UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
JADAH BAKAR


__ADS_3

Rasanya pupus sudah harapanku. Semakin hari aku melihat ‘legalitas’ kak Arie dalam keluarga Vella jelas sudah terdaftar. ~Helmi Muchlis Tanjung~


DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Tadi kamu pasti enggak makan siang kan. Sekarang kita bersiap salat lalu keluar makan yok,” ajak Arie.


“Enggak usah, aku masih ada nasi cukup buat kita berdua. Ada gudeg dan rendang. Nanti aku tambah goreng nugget aja,” sahut Vella. Dia berjalan menuju kulkas untuk mengambil rendang dan nugget. Rendang dia taruh diatas nasi agar hangat. Dan dia menggoreng nugget.


‘Gadis lain dengan uang berlebih sepertimu tak akan mau memasak buat sendirian. Kamu mah malah milih masak daripada jalan keluar ama pacar,’ Arie memuji kekasihnya.


Adzan terdengar saat Vella selesai menggoreng nugget. Dia langsung bergegas wudhu.


“Besok kegiatanmu apa?” tanya Arie.


“Enggak ada. Kalau yang tadi belum selesai pendaftaran mata kuliah, besok masih pendaftaran. Aku masuk hari Senin untuk program pengenalan mahasiswa baru,” jawab Vella.


“Jadi libur lima hari?” tanya Arie memastikan.


“Iya,” Vella mengambil kerupuk lagi. Mereka memang sedang makan malam.


“Kita ke Kutoarjo satu hari, lalu ke Kebumen yok? Abang pengen kenal eyang kalau kamu ngebolehin. Sama mama dan papa kan udah kenal. Sama eyang kakung kemaren enggak ‘kenalan’ karena cuma ngomong selintas,” Arie menawarkan mereka mengisi liburan ini ke Kebumen.


“Abang kan hari Kamis harus daftar co ***. Jangan ngawur ah,” Vella tentu suka Arie mengajak ke Kebumen. Tapi dia juga ingat kekasihnya ada jadwal penting hari Kamis.


“Abang sudah kirim  pendaftaran via email, dan Harllo akan memparaf berkas Abang,” sahut Arie.


“Serius lho ya? Ade enggak mau kuliah Abang terhambat gara-gara Ade,” jawab Vella.


“Cie …, takut enggak cepet dilamar ya?” goda Arie.


“Kalau Abang enggak cepet lamar, Ade nerima orang yang duluan ngelamar aja,” jawab Vella ngasal.


“Jangan suka asal ngomong. Enggak baik,” jawab Arie.


“Besok pagi jam enam Abang kesini ya, kita sarapan langsung meluncur,” Arie menetapkan mereka akan jalan sejak pagi.


Tak lama setelah membantu Vella mencuci piring bekas mereka makan, Arie pamit pulang. Dia tak ingin Vella kelelahan karena besok mereka akan berangkat sejak pagi hari.


***


‘Itu bukannya Helmi?’ Vella hanya berani membatin saja. Dia tak berani mengatakan, apalagi menegur teman satu SMA nya itu.

__ADS_1


“Kamu enggak perlu bermusuhan dengan Helmi, tapi jangan dekat,” Arie yang juga melihat Helmi langsung memberitahu Vella kalau dia tak melarang Vella kenal dengan Helmi.


“Iya Bang,” sahut Vella.


“Abang mau makan apa? Biar aku pesankan,” tawar Vella.


“Beli jenang ( bubur ) aja satu piring Yank. Lalu lauknya satu piring terpisah,” sahut Arie.


Vella memesan sambal goreng krecek tanpa tahu dan tiga kepala ayam dan ayam suir ditaburi santan kanil ( santan kental yang menggumpal ). Arie mengambil empat kerupuk dan tiga sate usus di piring lainnya. Mereka lalu duduk di lesehan.


“Hai, makan disini juga,” Arie menegur Helmi yang baru mulai makan.


“Eh iya Kak, saya sudah makan duluan nih,” Helmi mengangkat piringnya.


“Silakan,” sahut Arie lalu dia dan Vella duduk ditikar agak jauh dari Helmi tapi berada dibagian depan Helmi sehingga Helmi bisa dengan jelas melihat apa yang mereka lakukan.


Arie mengambil piring jenang, dia masukkan sedikit sambal goreng krecek. Dia mulai makan dan menyuapi Vella. “Kepala ayamnya pegang sendiri ya Yank.”


Vella menyuapi Arie kerupuk. Lalu sate usus. Semua ada dalam pandangan Helmi.


“Kak, daddy video call,” Vella memberitahu Arie.


“Angkatlah,” sahut Arie santai.


“Assalamu’alaykum Dadd,” Vella melambai pada Endro yang masih di Singapore.


“Ini Abang Dadd,” Vella mengarahkan ponselnya ke arah Arie.


“Assalamu’alaykum Dadd. Saya enggak jadi pulang. Habis sarapan kami mau ke Kutoarjo, menginap satu malam lalu besok kami ke Kebumen. Menginap dua atau tiga malam tergantung Vella,” sahut Arie.


‘Jadi kak Arie disini memang atas izin orang tua Vella. Bagaimana aku mau menembus sampai bisa dekat dengan orang tua Vella seperti kak Arie?’ Helmi merasa makin kalah.


“Lalu kamu kapan kembali ke Jakarta?” tanya Endro penasaran.


“Sampai Ade selesai program pengenalan mahasiswa baru Dadd. Abang bilang takut Ade ada kesulitan saat perkenalan itu,” Vella yang menjawab dan wajahnya didekatkan pada wajah Arie agar mereka berdua bisa satu frame terlihat oleh Endro.


“Apa kalian sudah bilang mau datang ke mama dan eyang?” tanya Endro. Dia takut salah bicara memberitahu kedatangan sejoli itu pada bibi dan ibunya.


“Belum Dadd, jangan beritahu mereka ya. Enggak surprise kalau kami beritahu,” dengan manja Vella memohon ayahnya tak membocorkan kejutannya untuk mama dan eyangnya.


“Abang bawa mobil? Atau naik apa ke rumah mama?” tanya Endro.


“Iya Dadd, pakai mobil Mas Lutfi, anak pakde Guruh,” sahut Arie.

__ADS_1


“Hati-hati ya. Kabar-kabari Daddy terus ya Bang. Assalamu’alaykum,” Endro langsung menutup telepon.


“Ih Daddy enggak pamit aku. Dia kalau udah ngobrol ama Abang pasti gitu,” Vella kesal pada Endro dan Arie.


“Ha ha ha, jangan ngambeg. Ayo makan lagi,” Arie kembali menyuapi Vella.


Tak kuat melihat kemesraan mereka, Helmi langsung membayar apa yang dimakannya dan pulang tanpa pamit.


***


“Assalamu’alaykum Mbok, mama dan papa ada?” tanya Vella begitu sampai rumahnya di Kutoarjo.


“Den ayu Vella. Walah tambah ayu. Bapak wonten teng wingking den ayu. Ibu saweg tindakan teng peken,” simbok yang ditanya oleh Vella menjawab dengan bahasa Jawa. Dia mengerti bahasa Indonesia, tapi kalau bicara kaku.


Simbok lebih enak menggunakan bahasa Jawa saja. [ Den ayu Vella. Walah tambah ayu. Bapak wonten teng wingking den ayu. Ibu saweg tindakan teng peken = Tuan putri Vella. Tambah cantik saja. Bapak ada di belakang. Ibu sedang pergi ke pasar ].


“Ayo Kak langsung ke belakang,” Vella menggandeng tangan Arie mengajaknya ke belakang.


“Assalamu’alaykum Papaaaaaa …,” Vella langsung memeluk papanya.


“Ya ampun anak gadis Papa. Sama siapa kamu kesini. Bagaimana kegiatan kuliahmu?” tanya Prasojo. Kaget bercampur bahagia.


“Sama Abang. Aku libur Pa. Masuk lagi hari Senin,” sahut Vella dengan manjanya.


“Assalamu’alaykum Pa,” sapa Arie.


“Wa’alaykum salam. Sini duduk Rie,” Pras mengajak Arie duduk.


Vella masuk ke dapur dan melihat ada apa yang bisa dia hidangkan. Dia lihat ada jadah atau tetel ( di Jakarta atau Jawa Barat disebut ULI ).


“Mak, ini ada serundeng pedes manise ora?” tanya Vella.


“Wonten Den ayu,” jawab si Mak yang ditemui Vella di dapur. [ Wonten Den ayu - ada tuan putri ].


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  TELL LAURA I LOVE HER  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2