pandangan tajam. ‘Gadis ini ‘kan yang kemarin dicari mas Ibas?’
“Siapa namamu?” tanya Titie. Dia ingin memastikan jati diri gadis didepannya ini.
“Saya Novella Moralleta Bu, ini kartu mahasiswa saya,” Vella memperlihatkan kartu mahasiswa miliknya.
“Itu, ibu yang pakai kaca mata bergaun hijau. Beliau bu Rahayu,” Titie memberitahu yang mana dosen PA nya Vella.
“Baik Bu terima kasih,” sahut Vella. Dia menunggu kartu mahasiswanya dikembalikan.
“Silakan,” ucap Titie tak acuh.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL CINTA KECILNYA MAZ YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1