
Sampai saat ini cintaku masih untuk untuk Andika. Hanya nama dan wajahnya yang ada di hatiku sampai kapan pun. Perempuan pertama yang aku cintai dan aku sentuh secara utuh. Selain Dika, dulu aku tak pernah berhubungan badan dengan siapa pun.
Kalau sekarang ada nama dan wajah perempuan lain, itu hanya nama diatas kertas. Tak ada di hatiku. Dan dia perempuan kedua yang aku sentuh. Tapi aku menyentuh hanya karena bukti baktiku untuk ayahku saja. ~Baskoro Gunawan~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Ternyata rumah sepi. Mama dan mbak Nungki serta kedua keponakannya sedang pergi belanja. Hanya ada papanya saja yang sedang membongkar tempat alat-alat pertukanagn milik mas Bagas untuk dia bereskan. Papanya memang tak bisa diam. Selalu ada saja yang ingin dia kerjakan.
“Kenapa Papa enggak ikut belanja?” tanya Vella penasaran setelah dia membersihkan diri.
“Yang ada Papa cuma bagian jaga Bayu dan Bima saat mamamu dan mbak Nungki belanja. Mendingan di rumah daripada ngejar-ngejar anak kecil dua itu. Kalau suruh ngejaga mereka di rumah Papa enggak keberatan,” sahut Pras ringan. Dia tahu kedua cucunya bila di lokasi terbuka sangat aktiv. Dan tubuh tuanya sudah tak mampu untuk mengejar mereka berdua.
Hingga selesai makan malam Arie masih menanti respon Vella. Gadisnya itu tak memberitahu suka atau tidak terhadap hadiah yang dia berikan.
‘Apa aku harus menanyakannya? Atau tunggu besok saja?’ Arie makin galau. Dia bingung harus bagaimana. Dia memang belum pernah pacaran. Walau ketika temannya ada masalah dengan pacar mereka dia bisa memberi saran. Giliran dia sendiri yang ada persoalan dia bingung.
“Iya Sih?” bunyi telepon masuk merusak lamunan Arie, dia langsung menjawab telepon dari sahabatnya itu.
“Sepertinya konsep kemarin harus sedikit diubah,” Asih memberitahu apa tujuannya menghubungi Arie.
“Kita bicara bertiga aja, masukin Harllo ke sini biar enggak dua kali bicara,” Arie ingin mereka langsung bicara dalam group saja.
“Yups, ada apa?” tanya Harllo yang baru masuk ke pembicaraan group.
“Ini yang kamu revisi tadi, bisa kamu aja yang ngejelasin ke Arie enggak biar lebih detil?” Asih bicara lembut bila ditujukan ke Harllo.
Harllo mengerti apa yang Asih maksud, dia lalu memberitahu kondisi di lapangan pada Arie dan itu membuat semua data yang ada pada mereka harus disesuaikan.
“Gitu Rie, jadi elo tahu ‘kan kenapa gue telepon ke elo?” Asih ber lo gue kalau ke Arie, sementara kalau ke Harllo dia ber aku kamu.
__ADS_1
“Harusnya sih enggak perlu minta persetujuan gue. Tinggal ubah aja sesuai kondisi lapangan, lalu kasih tahu gue. Bereskan?” Arie berpikir kalau soal penyesuaian data tak jadi masalah karena memang diperlukan untuk mensinkronkan dengan kondisi lapangan.
“Elo kalau enggak dikasih tau duluan nanti elo ngomel kaya ceweq PMS,” goda Harllo.
“Kalian tu sukanya menindas kaum duafa kayak gue,” Arie membully dirinya sendiri dengan mengatakan dia duafa. Memang pembicaraan mereka sering absurd.
Akhirnya percakapan mereka mampu membuang kegundahan Arie yang sedang menanti respon tentang hadiah yang dia berikan pada Vella.
***
Di kota Jogja, di kampus yang pernah terkenal dengan film cintaku di kampus biru, Baskoro seorang dosen senior di fakultas hukum sedang memandang foto kekasih yang tak pernah bisa dia temui sejak mereka lulus dari sebuah SMA di Kutoarjo. Kota kelahirannya. Kota kecil di propinsi Jawa Tengah.
Semua foto Laras masih dia simpan dengan baik. Baik di ruang buku rumahnya mau pun di laci meja kerjanya di kampus. Dia tak berani menyimpan didompetnya karena istrinya sering mengecek isi dompetnya.
Baskoro sudah menikah. Sepuluh tahun lalu. Karena adik-adiknya sudah menikah, maka sang ayah memaksanya menikah. Akhirnya dia menikah dengan perempuan yang sejak lama mencintainya. Seorang staff tata usaha di kampusnya. Susyanti atau yang biasa dipanggil TITIE.
Tak ada cinta dari pihak Ibas. Dia menikah hanya untuk menyenangkan ayahnya saja. Dari pernikahan itu Ibas mempunyai seorang putri berusia tujuh tahun yang sekarang duduk dikelas dua SD.
Larasati nama yang Baskoro berikan pada putrinya. Dia gunakan nama itu untuk mengenang Andika Larasati perempuan yang tak bisa tergantikan dalam hatinya.
Di rumah Ibas hanya bicara pada Laras. Kadang dia memerintah asisten rumah tangga yang memang mengasuh Laras sejak bayi. Tapi tidak pada Titie. Dia hanya bicara pada Titie bila sedang dipertemuan keluarga atau di depan kerabatnya di kampus. Karena mereka masih satu atap yang sama yaitu di fakultas hukum.
FLASH BACK ON
“Pak, ini ada undangan dari bu Dekan,” seorang staff administrasi fakultas hukum menyodorkan undangan ngunduh mantu pada Baskoro.“Letakkan saja di meja,” jawab Baskoro tanpa mengangkat wajahnya. Dia sedang mempersiapkan buku untuk memberi kuliah di kelas berikutnya
“Apa Bapak akan hadir?” tanya staff itu dengan berani. Sudah beberapa kali dia menerima penolakan dari Baskoro, tapi sayang dia sudah jatuh cinta pada dosen muda berkacamata itu.
“Saya hadir atau tidak apa perlu diberitahu lewat kamu ke bu Dekan?” jawab Baskoro. Dia saat itu sedang galau karena ayahnya selalu saja menekannya untuk menikah karena sudah dilangkahi oleh adik-adiknya.
“Bukan itu maksud saya. Kalau Bapak mau hadir, kita bisa datang bersama,” sahut staff yang bernama panggilan Titie itu.
__ADS_1
“Saya tidak ingin datang ke undangan itu berdua dengan kamu,” Baskoro tetap ketus.
“Kalau enggak mau datang ke undangan berdua, gimana kalau kita bikin undangan berdua?” tanya Tiite tambah tak tahu malu.
“Apa maksudmu?” sekarang Baskoro memandang perempuan kecil didepannya. Tubuhnya kecil seperti Laras kekasihnya. Tidak cantik apalagi manis. Itu pendapat pribadi Baskoro.
“Kita nikah Pak. Jadi kita yang bikin undangan untuk orang datang,” sahut Titie dengan wajah tak bersalah.
“Deal. Kita nikah!” sahut Baskoro cepat. Ini solusi dari persoalannya.
“Ingat, saya tak pernah menyayangi kamu, apalagi mencintai. Kalau memang kamu mau menikah dengan saya, saya akan nikahi. Tanpa cinta dan tanpa keterikatan. Saya menikah hanya karena permintaan ayah saya saja,” dengan datar Baskoro berkata pada Titie yang ada di ruangannya.
Titie yang sekarang terbengong. Dia tak percaya tindakan spontannya akan berbuntut seperti ini.
“Satu minggu lagi orang tua saya akan melamar kamu. Kita menikah tanpa pesta karena saya tidak suka. Itu keputusan terakhir saya bila kamu bersedia,” Baskoro langsung meninggalkan ruang dosen untuk kembali memberi kuliah.
Entah apa pertimbangannya, Titie menerima semua ucapan Baskoro.
Dan pernikahan tanpa rencana terjadi dua bulan sejak percakapan tak sengaja itu. Titie sangat bahagia bisa menang dari banyak gadis cantik yang mengharapkan cinta Baskoro. Tapi sesungguhnya kehidupan gelap ada didepan matanya.
Banyak dosen muda dan mahasiswi yang tak yakin kalau Titie bisa menggandeng Baskoro ke pelaminan. Karena tak pernah melihat keduanya dekat. Apalagi jalan bareng. Bahkan sejak menikah saja Baskoro jarang mengajak Titie pergi dan pulang kerja bareng. Titie tetap menggunakan motornya sedang Baskoro dengan mobil pribadinya.
\==========================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG DENGAN JUDUL NOVEL BETWEEN QATAR ANDA JOGJA YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta