
Sudah dua hari Ardi tidak bertemu atau berkomunikasi dengan Tya. Mereka menjalani masa pingitan sebelum besok hari pernikahan mereka. Ardi menjadi uring-uringan karena ponselnya disita ibunya jadi dia tidak bisa menghubungi Tya dan Tya pun begitu. Ardi sudah meminta ponselnya pada ibunya tapi ibunya tetap tidak memberikannya. Seperti halnya kemarin hari ini Ardi merengek seperti anak kecil supaya ibunya memberikan ponselnya.
Ardi menghampiri ibunya yang sedang memasak di dapur.
" Bu, kembalikan ponsel Ardi ya " rengek Ardi pada ibunya.
" Nggak " jawab Bu Dewi.
" Ardi mohon bu sebentar aja. Buat nelpon Tya aja nanti langsung Ardi kembalikan lagi sama ibu. Ardi janji deh bu " ucap Ardi masih memohon pada ibunya.
Bu Dewi hanya tersenyum melihat tingkah anaknya yang tidak kuat menahan rindu pada calon istrinya. Bu Dewi tidak menghiraukan Ardi dan melanjutkan memasak.
" Kamu ngapain Ar ?" tanya Mas Andi melihat adiknya berada di dapur.
Ardi tertunduk lesu tidak menghiraukan Mas Andi. Ardi hanya fokus memikirkan bagaimana ibunya mau mengembalikan ponselnya.
Mas Andi mengambil air putih kemudian menghampiri Bu Dewi.
" Ardi ngapain bu?" tanya Mas Andi pada Bu Sari.
" Gak tahan menahan rindu. Minta ibu kembalikan ponselnya " jawab Bu Dewi.
Mas Andi pun langsung tergelak, tidak pernah dia melihat adiknya seperti itu.
" Ketawa aja terus mas " ucap Ardi kesal.
__ADS_1
Mas Andi bukannya berhenti malah semakin tergelak melihat adiknya begitu kesal.
" Ponsel Tya kan juga disita sama ibunya. Gimana kamu bisa hubungin dia " ucap Mas Andi setelah berhenti tertawa.
" Kan bisa hubungin ke telpon rumahnya " jawab Ardi masih kesal.
" Terus kenapa kamu gak hubungi Tya pakai telpon rumah? Malah disini minta ponselmu dikembalikan " ucap Mas Andi.
Ardi menepuk keningnya karena tidak terpikir hal itu.
" Kenapa aku gak kepikiran sih" ucap Ardi kemudian langsung berlari menuju tempat dimana telpon rumah berada.
Mas Andi tertawa lagi karena melihat tingkah adiknya. Sedangkan Bu Dewi menggelengkan kepala dan tersenyum sambil memasak untuk makan siang.
Ardi menekan nomor telepon rumah Yola yang memang dia ingat. Panggilan telepon itu terhubung dan akhirnya dijawab.
" Walaikumsalam " jawab Ardi.
" Kak Ardi ya?" tanya seseorang tersebut yang tak lain adalah Khaya.
" Iya, kakak kamu mana?" tanya Ardi.
" Kakak di kamar. Bentar ya aku susul ke kamar " ucap Khaya.
Ardi pun menunggu Khaya memberikan telepon itu pada Tya. Tidak lama terdengar suara dari telepon itu.
__ADS_1
" Halo Assalamualaikum " ucap Tya dari ujung sana.
" Walaikumsalam " jawab Ardi.
" Sayang aku kangen banget " lanjut Ardi.
" Aku juga kangen mas " ucap Tya malu-malu.
Ardi sangat senang Tya juga rindu kepadanya. Walaupun hanya bisa mendengar suaranya tapi itu sudah sedikit mengobati rindu Ardi pada Tya.
" Sabar ya sayang besok kita akan bertemu dan kamu akan menjadi milikku seutuhnya " ucap Ardi.
" Iya mas. Ada yang aku mau tanyakan sama mas " ucap Tya.
" Apa sayang?" tanya Ardi.
" Aku mau memastikan lagi apa mas gak akan malu nanti punya istri seperti aku. Aku gak mau nanti mas menyesal. Aku gak mau juga mas meninggalkan aku. Sebelum terlambat lebih baik sekarang jika mas tidak bisa menerima aku " ucap Tya.
Suara bergetar seperti menahan tangis.
" Sayang dengarkan aku. Aku tulus mencintai kamu dan aku menerima kamu apa adanya. Aku gak akan malu punya istri seperti kamu. Aku bangga akan memiliki istri yang kuat seperti kamu " jawab Ardi.
" Makasih ya mas" ucap Tya dan tangisnya tidak tertahan lagi.
" Aku sangat mencintaimu sayang " ucap Ardi sangat tulus.
__ADS_1
" Aku juga sangat mencintaimu mas " balas Tya.
Mohon bantuan vote, like dan komennya ya π Terima kasih ππ